Menu Close

Peradaban Konflik

0Shares

Konflik, sebuah kata yang kehadirannya sering kali menjadi alasan dari seseorang atau sebagian dari anggota kelompok tertentu memilih diam, non aktif, atau bahkan undur diri dari kelompok tersebut. Sesakti itukah sosok bernama konflik?

Secara bahasa arti kata konflik adalah pertentangan, perselisihan, percekcokan. Bila manakah kehadirannya? Sebenarnya konflik ini merupakan sesuatu yang mewujud akibat sebuah proses ataukah sejatinya memang ia pasti adanya? Merupakan sesuatu yang be coming ataukah common of being?

Jika manusia dalam satu type, satu hobi, satu pandangan berkumpul apakah lantas kemungkinan konflik menjadi semakin kecil? Coba kita tengok Indonesia, jika hanya ada satu partai politik saja di negeri ini apakah menjamin keselarasan dan tidak ada konflik? Oke, satu kabupaten sajalah. Nyatanya kini di sekitar kita persaingan dengan saling lempar kelemahan antarbakal calon pemimpin (black campaign) terjadi dalam satu rumah partai. Ah, terlalu jauh kita bicara negara. Rumah tangga sajalah. Pernikahan yang terbangun atas sepasang manusia yang sedari awal memiliki kesamaan persepsi bahkan kesamaan misi, hobinya samasama pencinta alam, misalnya, apakah ada jaminan pernikahan itu akan langgeng tanpa perselisihan?? Nyatanya tidak juga. Banyak pasangan kekasih yang akhirnya ambyar meskipun berangkat dari kesamaan. Malah ada yang berangkat dari banyak perbedaan, berawal dari tidak saling mengenal justru berlangsung langgeng. Jadi apa dan mengapa sebenarnya konflik?

Coba kita lebih persempit lagi ke hal paling sederhana. Seandainya hidup ini adalah hanya ada saya, atau hanya ada Anda seorang diri apakah konflik tidak akan terjadi?? Bahkan saya sendiri merasakan perdebatan sengit setiap hari terjadi di kepala dan hati saya. Satu contoh, pengetahuan saya menginformasikan bahwa membuang sampah sembarangan mengakibatkan banyak keburukan. Dalam diri saya menghendaki sesuatu yang baik, mana yang baik maka itu yang akan saya lakukan. Eh, nyatanya saya masih juga membuang sampah semaunya. Antara pengetahuan, perasaan, akal, nurani sudah satu kata tapi dalam hal sikap masih juga melahirkan ketidakseiramaan. Apakah ini aneh? Tidak juga. Itulah konflik. Itu pun baru soal buang sampah tuan-tuan, belum soal skandal haram, perselingkuham, korupsi dan hal-hal besar lainnya.

Coba kita tengok kitab suci, apa kata Tuhan? “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat saja (ummatan wahidatan), tetapi Allah hendak mengujikalian terhadap anugerah-Nya kepada kalian, makaberlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maidah (3) : 48)

Tuhan tegas bukan? Ya, sudah jelas. Konflik pasti ada dan harus ada. Dengannya lahir dinamika. Hanya tinggal bagaimana kita bersikap. Selebihnya mari kita hadir belajar dan berbagi bersama soal ini. Mari berkonflik dengan sehat bersama Suluk Surakartan. Tabik.

Tulisan terkait