Menu Close

waltandzur nafsun ma qaddamat lighad

Satu minggu yang lalu akun youtube official caknun.com mengunggah vidio bacaan surat Al-Hasr yang dilantunkan oleh Mbah Nun, rasanya bebarengan dengan beberapa vidio pendek sinau bareng, dimana Mbah Nun sangat fokus membahas ayat-ayat di surat ini. Seperti ada sambungan-sambungan dengan fenomena yang baru disadari belakangan.

Di tengah hiruk pikuk manusia merencanakan masa depan, entah untuk keluarganya, pekerjaannya, atau bangsanya. Mbah Nun mengajak kita menengok kembali satu pesan Al-Qur’an yang terasa semakin relevan: waltandzur nafsun mā qaddamat lighad. Mencoba membuka kembali mushaf Al-Qur’an – Tadabbur Maiyah Padhangmbulan, yang fokus pada ayat 18 surah Al-Hasr ini, ditadaburi Mbah Nun bukan sekadar sebagai imbauan untuk berhitung masa depan semata, melainkan sebagai fondasi sebuah futurologi ukhrawi, semacam cara memandang masa depan yang tidak membatasi dunia dan akhirat, sehingga dilihat seperti satu garis panjang kehidupan. Masa depan di sini bukan satu-dua tahun ke depan, tetapi horizon yang membentang dari langkah bumi hingga pengadilan akhirat.

Mbah Nun mengingatkan bahwa dalam pandangan modern sekalipun, tidak ada satu ucapan atau tindakan manusia yang benar-benar hilang. Setiap fragmen kehidupan tersimpan, seolah ada miliaran kamera langit yang merekam detail perjalanan manusia. Maka tadabbur ayat ini membuka kesadaran bahwa masa depan bukan sekadar “apa makan besok”, tetapi “apa yang dilakukan dan dibawa untuk besok” karena itu setiap detail ucapan hingga tindakan sangat perlu kita perhatikan kembali. Dan Allah sebagai Al-Khabir bukan hanya Maha Mengetahui dan Teliti, tetapi juga Sang Maha Inspirator yang tak henti mengirimkan ilham, gagasan, dan pengetahuan baru, yang sayangnya sering diklaim manusia sebagai hasil kreativitas pribadinya semata.

Karena itulah, bagi Mbah Nun, masalah besar umat manusia bukan hanya kurangnya melihat keutuhan perjalanan, tetapi ketidaksadaran pada dari mana semua ilmu pengetahuan itu berasal. Para ilmuwan, seniman, dan pemikir besar sepanjang sejarah haus inspirasi, namun seringkali lupa tak membangun hubungan dengan Dzat yang menjadi asal seluruh inspirasi. Ketidakpekaan ini membuat manusia mudah tertipu oleh ilusi dirinya sendiri, dan akhirnya mengira dirinya mampu mengendalikan masa depan tanpa harus bersandar pada Yang Maha. Beberapa fenomena yang ada hari ini, ketika manusia melakukan perhitungan masa depan tanpa fondasi kesadaran ilahiah, selalu berpotensi berubah menjadi kesombongan dan kerusakan.

Di sisi lain, beberapa manusia kerap terjebak pada ekstrem yang berlawanan, seperti terlalu menatap akhirat hingga mengabaikan dunia, atau terlalu silau oleh dunia hingga kehilangan peta akhirat. Seperti pada tadabbur Mbah Nun diakhir paragraf dalam mushaf, hal ini bukan untuk menunjuk siapa yang benar dan siapa yang keliru, melainkan untuk mengembalikan kita pada keseimbangan yang seharusnya, bahwa dunia dan akhirat bukan dua pilihan terpisah, tetapi dua ruang dalam satu perjalanan, satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu sejauh ini, apa sebenarnya yang sedang kita persiapkan untuk “lighad”, untuk hari esok dunia-akhirat kita?

(Redaksi Suluk Surakartan)

Tulisan terkait