Menu Close

Menerke Kiblat

0Shares

Beberapa waktu lalu, Mbah Nun menulis 4 essay yang berjudul Ihtimal (bagian 1), Empat Amniyat, Bergembira dan Menikmati (bagian 2), Air Kawah di Akhir Zaman (bagian 3), dan Yang Percaya, Percayalah Yang Ingkar, Ingkarlah (bagian 4). Keempat rangkaian essay tersebut dihadiahkan beliau kepada setiap jamaah Maiyah yang berkenan untuk mengolahnya sebagai bagian dari perjalanannya.

Dari keempat essay tersebut, ada terminologi yang penting untuk kita gali lebih dalam yakni manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana. Tiga istilah di atas ditawarkan oleh Mbah Nun untuk memudahkan kita mengenali apa yang Tuhan tetapkan pada diri kita sehingga mengerti posisi dan tugas sebagai ciptaan-Nya. Ketiganya merupakan potensi yang ada dalam setiap diri manusia, tetapi masing-masing memiliki keunikan sehingga proporsinya berbeda satu sama lain.

Dengan mengambil ketiga istilah di atas, kita bisa menggali diri masing-masing apakah kita memiliki kecenderungan sebagai manusia nilai, manusia pasar, atau manusia istana. Setiap kecenderungan, tidak lantas melepaskan manusia dari dua potensi lainnya. Ketiganya membentuk orkestrasi dalam perilaku hidup kita sendiri-sendiri. Ketika kita menemukan keseimbangannya, maka bisa dikatakan kita telah berhasil menunaikan tugas selama menjalani masa outbond di dunia.

Dalam konteks ini, manusia nilai adalah para guru, tenaga kesehatan, seniman, budayawan, dan segala bentuk tindakan pengabdian yang menekankan aspek kebenaran, kebaikan, dan keindahan sebagai patokannya. Sedangkan manusia pasar adalah para pedagang, makelar, dan segala bentuk tindakan yang berkaitan dengan urusan perekonomian dalam rangka memenuhi kebutuhan hajat hidup. Sedangkan manusia istana adalah para pengambil kebijakan, baik dalam elemen terkecil sebagai pemimpin diri sendiri, keluarga, hingga dalam lingkup yang sangat besar seperti negara.

Manusia nilai, tetap memiliki potensi sebagai manusia pasar dan manusia istana. Namun demikian, karena kecenderungan utamanya adalah pada nilai, maka ia meletakkan pasar dan istana di bawah kekang nilainya. Ia tidak menjadikan nilai sebagai alat untuk memburu pasar dan istana. Demikian pula manusia pasar, ia selalu memegang nilai untuk membangun pasar yang berkualitas dan bermanfaat. Juga tidak memperalat istana demi meraih keunggulan pasarnya sendiri. Demikian pula manusia istana, ia tidak akan menjual nilai demi mendapatkan pasar. Justru ia gunakan istananya untuk menjaga nilai dan mengendalikan pasar.

Namun pada kenyataannya sekarang, manusia sedang dalam kondisi tidak seimbang. Ada manusia nilai yang justru mengejar pasar atau istana. Ada manusia pasar yang memperalat istana dan mengebiri nilai. Ada pula manusia istana yang menjual nilai demi mendapatkan pasar. Perilaku semacam ini menghasilkan ketidakseimbangan personal dan berakibat pada kekacauan komunal. Itulah mengapa Mbah Nun memberikan kado berupa empat essay tersebut sebagai wujud kasih sayang seorang sesepuh kepada anak cucunya agar waspada dan mau menata diri masing-masing sehingga tidak ikut hanyut dalam arus deras kerusakan ini.

Kita perlu menerke kiblat kita, agar tidak salah arah. Kita perlu menerke kiblat kita, agar perjalanan outbond di dunia ini husnul khatimah.(YAP)

Tulisan terkait