Menu Close

Ikhlas dan Lulus

0Shares

Dulu ketika SD, seorang guru agama bernama pak Kailani pernah bercerita kepada saya dan teman sekelas perihal sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. Muhammad terlahir dalam keadaan yatim. Sebelum sang Nabi ‘hijrah’ ke dunia, ayahanda Abdullah (hamba Allah) terlebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Bayi Muhammad diasuh sendiri oleh ibunda tercinta Siti Aminah.

Belum besar benar usia Muhammad, lalu sang ibu menyusul ayahnya ‘bertemu’ Tuhan. Muhammad kecil resmi menyandang status yatim-piatu. Mau tidak mau, Muhammad kecil kemudian diasuh dan dibesarkan oleh sang kakek Abdul Muthalib. Baru merasa krasan, nyaman, hidup bersama Embahnya, tak berselang lama Muhammad harus berpisah dengan sang kakek penyayang itu. Abdul Muthalib dijemput sang maut. Dari asuhan tangan sang kakek, Muhammad kemudian pindah dalam perlindungan dan pengayoman sang paman Abu Thalib. Muhammad menjelang remaja diajari angon (menggembala domba) oleh paman-nya. Juga disamping itu Muhammad diajak berdagang. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari desa ke kota. Dari dalam sampai ke luar negeri.

Pada usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan seorang janda kaya raya bernama Siti Khadijah. Khadijah adalah istri yang setia menemani dan mendampingi Rasulullah dalam membumikan Islam. Seluruh hidup dan harta Khadijah dihibahkan untuk berdakwah di jalan Allah. Namun takdir berkata lain. Disaat Rasulullah memiliki partner yang beriman, baik, kaya, lagi dermawan, yang teguh membantu menyebarluaskan Islam di bumi Arab, Allah pun tak segan ‘nimbali’ Khadijah. Khadijah wafat dipangkuan Rasulullah, dan airmata beliau tumpah mengiringi kepergiannya.

Adakah yang lebih memilukan, melebihi kisah hidupnya sang Baginda Muhammad Saw? Kehilangan demi kehilangan terus dialaminya. Satu per satu orang yang mencintainya gugur, pamit meninggalkannya.

Hingga sekian lama, kisah itu sebatas kisah. Hanya sekadar menjadi pengetahuan, tidak diolah menjadi ilmu. Oh, begitu to silsilah dan perjalanan hidup seorang Nabi junjungan umat sejagat. Tanpa ada pemaknaan, perenungan-permenungan, elaborasi, atau interpretasi.

Setelah berkali-kali, berulang-ulang, sampai ‘hobi’ membaca (Iqra) surat Al Ikhlas, baru kemudian saya sadari dan yakini, bahwa skenario kehilangan demi kehilangan yang dialami Kanjeng Nabi, adalah cara Allah mendidik Rasulullah. Mendidik Muhammad agar tidak pernah bergantung kepada makhluk. Dan Allah hendak tegaskan, bahwa tempat memohon, tempat menggantungkan segala sesuatu hanyalah diriNya (Allahush-shomad).

Qulhuwallahu ahad

Allahush-shomad

Lam yalid walam yuulad

Walam yakul lahu kufuwan ahad

Katakanlah (Muhammad), Allah itu Maha Esa (satu)

Allah tempat bergantung segala sesuatu

Allah tidak beranak, dan tidak diperanakkan

Dan tidak ada yang sebanding/ setara dengan Dia (Allah)

Akhir cerita, Muhammad sang manusia cahaya itu ikhlas menerima seluruh episode getir kehilangan demi kehilangan orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Dan puncaknya, Muhammad pun lulus menjadi hamba Allah yang paling mulia.

Maka doa ini sederhana, Muhammad-kan kami Ya Rabbi.
Shallu ‘ala Nabi Muhammad…

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait