Menu Close

Suluk ‘Abdan ‘Abdiyya

Manusia hidup bukan sekadar menjalani hari-hari, melainkan terus mengalami perubahan dalam cara memandang dirinya sendiri, sesama, alam raya, dan Tuhan. Ada yang merasa hidupnya sah bila mampu mendominasi ruang, waktu, dan orang lain, ada pula yang perlahan menyadari bahwa hidup tidak selalu menemukan maknanya dalam penguasaan. Di antara dua kecenderungan itulah kesadaran manusia bergerak, mencari tempat yang tepat untuk berdiri, tanpa harus selalu berada di pusat perhatian. Di Maiyah kita mengenal ada idiom ’Abdan ‘Abdiyya, yang mengajak kita menengok kembali posisi diri secara batin ataupun kesadaran, bukan sebagai istilah teoretis, tetapi sebagai kemungkinan laku yang dijalani dalam perjalanan hidup.

Ketika manusia diletakkan pada satu lingkar waktu dengan segala kebisingan dan ambisi yang mengitarinya, pertanyaan tentang siapa dirinya dan apa yang hakiki dalam hidup menjadi semakin mendesak. Apakah hidup dijalani semata untuk menegaskan diri, atau untuk sesuatu yang lebih luas dari kepentingan personal? Apakah setiap langkah diarahkan oleh hasrat akan pengakuan, atau oleh kejernihan dalam menempatkan diri? Dari sinilah barangkali langkah hidup menemukan kedalamannya, bukan hanya pada apa yang dilakukan, melainkan pada kesadaran yang melatarinya.

Dalam pengertian ini, kesadaran perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, bekerja, berbagi, mengambil keputusan, dan bahkan dalam diamnya. Dengan begitu manusia dapat terus menumbuhkan kewaspadaan akan posisi diri di tengah keseluruhan kehidupan, antara kehendak pribadi dan tatanan jagat yang lebih luas, antara langit dan bumi.

Dan pada suatu titik, pengalaman hidup semacam ini menghadirkan pemahaman bahwa berusaha menempatkan diri secara tepat dan seimbang bukanlah kehilangan jati diri, melainkan menemukannya. Ukuran diri tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak yang dapat dikuasai, tetapi oleh seberapa jauh seseorang mampu menjaga kejernihan, kerendahan, dan keselarasan langkah dalam menjalani hidup antara ruang dan waktu.

(Redaksi Suluk Surakartan)

Tulisan terkait