Menu Close

Utang Rasa

0Shares

Setelah selesai perang Jawa tahun 1830, perubahan sosial terjadi sangat masif. Sistem ekonomi dan sosial kita diubah dari ngawula menjadi profesional mengabdi kepada tuan-tuan penyewa lahan dan sekaligus memberikan laba kepada keraton. Sejak saat itu peradaban laba semakin tebal garisnya memenuhi Nusantara.

Semua hal yang kejadian adalah jual-beli, laba-rugi, mencari untung sebesar-besarnya dengan modal sedikit-dikitnya sesuai hukum kapital yang digaungkan. Kalo perlu tak hanya produksi yang dikuasai, tapi juga distribusi serta geliat preferensi konsumsi mulai dikendalikan pula.

Kenyataan pada masyarakat yang demikianlah yang terus menggiring manusia menjadi pragmatis, sing penting bathi. Atau cuan-cuan-cuan kalau kata milenial hari ini. Tidak salah memang, tapi apakah hanya berhenti disitu?

Prof. Rhenald Kazali dan Gita Wirjawan sudah sering mengingatkan tentang kondisi disrupsi yang menggejala di bangsa kita. Kapitalisme pasti akan menumpuk dan menumpuk kapital makin besar. Artinya perputaran uang di negeri ini lebih sedikit yang dikuasai rakyat daripada dengan yang ditimbun/dikuasai para oligark.

Lalu bagaimana dengan kita yang bukan siapa-siapa? Sosrokartono mengenalkan konsep Utang Rasa.

Dalam hidup sehari-hari jelas kita tidak bisa mengingkari sistem besar yang sudah berjalan tersebut, tetapi konsep Sosrokartono ini menarik. Membuka peluang kebermanfaatan lain diluar hitung-hitungan soal laba-rugi, tapi soal rasa, soal hutang batin, soal hutang yang mungkin tidak akan pernah lunas karena sejak kita mendapatkan manfaat dari sesuatu, sejak saat itu pula hidup bergulir. Mungkin kita berubah jadi lebih baik dst. Kita punya hutang itu.

Lewat agama, apa yang dicontohkan Kanjeng Nabi yang terekam dalam berbagai kisah disitu kita bisa meniru lakunya, mendapatkan efek langsung bahkan dari perubahan sikap kita karena apa yang dicontohkan Kanjeng Nabi. Karena itu kita otomatis berhutang kepada Kanjeng Nabi.

Lalu bagaimana dengan Mbah Nun, dan Maiyah?

Tidak mungkin tidak, hampir setiap hari sejak duapuluhan tahun yang lalu mbah Nun berkeliling dari desa ke desa, lalu maiyah hadir dan simpul-simpul terbentuk dimana-mana, secara tidak langsung maupun langsung kita merasakan kemanfaatan nilai-nilai maiyah itu pada diri pribadi kita. Hal-hal yang juga mengubah paradigma kita terhadap hidup.

Juga jangan lupa dengan orang-orang terdekat kita. Keluarga, sanak saudara, dan teman-teman. Ketika sedang ada masalah kita kerap mengutuk nasib, lalu bersyukur karena ditolong oleh pihak-pihak tertentu ketika keadaan sudah sampai tahap dmana kita tidak bisa menahannya lagi. Namun setelah masalah itu selesai, kerapkali kita lupa. Lupa pada mereka, manusia-manusia baik yang hadir ketika kita butuh bantuan dikala mendesak.

Tentu tak hanya soal duit dan materi. Bisa jadi kita juga berhutang ilmu-ilmu untuk menopang kemandirian kita. Hal-hal sederhana seperti ilmu berdagang, ilmu mengajar, ilmu desain, bermusik, dan lain sebagainya.

Ada orang-orang juga yang memberikan ilmu, waktu dan bacaannya yang tidak murah kepada kita secara gratis. Namun karena gratis justru kita menyepelekannya, meskipun ilmunya masuk dan menjalar sebagai jalan rezeki di hidup kita.

Lalu dengan apa kalian nyaur itu semua? Mari bertemu semestinya.

Tulisan terkait