Menu Close

Tuning

0Shares

Mengapa manusia diciptakan? Al-Quran bisa dijadikan sebagai salah satu referensi untuk menggali jawabannya. Di sana, disebutkan bahwa manusia diciptakan agar menjadi khalifah di muka bumi dan untuk menjalankan ibadah kepada-Nya. Di kitab-kitab suci lain yang diimani oleh pemeluknya, juga diuraikan tentang alasan itu dengan kekhasan pemahamannya masing-masing.

Apa itu khalifah? Salah satu terjemahannya adalah wakil. Maka secara tadabur, menjadi wakil Tuhan adalah membawa mandat/ tugas tertentu yang harus dijalankan selama out bound  di kehidupan dunia. Karena membawa mandat, maka sudah pasti dibekali fasilitas dan potensi. Tindakan menjalankan mandat/ tugas dengan kesadaran penuh untuk dipersembahkan pada-Nya itulah hakikatnya dari ibadah.

Namun realitanya, seperti yang kita rasakan sendiri, ada semacam ketidaksambungan antara apa yang idealnya berjalan dengan kenyataan di lapangan. Semakin modern manusia, alih-alih kehidupannya harmoni dan alamnya terpelihara, justru yang ada adalah kerusakan dan keretakan bangunan sosial yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Maka dari itu, perlu kita gali kembali apa yang terputus dan apa yang telah dilupakan oleh umat manusia di zaman ini.

Modernisme memiliki cirinya sendiri, yakni membentuk manusia untuk menjadi “tuhan”. Mereka meletakkan dirinya sebagai subyek super yang bisa menjadi apa saja, berbuat apa saja sekehendaknya hingga menimbulkan berbagai masalah baik antar sesama manusia, antar kelompok manusia, manusia dengan makhluk lainnya, dan semua itu bermuara pada hal yang sama, fasad atau kerusakan. Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang sejak dahulu telah diajarkan para leluhur kita, terlebih dipatenkan dalam kitab suci tentang posisi manusia yang seharusnya di hadapan Sang Maha Kuasa.

Menyimak wedharan Mbah Nun akhir-akhir ini, beliau menawarkan sebuah metode tentang membaca potensialitas pada setiap manusia yang terdiri dari manusia nilai, manusia istana, dan manusia pasar. Ketiganya merupakan potensi yang ada di dalam diri manusia dengan proporsionalitas yang berbeda di antara sesama manusia. Kecenderungan modernisme, menomorsatukan potensi manusia pasar di atas segalanya, menyalahgunakan potensi manusia istana, dan mengabaikan potensi manusia nilai.

Seharusnya tidak demikian. Agar terbentuk keseimbangan dalam sistem di kehidupan ini, masing-masing manusia yang merupakan khalifah pasti memiliki takarannya sendiri-sendiri atas ketiga potensi itu. Sebab dengan takaran itu, dia akan berperan dalam kehidupan.

Ada yang porsi manusia nilainya lebih dominan, maka dalam perannya ia bisa menjadi begawan bagi manusia lain. Potensi manusia pasar dan nilai yang dimilikinya membuatnya menjadi begawan yang mandiri dan kuat. Ada yang porsi manusia istananya lebih dominan, maka dalam perannya ia lebih banyak mengelola sistem yang berguna bagi manusia lainnya. Potensi manusia nilai dan manusia pasar yang dimilikinya membuatnya tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Demikian pula ada yang porsi manusia pasarnya lebih dominan, maka dalam perannya ia lebih banyak menggerakkan roda perekonomian untuk menjadi sebab kesejahteraan bersama. Potensi manusia nilai dan manusia nilai dan manusia istana yang dimilikinya membuat dirinya tidak menomorsatukan keuntungan untuk dirinya sendiri.

Maka dari itu, sangat perlu bagi kita untuk melakukan tuning. Tuning kalau dalam dunia radio adalah cara kita memutar-mutar roda pencari frekuensi sampai diperoleh frekuensi yang tepat dari sebuah siaran radio. Maka tuning diri adalah upaya kita menyelami potensi diri kita, jika meminjam metodologi Mbah Nun tadi adalah mengukur proporsi antara manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana dalam diri kita. Ketika kita bisa mendapatkan jawaban yang mendekati presisinya, semoga kita mendapatkan frekuensi ilahiah yang tepat sehingga dapat menuntun kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar sesuai mandat yang kita terima. Dengan tuning yang pas, diharapkan kita akan bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. (YAP)

Tulisan terkait