Menu Close

Masih Ada Waktu

0Shares

Teman kita yang siswa SMK bilang, anak seusianya kebanyakan punya banyak keinginan tapi minim tindakan. Itu membuatnya resah. Harusnya tak begitu. Ingin sesuatu, ya harus mengikhtiarinya. Karena kun fa yakun hanya milik Tuhan.

Saya jadi ingat masa lalu. Persis, saya pernah mengalami fase itu. Inginnya berpindah ke puncak bukit dalam sekejap. Tapi tak punya sayap. Akhirnya keinginan hanya berhenti jadi angan. Tak mewujud kenyataan. Begitu terus sampai entah berapa banyak keinginan yang berakhir dalam khayalan.

Tragisnya, dalam pada itu jatah hidup terus berkurang yang artinya kesempatan semakin menipis. Ada karunia yang terlanjur sirna. Tak mungkin kembali. Waktu.

Waktu adalah makhluk tak kasat mata namun menyelimuti kita. Kalau dalam sehari setiap manusia diberi modal berbeda-beda oleh Tuhan, mereka diberi waktu yang sama. Misal saja ada tiga orang. Yang satu kurang cerdas tapi tenaga ototnya kuat dan uangnya cukup untuk makan hari itu. Yang satunya ber-IQ tinggi namun badannya lemah. Uangnya dua kali lebih banyak. Dan yang satunya kecerdasan dan tenaganya rata-rata, tapi tak punya uang dan malah punya utang. Apa yang diberikan Tuhan yang sama persis pada hari itu? Adalah waktu. Kecerdasan, kekuatan otot, serta uang masih bisa dicari apabila suatu saat berkurang atau hilang. Tapi bagaimana dengan waktu? Ia tak mungkin kembali bila telah berlalu. Inilah istimewanya waktu.

Peradaban Barat melekatkan waktu dengan uang. Waktu adalah uang. Waktu adalah harta yang sangat berharga dan dapat digunakan untuk apa saja, seperti uang. Makna lainnya, waktu harus digunakan sebaik-baiknya demi memperoleh uang sebanyak-banyaknya.

Peradaban Timur memandang waktu secara berbeda. Waktu adalah pedang. Pedang akan menjadi alat efektif untuk meraih kemenangan dalam peperangan apabila digunakan dengan ilmu. Jika lengah sedikit saja, ia bisa menebas leher kita. Sebagaimana pedang di medan perang, waktu adalah hal yang sangat menentukan di medan kehidupan.

Itulah waktu. Begitu berharga dan istimewa. Kalau sudah berlalu tak mungkin akan kembali. Tapi lucunya, kita sering kali menggumam, “Ah, nanti saja. Masih ada waktu. Tidur dulu.”

Bagaimana cara yang benar dan tepat dalam memperlakukan waktu? Atau, bagaimana memaknai waktu supaya kita tidak terjebak dalam perilaku melegitimasi kemalasan apalagi menggunakan argumen-argumen berketuhanan? Apakah setiap kita bersikap terlalu santai semacam itu terkandung penyesalan-penyesalan sesudahnya? Mari bertemu semestinya. []

Tulisan terkait