Menu Close

Barokah Day

0Shares

Sabtu 17 Desember 2016 kemarin, saya mendapat tugas dari sekolah untuk mendampingi salah satu siswa kelas 5 untuk mengikuti lomba menulis surat untuk Ibu dalam rangka memperingati hari Ibu yang diadakan oleh Rukun Istri Anggota Legislatif (RIAL) Kabupaten Sragen, bertempat di gedung DPRD kota Sragen. Pukul 07.00 pagi tepat, saya beserta Ibu Kepala Sekolah SDN Gemolong dan seorang sopir berangkat dari sekolah menuju Sragen.

Pagi itu jalanan tampak padat kendaraan sebab hari itu bebarengan dengan pengambilan buku rapor siswa. Saya duduk dikursi depan menemani pak sopir yang sehari-hari bekerja sebagai Office Boy (OB) di sekolah saya. Kami berdua tidak bisa ngobrol leluasa apalagi membahas hal-hal yang lucu dan nyeleneh. Pasalnya ada Ibu kepala sekolah yang mengawasi gerak-gerik kami. Alhasil kami-pun lebih banyak diam seribu bahasa, dan sesekali bicara yang penting ndak penting.

***

Ada semacam keanehan yang menimpa saya pagi itu. Dimana selama perjalanan dari Gemolong menuju kota Sukowati (baca.Sragen) sengaja atau tidak sengaja saya disuguhi tulisan/pemandangan yang sama dan berkali-kali. Tulisan itu muncul secara tiba-tiba dikanan-kiri jalan yang saya lalui. Ada yang tulisan-nya kecil, sedang dan besar. Ada yang ditulis dipapan, karton, spanduk dan juga neon box. Tulisan itu terus menteror mata saya, sampai hati ini bergumam ; “ada apa gerangan?”

Tulisan yang menteror saya itu berbunyi : BAROKAH. Ya, Barokah adalah nama atau kata yang sangat populer dan biasa dipakai oleh banyak orang sebagai merk dagang/usaha mereka. Disepanjang jalan Gemolong hingga Sragen mungkin lebih dari 30 tulisan Barokah yang saya jumpai. Mulai dari nama warteg, warung soto, mie ayam, counter Hp, toko plastik, toko pakaian hingga rumah catering. Sungguh mengherankan.

***

Tak terasa, mobil rombongan kami telah sampai di pelataran gedung DPRD kota Sragen. Saya dan murid saya (Arya) segera mendaftar ulang, menyerahkan berkas lalu duduk dibangku peserta yang telah disediakan. Ibu Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati didaulat untuk memberikan sambutan kepada seluruh hadirin. Ketokan tangan 3 kali di microphone oleh Bu Yuni menjadi pertanda lomba menulis surat untuk Ibu resmi dibuka, diikuti applause hadirin yang menggema.

Panitia menginstruksikan kepada seluruh peserta untuk segera masuk dan menempati ruang lomba yang telah disediakan. Sebelum Arya masuk ke ruang lomba, saya berpesan kepadanya;

“Berdoa dulu ya mas, menang kalah tidak terlalu penting, yang paling penting adalah lomba ini bisa menambah pengalaman baru buat kamu, semoga usahamu di’barokahi’ Allah.

“Iya mister, jawab dia polos.”

Mohon maaf, jangan anggap saya ini sombong apalagi sok british. Itu salah. Kenapa saya dipanggil mister, sebab di sekolah saya (SD Negeri Gemolong), para dewan guru akrab dipanggil oleh murid-murid dengan sebutan mister dan miss. Bukan bapak atau ibu. Hal tersebut merupakan peninggalan dari almameter sekolah saya yang dulu berstatus SD Negeri SBI (Sekolah Berstandar lnternasional) Gemolong, yang mana dulu banyak tenaga asing dari Turki yang mengajar disana. Atas kebijakan pak Menteri Pendidikan yang baru, status SBI telah dihapus pada tahun 2013 lalu.

***

Dua jam berlalu lomba pun usai. Seluruh peserta dan pendamping harap-harap cemas menanti pengumuman hasil perlombaan. Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Salah seorang panitia mengambil microphone, satu persatu pemenang lomba diumumkan. Dari juara pertama, harapan sampai juara favorit, nomor peserta murid saya (Arya) tidak kunjung dipanggil juga. Itu artinya kami harus berlapang dada dan pulang dengan tangan hampa. Cuaca panas dan gerah mengantar kami pulang ke rumah.

***

Pukul tiga sore saya tiba dirumah. Di sebuah dusun kecil di ujung barat kabupaten Sragen. Kampung saya bernama Selogono, desa Girimargo, kecamatan Miri, kabupaten Sragen. Tak sempat istirahat, saya langsung bergegas untuk prepare barang dan keperluan untuk berangkat ke Yogya. Malam minggu tanggal 17, saya hendak menghadiri acara Ngaji bareng di Majelis Mocopat Syafaat Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Pukul empat sore, saya kendarai motor menuju Gemolong. Motor saya titipkan, dan melanjutkan perjalanan ke Solo dengan naik bis. Dan keanehan pun berlanjut. Tak disangka tak dinyana, saya kembali dihadapkan oleh tulisan itu lagi. Spanduk atau papan bertuliskan Barokah muncul dikanan-kiri sepanjang jalan Solo-Purwodadi. Mungkin lebih dari 15 kali kejadian itu terjadi. Karena ngantuk, mata ini kadang terpejam sendiri. Dan sontak terbangun, ketika sang sopir tiba-tiba mengerem mendadak atau terdengar bunyi klakson menderu bikin senam jantung.

Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan tulisan itu. Tapi disaat mata ini terbuka, ketika mata ini melihat keluar dari balik jendela, tulisan Barokah terus saja muncul tiba-tiba dan mengusik pandangan saya. Mau tak mau, suka ndak suka, otak ini jadi mikir dan menerka-nerka, apa maksud dari ini semua??

Akhirnya pukul lima sore bis yang saya tumpangi tiba di terminal Tirtonadi Solo. Salah satu teman saya (Rizal) telah siap menjemput dengan skuter antiknya. Saya diajak untuk mampir makan dan lanjut sholat maghrib di Musholla. Sebelum otewe ke Yogya kami sepakat untuk nonton bola terlebih dahulu. Pukul 19.00 waktu Indonesia, akan digelar partai final Piala AFF 2016 di Stadium Bangkok Thailand. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, sekaligus maniak bola maka hukumnya WAJIB untuk nonton dan memberi dukungan bagi Timnas Garuda.

Laga final telah dimulai. Dibabak pertama Timnas Indonesia tertinggal 1-0. Masih ada harapan batin saya. Memasuki babak kedua, permainan Thailand makin keranjingan. Gawang Indonesia yang dikawal kiper Kurnia Meiga terus dibombardir tanpa jeda. Alhasil, pada menit ke 65, gawang Indonesia kembali jebol. Kedudukan 2-0 sekarang, untuk keunggulan Tim Gajah Putih. Kalau skor ini bertahan sampai peluit panjang dibunyikan, maka Indonesia akan kembali gigit jari dan mesti puas menjadi Runner Up lagi.

Belum usai laga, saya dan Rizal memilih meninggalkan arena Nobar. Hati ini rasanya ndak tega kalau harus melihat Boaz Solossa dkk gagal menjadi juara. Gas skuter antik kami pacu, meluncur ke Yogyakarta dengan perasaan cemas bercampur haru.

***
Kurang lebih 2 jam perjalanan kami pun tiba di lokasi acara. Orang-orang atau para jamaah sudah berkumpul memadati area pengajian. Ini adalah acara rutin sebulan sekali yang digelar setiap tanggal 17 malam, bernama Majelis Mocopat Syafaat  yang diasuh oleh Simbah Guru Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Acara sinau bareng ini terbuka umum dan diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengikutinya. Biasa dimulai sejak pukul delapan malam hingga pukul tiga dinihari.

Acara berlangsung sangat cair, akrab dan dibumbui dengan canda tawa. Pengajian yang sangat “beda” dengan pengajian pada umumnya. Disana (baca: Mocopat Syafaat) kita akan mendapatkan tentang banyak hal, mulai dari ilmu, cara berfikir, pemahaman yang mendalam, nilai-nilai, jalinan pasedhuluran, hiburan juga doa harapan bagi kebaikan semua.

Menjelang pukul tiga dinihari, acara pengajian sinau bareng dipuncaki dengan sholawatan serta doa bersama. Para jamaah kemudian berjejer rapi untuk mengikuti prosesi salaman dengan para narasumber, wabilqusus kepada Mbah Nun. Disaat jamaah lain sedang antri bersalaman, saya memilih mengunjungi lapak buku di sebelah pojok ujung jalan. Sudah menjadi tradisi saya, dimana setiap kali saya datang di Majelis ini, selalu saya agendakan untuk membeli 1 buku baru. Setelah lumayan bingung memilih dan memilah dari sekian banyak buku, akhirnya saya putuskan untuk membeli 1 buku yang tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Buku seharga 55 ribu rupiah tersebut berjudul ; TIDAK. JIBRIL TIDAK PENSIUN – karya Emha Ainun Nadjib.

Untuk menambah keberkahan buku dan ke’barokah’an malam ini, saya beranikan diri untuk sowan ke kediaman ndalem Mbah Nun. Saya ingin beliau mendoakan dan menanda tangani buku yang baru saya beli tersebut. Dengan mengucap salam dan badan tertunduk, pelan-pelan saya menghampiri Simbah yang sedang duduk rileks di sofa ruang tengah pasca melayani salaman dengan jamaah. Dengan gugup dan nada malu-malu, saya matur ke simbah seraya menyodorkan buku dan spidol besar hitam.

 “Kulonuwun Mbah Nun,

 Ngapunten, badhe nyuwun tapak asmo panjenengan.”

Sebelum Simbah membubuhkan tanda tangan-nya, beliau seolah menatap tajam ke arah mata saya. Tajam sekali, seperti ngematke. Entah apa yang terbersit dibenak beliau tatkala melihat wajah kusam saya ini. Mungkin saja ;

“Iki arek potongane ra mbois blas, tapi kok yo doyan Maiyahan”.

Atau Mbah Nun hendak menyalurkan energi kepada saya, entahlah. Tetapi yang jelas, disaat saya menghaturkan terimakasih dan menunduk mencium punggung tangan beliau, lisan Simbah terlihat “komat-kamit” membaca kalimat thoyyibah, saya yakin itu. Yakin bahwa itu merupakan sebait doa, harapan dan rasa cinta dari seorang Simbah kepada cucunya.

Bagi saya, orang yang membeli buku kemudian meminta tanda tangan kepada penulisnya adalah suatu bentuk permisi, kulonuwun memohon izin agar di perbolehkan “masuk” untuk selanjutnya membaca, mempelajari isi berikut makna dari buku tersebut. Dan ketika sang penulis berkenan membubuhkan tanda tangan-nya maka itu merupakan sebuah restu, ACC, stempel pengesahan dan itu penting sekali. Sebab dengan adanya restu/ ACC dari sang penulis, InsyaAllah butiran ilmu dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalam buku tersebut akan lebih mudah terserap, tersalurkan, ter-download ke dalam software pikiran dan memori hati pembacanya. Akan lebih ngena, nancep dan tahan lama.

Dengan perasaan sumringah, kami (saya & Rizal) bergegas pulang ke rumah. Rasa kantuk dan lelah mendadak musnah.

***

Minggu pukul satu siang saya terbangun dari tidur. Kemudian meneguk segelas air putih lalu mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur. Sehabis sholat kemudian saya lanjut makan guna mengisi perut yang sudah keroncongan. Nasi putih+sambel+bakso goreng dan kerupuk terasa begitu nikmat dilidah, perut saya kenyang sudah.

Udara siang itu begitu panas. Saya membuka baju lalu ngisis, duduk bersandar diatas dipan serambi rumah. Oh ya, saya teringat jika semalam saya membeli sebuah buku. Tak buka tas cangklong saya dan mengambil buku itu. Dalam-dalam saya baca lagi judul di cover depan buku, disitu tertera tulisan yang sangat besar : TIDAK. JIBRIL TIDAK PENSIUN.

Sebuah judul yang “aneh” sekaligus mengajak otak untuk berfikir keras. Apa sebenarnya maksud dan makna dari judul tersebut. Sambil mikir dan coba meraba, tak sengaja mata saya melirik sebuah tulisan yang tidak terlalu besar yang ada diatas sudut kanan buku. Progress. Ya, saya baru ngeh kalau ternyata buku yang sedang saya pegang ini adalah terbitan dari Progress Management. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah dimana kantor Redaksi Progress beralamat di : Jalan Wates km. 2,5 Gang. Barokah No. 287  Kadipiro, Bantul, Yogyakarta.

“Subhanallah…”

“AllahuAkbar….”

Barokah, lagi-lagi menampar mata dan menawan hati saya.

Ya Allah,

sepertinya Barokah menjadi tema kehidupan saya dua hari ini (17-18 Desember 2016). Ke”barokah”an senantiasa menemani setiap gerak mata dan langkah kaki saya.

Lantas saya pun bergumam, iseng bilang sama Tuhan ; Ya Allah, kalau saja, mbok menowo ada seorang perempuan yang bernama Barokah, maka Barokahi-lah ia untuk menjadi istri saya, pendamping hidup saya, di dunia dan akhirat. Amiiin.

Sragen, 18 Desember 2016

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait