Menu Close

Bagiku Begini, Bagimu Begitu

8Shares

Banjir informasi kian membesar, menggilas pikiran manusia zaman ini seperti deru tsunami. Tatkala informasi terus menerus menjejali pikiran sampai-sampai manusia kewalahan untuk menyaring dan mengambil informasi yang penting bagi hidupnya. Lambat laun kehidupan manusia semakin tidak bermutu karena terpengaruh apa yang menjadi tsunami informasi itu.

Manusia menjadi kehilangan otentisitas dirinya. Ia hidup hanya menjadi bagian dari keumuman informasi yang berada di sekelilingnya. Tidak peduli seberapa buruk, dangkal, dan tidak pentingnya informasi itu, asal membanjiri pikirannya dan pikiran kebanyakan orang di sekitarnya, maka itu menjadi acuan tindakannya. Bahkan ayat-ayat Allah yang tertulis di kitab suci maupun terhampar di alam semesta hanya berakhir menjadi artefak yang dipahami secara dangkal lewat doktrin dan dilihat sebatas mata lahir saja.

Jika diperdalam lagi, hal itu sebenarnya menunjukkan betapa kehidupan manusia modern telah kehilangan kedaulatannya. Manusia kehilangan makna-makna yang sejati atas nilai, kata, dan berbagai perilakunya. Setiap hal didefinisikan menurut trend informasi yang sedang mengepung dan setiap tindakan didasarkan atas kemauan orang banyak yang sebenarnya sedang tenggelam oleh tsunami informasi itu sendiri. Keadaan semacam ini menggambarkan situasi manusia yang tidak mengerti keadaan dan celakanya ia tidak mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, alias jahil murakkab.

Kita menggunakan kata-kata yang telah bias maknanya. Kita menyebut sesuatu mekanisme kekuasaan dengan demokrasi, padahal sebenarnya itu bukan demokrasi. Kita menganggap seseorang sebagai pemimpin, padahal sebenarnya dia sangat tidak layak untuk disebut pemimpin. Kita menyebut sebuah lembaga super besar bernama negara, padahal yang seperti itu bukanlah negara. Hingga puncaknya kita menyebut agama, padahal apa yang kita sangka agama sebenarnya bukanlah yang demikian.

Mengapa bisa sampai seperti itu? Sebab kita terbelenggu oleh berbagai tafsir dan doktrin yang diterima secara mentah-mentah tanpa diikuti proses berpikir dan intelektualisasi yang memadai. Kita tidak mampu mendaulatkan diri atas tsunami informasi dan indoktrinasi yang berjalan masif di sekitar kita. Kita tiba-tiba menerima kata tanpa pernah merenungkan kembali makna yang sejati di sebaliknya. Hal itu membuat kita tidak bisa mendapatkan hikmah dari firman Allah yang telah disampaikan Nabi Muhammad dan kehilangan makna yang mendalam dari ayat-ayat-Nya yang terhampar di semesta raya ini.

Dari itu, mendaulatkan diri adalah bagian dari jihad yang penting di zaman ini. Berdaulat atas diri berarti mulai menegakkan kepemimpinan dalam diri masing-masing. Mulai memikirkan kembali secara mendalam apa-apa yang sudah kita serap dan kita terima. Hal itu akan membuat manusia memiliki imunitas yang kuat dalam menghadapi tsunami informasi yang sudah sedemikian merusaknya ini.

Akhirnya, semoga kita dapat semeleh dalam tegaknya jati diri. Bagimu begitu, bagiku begini, demikianlah kita kemudian berdiri dalam berkeyakinan. Kemudian pada saat yang sama, kita terus menghamparkan kasih sayang sebesar-besarnya sebagaimana makna sejati dari agama yang kita temukan. (YAP)

Tulisan terkait