Menu Close

1:11

0Shares

Bulan Ramadhan sudah berlalu. Sebuah bulan yang menurut catatan sejarah, menjadi saksi bisu sebuah perang istimewa di tanah Arab. Perang itu dikenal dengan perang Badr. Perang yang mempertemukan pasukan sekutu Mekah yang jumlahnya ribuan dengan ratusan orang-orang muhajirin Mekah yang mengikuti Rasulullah.

Tentu saja mukadimah ini tidak akan membahas soal kronologi perang dan segala narasi sejarah tentang peristiwa perang itu. Yang mengesankan dari perang itu adalah ucapan Rasulullah, “kita telah selesai dari perang yang kecil, dan kembali menghadapi peperangan yang besar, yakni melawan hawa nafsu diri sendiri”. Dari peristiwa itulah lahir ungkapan “minal ‘aidzin wal faizin”.

Ketika tiba saatnya berhari raya, kita merayakannya dengan ungkapan “taqaballahu minnaa wa minkum” yang kurang lebih maknanya semoga Allah memperkenankan apa-apa yang telah kita usahakan selama bulan Ramadhan. Tentu saja harapan itu berkait dengan segala hal baik yang telah diupayakan selama bulan Ramadhan, bukan tentang kebiasaan buruk dan bermalas-malasan di sana. Kemudian diikuti dengan saling ber-halal bi halal.

Dari dua hal di atas, ada pemantik yang bisa kita diskusikan dalam forum Suluk Surakartan untuk bulan ini. Pertama, jangan-jangan kita selama ini hanya mengkapitalisasi Ramadhan, sementara jika mengacu pada ucapan Rasulullah justru itu semacam bulan simulasi yang terkondisikan. Dengan demikian, bukankah 11 bulan setelah Ramadhan itulah wahana untuk “perang” yang sesungguhnya, yakni kita benar-benar mengaktualisasikan apa yang sudah dibentuk dalam simulasi sebulan.

Kedua, ketika berhari raya kita ucapkan doa agar apa yang telah diusahakan di bulan Ramadhan diperkenankan, apa maknanya? Sekedar sebuah harapan materilkah berupa bayangan pahala segunung seperti para pedagang yang mencari untung atau sebuah visi jangka panjang berupa permohonan kekuatan agar proses simulasi di bulan Ramadhan dikokohkan untuk menjadi perilaku manusia yang utuh di 11 bulan berikutnya?

Ketiga, dalam tradisi halal bi halal yang dalam khazanah Jawa dikenal dengan 4 L (lebaran, luberan, leburan, dan laburan) itu bermakna seperti apa dalam pembentukan sistem sosialnya? Apakah sekedar upacara formal tahunan sungkem-sungkeman dan bagi-bagi uang fitrah lalu selesai atau sebenarnya itu adalah sebuah proses membangun kesepakatan bersama untuk saling merealisasikan apa yang telah dicapai pada poin pertama dan kedua? Itulah serentetan pertanyaan dan bahan diskusi yang bisa kita diskusikan dalam sinau bareng di bulan ini.(YAP)

Tulisan terkait