Menu Close

Sinau Berkoperasi : Kooperatif dan Tandang Bareng!

0Shares

Sebelumnya, kami Jamaah Maiyah Nusantara menghaturkan duka cita yang sedalamnya atas meninggalnya ibu Surtinah (92th), Ibunda dari Yai Tohar Toto Raharjo. Yang wafat pada Minggu (21/7/2019) pukul 3 sore. Semoga Almarhumah  Khusnul khatimah. Alfatihah.

**

“Opo coro Jawane koperasi iku?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan Mbah Nun sebagai pembuka sekaligus pemantik awal diskusi Sinau Bareng malam itu.  Minggu, 21 Juli 2019 M, paguyuban keluarga besar koperasi sekab. Karanganyar menyelenggarakan acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka memperingati hari ulang tahun koperasi yang ke-72. Bertempat di Alun-alun pusat kota Karanganyar Tenteram.

Beragam respon muncul dari para jamaah menjawab pertanyaan Simbah diatas. Diantaranya koperasi itu sebuah paguyuban. Panggonan simpan pinjam uang (golek utangan). Gerakan ekonomi rakyat, dll. Semua jawaban diterima, dielaborasi, dan saling melengkapi sehingga kita dapat memaknai koperasi secara jangkep.

“Spirit dari koperasi adalah kooperatif, gotong royong, tandang bareng.” – jelas Mbah Nun.

Sebagai apresiasi, jamaah yang telah berani menjawab diberi hadiah uang tunai.

Malam itu Mbah Nun memang tidak banyak memberikan wejangan juga tidak hendak nutur-nuturi. Beliau lebih mengajak jamaah yang hadir untuk mau berfikir. Berbagai pertanyaan lanjutan seputar dunia koperasi di lempar, dan jamaah dipancing untuk menanggapi sesuai persepsi dan presisi analisis masing-masing.

“Ada tiga kata yang terdiri dari sejahtera- dunia- akhirat. Dari ketiga kata ini ada bermacam kemungkinan situasi yang bisa terjadi. Apa saja kira-kira?”

Mbah Nun nampak tas tes, menyodorkan bahan sinau untuk disinaui bersama. Awalnya jamaah sempat bingung menangkap maksud dari uraian Mbah Nun tentang 3 kata tersebut. Kemudian beliau menyontohkan. Kita bisa menambahkan satu atau dua kata pada kata sejahtera-dunia-akhirat, sehingga menimbulkan suatu  keadaan yang berbeda-beda. Misal Sejahtera dunia tidak sejahtera akhirat. Terus apalagi? Mbah Nun terus mengejar dan jamaah mulai berfikir, mencerna, suaranya berkejaran, mengangkat tangan untuk mengutarakan opininya. Paling tidak ada 4 situasi-kondisi (meski ada gradasi) yang terjadi. Pertama ; sejahtera dunia, sejahtera akhirat. Kedua ; tidak sejahtera dunia, sejahtera akhirat. Ketiga ; sejahtera dunia, tidak sejahtera akhirat, dan keempat ; tidak sejahtera dunia, tidak sejahtera akhirat.

“Kowe pilih sing endi? Candakono dewe-dewe.” – Mbah Nun menekankan.

**

Jeda diskusi, Mbah Nun mempersilakan bapak bupati untuk memberikan sambutan dan testimoni. Pak bupati yang duduk didampingi Kapolres, Dandim dan jajaran pejabat pemerintahan kab. Karanganyar mengacungi jempol kepada rekan-rekan aliansi koperasi Karanganyar yang telah bahu membahu mengadakan acara Sinau Bareng ini. Beliau juga memuji, adanya badan Koperasi telah banyak membantu menyejahterakan para anggota (pada khususnya) dan masyarakat luas (pada umumnya) di daerah Karanganyar.

“Semua kudu disyukuri. Sing penting sehat, penting nyambut gawe. Sebab wong ra duwe duit kuwi gampang masuk angin. Weruh tanggane tuku mobil ngelu. Weruh kancane gawe omah mumet sirahe.”  – seloroh orang nomor satu di kab. Karanganyar itu.

“Sepanjang kita gelem keringeten nyambut gawe, Gusti Allah bakal paring. Hasile sepiro wae tetep disyukuri.” – pesan pak bupati seraya jamaah mengamini.

**

Diskusi kembali bergulir. Mbah Nun lagi-lagi melemparkan pertanyaan.

“Opo bedane kali karo sepur?”

