Menu Close

Meniti Keseimbangan

Malam Sabtu Legi, 27 Februari 2026, Suluk Surakartan kembali menggelar Tadabbur dan Sinau Bareng edisi ke-103 di Kwarasan, Grogol, Sukoharjo. Seperti malam-malam sebelumnya, ruang perjumpaan itu perlahan dipenuhi oleh jamaah yang datang secara berangsur-angsur .

Suasana malam itu terasa hangat dan akrab. Jamaah duduk melingkar tanpa sekat, tanpa panggung yang memisahkan pembicara dan pendengar. Semua hadir dalam posisi yang sama: sama-sama belajar, sama-sama mencari, dan sama-sama membuka ruang untuk saling mendengar.

Ruang Sinau Bareng Suluk Surakartan dipenuhi oleh jamaah dengan beragam latar pengalaman dan pertanyaan hidup masing-masing. Pada edisi kali ini, tema “Keseimbangan” menjadi pintu masuk untuk menelusuri kembali bagaimana manusia memposisikan diri di tengah arus informasi, keyakinan pribadi, serta berbagai kemungkinan kebenaran yang terus berkembang.

Tak seperti biasanya, karena malam itu bertepatan dengan bulan Ramadan, diskusi dimulai sedikit lebih malam. Sebelum diskusi dimulai jamaah sudah melingkar dan saling bercengkerama satu sama lain .

Tepat pukul 20.30 Alan selaku moderator membuka pintu diskusi dengan menyapa jamaah melalui salam yang hangat. Ia kemudian memberangkatkan pembicaraan dengan menegaskan kembali gagasan yang telah dimuat dalam mukadimah: bahwa keseimbangan bukanlah sebuah keadaan yang selesai atau titik akhir yang dapat dicapai begitu saja.

Keseimbangan adalah garis perjalanan yang harus ditempuh secara sadar dan terus-menerus. Ia bukan hasil instan, melainkan proses panjang yang menuntut kesungguhan dalam berpikir, bersikap, serta membuka diri terhadap berbagai perspektif yang mungkin berbeda.

Percakapan kemudian berkembang ketika salah satu jamaah menyinggung contoh yang cukup dekat dengan situasi sosial belakangan ini, yakni mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang ramai diperbincangkan di ruang publik.

Mas Didik menanggapi hal tersebut. Dalam pandangannya, secara gagasan program tersebut sebenarnya berangkat dari niat yang baik. Namun dalam praktiknya di lapangan, tidak sedikit laporan maupun pengalaman yang menunjukkan bahwa implementasinya masih menghadapi berbagai kendala. Mulai dari persoalan distribusi, kesiapan sistem, hingga dinamika teknis yang membuat hasilnya belum selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Di tengah diskusi yang mulai menghangat, Alan sempat memperhatikan beberapa wajah baru di lingkar jamaah. Ia kemudian menyapa mereka dan mempersilakan untuk memperkenalkan diri.

Malam itu ada tiga orang yang memperkenalkan diri: Rafli, Dian, dan Erlangga.

Dian kemudian menyambung percakapan yang sebelumnya menyinggung program MBG. Ia melihat bahwa contoh tersebut justru menunjukkan bagaimana keseimbangan merupakan bagian dari proses yang terus berlangsung.

Sejak program itu berjalan, masyarakat sering dihadapkan pada pro dan kontra. Dalam pandangannya, menyikapi hal semacam itu membutuhkan perspektif yang seimbang. Artinya, kita perlu menelisik data yang ada, melihat satu asumsi berdampingan dengan asumsi yang lain, agar tidak berhenti pada kesimpulan yang terburu-buru.

Ia menekankan pentingnya tidak bersikap impulsif berdasarkan pandangan subjektif semata, terutama ketika pandangan tersebut belum didukung oleh data maupun pengalaman empiris. Proses mempertimbangkan berbagai sudut pandang inilah yang perlahan membentuk resolusi pemahaman, hingga akhirnya menghadirkan kebenaran yang lebih sahih.

Percakapan kemudian dilengkapi oleh Pak Munir yang menambahkan sudut pandang lain. Baginya, keseimbangan tidak hanya soal cara berpikir, tetapi juga menyangkut moralitas yang hidup dalam diri individu.

Ia melihat Sinau Bareng seperti yang berlangsung malam itu sebagai salah satu bentuk latihan keharmonisan. Dalam keseimbangan kognitif, seseorang diharapkan tidak terburu-buru bersikap impulsif dalam menanggapi suatu pandangan. Setiap perspektif perlu ditelisik lebih dalam untuk melihat validitasnya.

Pak Munir juga menyinggung bagaimana keseimbangan dapat diterapkan dalam relasi pertemanan sehari-hari. Setiap orang memiliki ekspresi emosional yang berbeda dalam berinteraksi. Maka keseimbangan tidak sepenuhnya bergantung pada rasionalitas, juga tidak semata pada afeksi ataupun nilai yang diyakini.

Justru di situlah letak latihan keseimbangan: bagaimana seseorang tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu, tetapi juga tidak sampai kekurangan. Sebuah mekanisme yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya unik dan bisa diterapkan dalam skala kehidupan yang sangat dekat dengan keseharian.

Dari berbagai pandangan yang mengalir malam itu, forum perlahan kembali pada satu kesadaran bersama: bahwa keseimbangan bukan sekadar konsep yang abstrak. Ia adalah latihan nyata dalam cara kita membaca peristiwa sehari-hari—termasuk dalam menyikapi kebijakan, wacana publik, maupun dinamika sosial yang terus bergerak.

Tanpa terasa, waktu telah berjalan cukup jauh. Jarum jam menunjukkan pukul 00.15 ketika Alan menutup diskusi dengan bacaan Alhamdulillah.

Jamaah pun perlahan beranjak pulang ke rumah masing-masing. Mereka membawa pulang ‘oleh-oleh’ berupa renungan dan pemahaman yang mungkin masih akan terus diselami—semoga dapat membuka pintu-pintu kemanfaatan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkar kehidupan yang lebih luas. (Redaksi Suluk Surakartan)

Tulisan terkait