Menu Close

Miwiti Rabu Legi, Masani Nagari

10Shares

Media sosial rame oleh jarkom, maupun postingan gambar, juga poster-poster cantik dek Putri ‘lembayung’ Marino.  Sebuah film sukses dibioskop, kemudian tayang secara gratis (namun mbayar) pake kuota di gawai anda. Sultan Agung.

Diceritakan kurang lebih seperti sejarah di SD-SD yang normatif dan penuh hasrat penyerbuan dan penyerangan. Tak jadi masalah terkadang kisah-kisah peperangan memang lebih heroik disajikan dalam perang-perang. Ada banyak hal yang tersaji menarik dalam film ini, lalu apa yang memikat kalian? Sejarah? Gambar epic pemandangan bukit Menoreh? Atau malah Lembayung yang mbulan dadari itu?

Selain dari banyak postingan dimedsos soal film yang katanya “bersejarah” ini, saya mungkin di banyumili selanjutnya ingin nulis soal prekuel Game Of Mataram Throne yang saya tulis kemarin. Dari situlah akhirnya jika berbicara soal Mataram memang harus dari ujungnya. Terutama Susuhunan Agung ini. Tapi kapan-kapan rek. Mari kita fokus ke film Sultan Agung.

Pertama-tama memang harus saya aturkan terimakasih pada Bendoro Raden Ayu Mooryati Soedibyo, yang mau memproduseri film ini. Atas sumbangsihnya cucu dari Susuhunan Pakubuwono X ini masih mau nguri-nguri sejarah dengan jalannya sendiri yang kali ini dituangkan dalam film. Media film ini termasuk yang masih relevan untuk menjangkau anak cucu agar tidak melupakan sejarahnya sendiri dengan cara yang menarik dan tak membosankan. Harapannya penanaman secara bawah sadar lewat film ini memantik penonton untuk mengulik lagi masa lalu demi harapan-harapan masa depan.

Memang tak bisa dibantah oleh para kritikus film yang akademis nan nyejarah sangat mungkin akan nyacat ini film karena objektivitas kesejarahannya. Tapi ya memang itu tugas kritikus, mengkritik! Di beberapa part memang diragukan soal keabsahan sejarahnya dari mulai Dek Lembayung, Turah, Seto dan tokoh-tokoh padepokan lainya. Tapi letak kritik ini memang diperlukan, supaya film tidak terlanjur menjadi sumber sejarah. Film hanya gerbang pembuka, manusia yang harus terus menelusurinya lewat teks-teks.

Mengapa film sejarah? Saya setuju dengan Prof. Ariel Heryanto yang penelitiannya dipublikasikan dalam buku Identitas dan Kenikmatan. Bagaimana sebuah film adalah korelasi antara ingatan mayoritas, harapan, juga mengisi relung-relung kosong. Sebuah film berkaitan langsung antara memproduksi ingatan akan sejarah, namun pihak produser juga tak mau rugi sejarah yang diangkat adalah sejarah populer, yang menimbulkan keingintahuan, atau jawaban visual atas berbagai pertanyaan. Sebut saja film Gie, Kingdom Of Heaven, Indonesian Calling, atau kisah Narcos  Pablo Escobar. Dari sini sebenarnya saya menilai bahwa film Sultan Agung memang dirindukan juga oleh masyarakat.

Dimana di bangku-bangku sekolah dalam pelajaran sejarah selain Diponegoro, penyerbuan ke Batavia (Jayakarta) oleh Prajurit Mataram ini menarik di ingatan, ingatan generasi X Y Z yang hanya membacanya dari teks. Dari situlah muncul kemauan ingin menonton film ini baik di bioskop maupun gratisan. Film kemudian laku dan ditunggu-tunggu dibilik wifi gratisan pula hehe.

Tokoh-tokoh minor dimunculkan dimana dalam sejarah kita paling cuman mengenal Sultan Agung, ki Juru Mertani. Kali ini tokoh pemomong dan pendidik Mas Rangsang (nama kecil sultan agung) dibukakan. Ki Jejer.

Ki Jejer  memang menjadi tokoh sentral dalam menentukan arah masa depan Mas Rangsang, memposisikan diri benar-benar sebagai Begawan. Yang pendidik cantrik dan santri, melatih ilmu kanuragan, sejarah dan ilmu kebatinan, sekaligus menjadi pengayom masyarakat sekitar, melatih bertani, melatih bertempur, mengolah raga menyiapkan psikis dan fisik anak-anak kecil, sampai hal-hal berat seperti ngidung, maca babad, juga tugas-tugas underground seperti menyimpan rahasia-rahasia Keraton guna strategi jangka panjang. Ngabehi itu memang benar-benar diaplikasikan oleh pemimpin sekelas Empu atau Begawan.

Yang menjadi pertanyaan saya soal Ki Jejer ini, apakah Ki Jejer di film ini adalah yang dimakamkan di Desa Jejer, Pleret, Bantul. Yang merupakan anak dari Ki Juru Mertani. Tetapi di film ki Juru Mertani ditampilkan lagi ketika Sultan Agung sudah dewasa, padahal Ki Jejer sudah kasedan jati. Atau ada juru mertani yang lain, semacam menteri Pertanian gitu? Monggo sejarawan bisa balas menjawab.

Pola yang terbaca berikunya adalah bagaimana sebuah momentum memang mempengaruhi sikap manusia di masa depannya.

Bagaimana Sultan Agung sebenarnya belum siap menjadi raja, dan sebenarnya juga bukan yang dijanjikan jadi raja. Tapi Ajal, Momentum membunuh Panembahan Hanyokrowati (bapak Sultan Agung), juga menentukan kelahiran Pangeran Martapura yang “sempurna” fisiknya yang berujung ketidakpuasan alamiah dialami ibundanya hingga puncaknya menagih janji Tahta. Tapi karena sabda pandhita ratu tan kena wola wali, Pangeran Martapura tetap diangkat sebagai Raja Mataram sesuai Janji Hanyokrowati kepada Ibundanya. Hanya sehari. Kemudian terciumlah gelagat pemberontakan atas mataram oleh ibunya, Sultan Agung kemudian mau tidak mau diangkat menjadi Raja.

Berat memang menjalani kondisi psikis seorang Mas Rangsang, yang dalam film kemudian dibumbui adek syantik Lembayung yang dicintainya dipadepokan Ki Jejer. Disisi lain untuk ngrumat balung pisah dijodohkan pula Mas Rangsang dengan anak Bupati Batang yang juga garis keturunan dari Juru Mertani. Cinta memang berat dek.

Timbunan ledakan emosional ini kelak yang akan membentuk watak ambisius Sultan Agung, yang meskipun ilmunya jangkep namun usia muda, dan gejolak yang masih meledak ini mendapat salurannya ketika melawan persekongkolan Pedagang Belanda (VOC). Penyerangan 2 kali ke Batavia dilancarkan memakan banyak korban dari sisi prajurit Mataram. Sisanya bisa kalian pergi ke Serang Banten, kalian akan ketemu manusia yang bisa berbahasa Jawa namun Jawanya beda, konon sisa-sisa prajurit Mataram yang kalah menetap di Serang membuat perkampungan dan menjadi besar disitu. Sub bahasa Jawa, Jawa-Serang.

KLASIFIKASI MANUSIA IMMATERIAL

Yang baru disisipkan di Film ini yang jarang ada di buku-buku sejarah adalah soal Kasta, yang bukan melulu soal trah, tapi adalah semakin dekat atau jauhnya dari keduniawian akan menentukan kualitas kasta seseorang.

Seperti Ksatriya yang tak punya hak milik pribadi, hidupnya dijamin oleh keraton namun pengabdiannya harus total ke masyarakat. Ini menarik, melawan sistem ASN sekarang yang korup dan suka mencari “proyek” untuk diri pribadi bukan mengabdi.

Klasifikasi lain bisa kalian baca di Atlas Walisongonya Mbah Agus Sunyoto. Atau di referensi lain.

Kemudian kekalahan demi kekalahan mengembalikan potensi awal Sultan Agung yang ingin jadi Begawan. Tapi karena keadaan dipaksa menjadi Ksatriya. Sampai akhirnya Mataram Islam muram wajahnya, beliau memilih menepi di Padepokan Ki Jejer, mengolah batin dan mengendapkan rasa yang Sultan Agung menjadi Raja yang Begawan. Ini kualitas pemimpin dunia. Hidupnya banyak dihabiskan untuk ndedher satriya yang disiapkan untuk masa depan Nagari, berpuasa menepi dari kekuasaan untuk kekekalan peradaban. Melanjutkan apa yang sudah dimulai leluhur, dimulai Sunan Kalijaga dst.

Akhirnya banyak sekali khazanah yang didapat, salah satunya adalah Waktu. Bagaimana Sultan Agung Hanyokrokusumo menggabungkan kalender Jawa, Islam dan Masihi menjadi satu putaran. Putaran yang menarik adalah 35-dinan.

Bagaimana pertemuan lima harian Jawa (Legi – Kliwo) dan Islam (Ahad- Sabt) ditemukan dalam dina weton. Yang berulang kembali setiap 35 hari. Siklus waktu setelah jaman Sultan Agung kemudian meluas ditambahi siklus ini. Dan hari Rabu Legi, menjadi awal perputaran.

Akhirnya banyak pelajaran lain yang dipetik, konsep Kepemimpinan Ideal terus berjalan dari Jaman Sultan Agung mengarungi waktu dari detik ke detik.

Selamat miwiti siklus.

Rabu Legi, 20 Februari 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait