Menu Close

Aktualisasi Ruang

0Shares

Manusia sebagai mahkluk ciptaan terus menerus mengikuti aktualisasi dirinya, yang nantinya akan ditabrakkan pada rengkuh jaman.

Berbagai peran dijalani manusia, berbagai pencapaian dari lini kekuasaan hingga bertumpuk-tumpuknya emas raja brana mengisi hari-hari kita sepanjang hidup. Sisi lainnya adalah pilihan-pilihan ideologis, konsentrasi metode berpikir, juga harmonisasinya terhadap ciptaan lain. Demikian manusia terus berjalan mengikuti jumlah detak jantung yang dititipkan oleh-Nya.

Adakalanya di riuhnya zaman, manusia lalu berlomba-lomba memuja kebutuhan primernya. Di jaman yang dibilang modern ini entah berjuta manusia berlomba-lomba mengisi, menghiasi perutnya. Esensi makan tidak lagi sebagai pemenuh kalori dan enzim yang dibutuhkan tubuh, namun berkembang menuju ragam makanan yang menjamu mata untuk terlalu senang dibelai warna.

Pakaian, juga demikian ada evolusi dan pengulangan dalam tren berpakaian, tapi alurnya sudah melebihi apa esensi sebuah pakai dibumbui akhiran -an.

Apalagi rumah, jelas sudah berkembang demikian pesatnya, teknologi dan proyek infrastruktur terus berjalan, pasar hunian merajalela disemua titik-titik l dianggap prospek oleh pengembang, dilengkapi berbagai kemudahan, fasilitas transportasi, yang semakin memuja manusia dikeriuhan koneksi relasi.

Lalu dimanakah yang masih berjuang untuk sebuah esensi?

Negeri yang sama yang menjamu para penikmatnya, juga memberi kemiskinan dan nasib sial bagi orang lainnya. Jutaan mereka yang tidur di emperan toko, mengais sampah mereka makan kudapan debu. Pakaian hanya 1, cuci kering pakai, atau bahkan tidak pernah diganti. Bukan karena mereka tidak berusaha, namun perjuangan menuju titik balik tentu sangatlah berat. Coba eksplorasi berapa jerat yang mengunci kaki mereka, membunuh kecerdasan mereka, plat merah kadang juga turut andil membebani dalam proses administrasi, tapi di sisi lain mereka inilah yang menggurui saya soal kembali pada esensi hidup. Apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam hidup?

Saya tau gelak tawa renyah mereka dari setiap keping yang dihasilnya, dari nasi bungkus yang dimakan sambil berkeringat bersama anak yang mengikutinya menjarah jalanan, atau seberapa romantisnya tukang kelontong yang duduk-duduk di pojokan alun-alun kota sambil menikmati jagung bakar bersama cucunya.

Keromantisan lain adalah guyon penjual semangka di dekat trowong, yang meski lelap ketika truk buah datang, saya mencoba menyamar mengemispun, semangka diberikan oleh ibu-ibu itu. Betapa sempurnanya hidup mereka, di jalanan sepi tukang-tukang sapu juga terus menerus membersihkan kota, meski adipura bukan atas nama mereka. Hisapan rokok sehabis hujan sudah memberi bahagia di tengah nasib yang tak kalah muramnya, segurat tipis dari kejauhan aku memandangnya.
Sebentar lagi pagi menjelang, di sudut kota sepi akan hingar kembali. Dan perebutan aktualisasi akan berjalan lagi, rebutan jalan, rebutan kepintaran, rayahan proyek, atau mendermakan diri sebagai tenaga kesehatan. Semua mengisi rumah besar bernama bumi, semua menjadi perabot-perabot, pepat tanpa jeda.

Aku pernah menjadi bagian dari itu semua, dan kini aku melukiskannya, sambil memilah apa yang ada diluar ini semua, apa makna dari semua peredaran ciptaan ini.

Akhirnya semua proses ini menjadi kalam hidup, dan manusia hanya dianggap ada bila mengaktualisasi dirinya sebagai sesuatu.

Presiden maupun pengemis, harus jelas dari perangai, tingkah sampai model alas kakinya. Supaya memudahkan pengenalan aktualisasi.

Dan di mana saya sekarang?

Saya sedang tidak menjadi apapun, hingga banyak orang bingung menafsirkannya.

Hanya melakoni peran sejenak, sembari menikmati lakon yang dituntun selanjutnya.

Kadang Penganggur tanpa pekerjaan, kadang penulis, kadang instruktur pencinta alam, kadang pengayuh sepeda di kesunyian, kadang tukang kritik di medsos, kadang ngobrol bersama akademisi, kadang ngopi sama tokoh, kadang berbagi nasi dengan pengemis, kadang join kopi dengan tukang pel stasiun, kadang mabuk bersama tukang parkir restauran, kadang penunggu rumah yang setia, kadang menyendiri di belik-belik sepi, kadang menjadi teolog, kadang pembantu tanpa gaji, kadang penafsir gelombang kelakuan manusia, kadang begitu suka dengan bangunan tua yang sarat dengan apapun, dan akhirnya bukan siapapun untuk siapapun.

Menjadi segalanya dan bukan segalanya dalam waktu yang bersamaan.

Lalu di manakah saya akan berpijak? Dan dimana aktualisasi saya yang paling pas seperti yang dilakukan orang-orang? Nampaknya memang bukan di tataran itu, sementara tingkat langit terbuka dan ada loncatan perabot menjadi ruang.

Manusia menyepi menuliskan lakonnya.

Selamat bertarung, Kawan!

Lawang Abang, 22 Februari 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait