
Jika ilmu diibaratkan sebagai sebuah “kota”, mengapa ia memiliki “pintu”? Apa yang sebenarnya dijaga oleh pintu itu, akses, adab, atau cara memahami? Lalu, apa yang terjadi jika seseorang masuk tanpa melaluinya? Di zaman sekarang, ketika informasi terasa terbuka ke segala arah, apakah kita masih mengenal konsep “pintu”, atau justru merasa bisa langsung masuk ke mana saja tanpa perantara?
Kita hidup di era di mana akses informasi begitu luas dan cepat. Namun, apakah kemudahan itu otomatis menjadikan kita berilmu? Apa bedanya sekadar tahu, benar-benar paham, dan sampai pada kesadaran? Jangan-jangan, yang kita kumpulkan selama ini bukanlah ilmu, melainkan serpihan informasi yang belum sempat kita cerna secara utuh.
Dalam tradisi keilmuan, nama Sayyidina Ali bin Abi Thalib sering dikaitkan dengan “pintu ilmu”, seolah menegaskan bahwa ada jalan, ada adab, dan ada proses yang harus dilalui. Lalu, apakah ilmu bisa berdiri tanpa adab? Mana yang seharusnya didahulukan, adab atau ilmu? Meski pertanyaan ini terdengar klise, mungkin justru di situlah letak akar persoalan yang sering kita abaikan.
Hari ini, siapa sebenarnya “pintu” kita? Apakah guru, pengalaman hidup, atau justru algoritma? Atau lebih jauh lagi, apakah ego kita sendiri yang diam-diam merasa telah menemukan pintu itu? Mengapa orang yang sedikit tahu sering merasa paling benar? Apakah semakin banyak ilmu membuat kita semakin yakin, atau justru semakin sadar akan keterbatasan? Pada akhirnya, kita perlu bertanya, kita ini sedang belajar, atau hanya mengumpulkan informasi, mencari ilmu untuk hidup, atau hidup untuk terlihat berilmu?.
(Redaksi Suluk Surakartan)