Kali itu sungai, sepur itu kereta api. Biar tidak pating ceblung dalam menyampaikan jawaban, Mbah Nun meminta personil KiaiKanjeng untuk membantu menunjuk jamaah yang mau menjawab. Dari beberapa jawaban yang muncul kebanyakan masih dalam konteks fisik. Misal, kali itu menuju atau berkumpulnya di laut sedangkan kereta berkumpulnya di stasiun. Kali itu jalannya maju, kalau kereta jalannya bisa maju bisa mundur.

Tentu yang dimaksud Mbah Nun bukan perbedaan dalam arti bentuk atau fisik. Tetapi pemaknaan. Bahwa sepur itu mlakune diseret. Ditarik oleh mesin kepala lokomotif. Sedangkan kali tidak diseret, melainkan disurung. Disurung siapa? Allah. Kehendak Allah-lah yang mendorong air sungai dari hulu menuju hilir.

“Nah, Anda pilih jadi yang mana? Diseret opo di surung?”- Mbah Nun sedikit menyentil.

Melihat kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, sebagian besar dari kita memang lebih gampang diseret. Diseret kekuasaan, diseret tatanan birokrasi, diseret harta benda, pangkat, jabatan, dan segala hal yang berbau keduniaan. Padahal Diseret itu tidak enak. Hidup ini jauh lebih aman disurung, ndherek kersane Gusti Allah. Meski tak dipungkiri ada semacam hukum relativitas antara diseret dengan disurung. Malam ini kita belajar bareng menemukan presisi kapan waktu yang tepat untuk “diseret” dan kapan pas untuk “disurung”.

Malam Sinau Bareng kian semarak tatkala KiaiKanjeng mengajak jamaah bernyanyi. Bernyanyi bukan sekadar bernyanyi. Jamaah diajak bernyanyi sambil belajar. Jamaah dibagi menjadi 3 kelompok. Menamakan diri grontol, timus, dan sawut. (Kalau disingkat jadi tolé lek Mus mawut, gurau Mbah Nun). Diambil dari nama makanan tradisional khas Karanganyar. Mereka diminta menyanyikan 3 lagu berbeda (lir Ilir, ya thoyibah, sholawat badar) secara berbarengan dengan irama musik yang sama. Atraksi nyanyi bareng ini lagi-lagi mengajarkan akan pentingnya kerja sama alias tandang bareng. Bareng bukan berarti harus sama, tapi bekerja bersama sesuai fungsi masing-masing. Ibarat kata, kalau kaki kesandung, mulut yang menjerit, mata yang menangis. Meski fungsinya beda-beda, tetapi memiliki keterkaitan-keterikatan. Itulah spirit dan nilai dari koperasi.

**

Pukul sebelas, Mas Silok bergabung diatas panggung. Beliau-lah yang turut membantu tergelarnya acara Sinau Bareng malam ini. Bagi Jamaah Maiyah, mas Silok tentu bukanlah sosok yang asing. Beliau berkisah, telah bekerja di Korea sebagai TKI ilegal sejak 1999. Tanpa pasport, tanpa visa, hanya bermodalkan fii sabilillah. Mas Silok ini pula yang telah merintis simpul Maiyah Korea bernama Tong il Qoryah. Dan setiap kali Mbah Nun dan Kiai Kanjeng beracara di Korea, mas Silok selalu siaga membantu segala perizinan hingga pelaksanaannya. Banyak orang yang menyebut mas Silok adalah TKI yang sukses. Dan sukses menurut mas Silok adalah ketika iso turu angkler dan bisa berbuat baik. (Hehe, gerrr)

Di sesi akhir, KiaiKanjeng mengundang belasan jamaah naik ke atas panggung untuk dolanan lepetan. Dolanan yang sarat dengan pengalaman dan pelajaran hidup. Bermain lepetan dibutuhkan sikap kerja sama yang apik, memberi kesempatan atau jalan pada orang lain, sabar (antri) serta menahan ego pribadi. Hal ini sekali lagi merefleksikan spirit dalam berkoperasi. Yakni gelem rekoso, legowo, tidak cemburu, bekerja sama, dan sedia menolong walau tidak kenal.

Semilir angin yang dingin teriring Alfatihah mengiring prosesi potong tumpeng oleh bupati sebagai rasa syukur perayaan ulang tahun koperasi kab. Karanganyar yang ke-72. Tepat pukul 00 acara dipuncaki dengan lizziyaroh qoshiidina. 8.500 jamaah yang memadati alun-alun larut melantunkan shalawat. khusyuk dan menunduk.

–•–

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait