Menu Close

Champion

0Shares

Ramadan tahun ini tidak terasa sudah masuk di sepuluh malam terakhir, yang artinya kita sudah di penghujung bulan menuju Hari Raya Idul Fitri, atau dalam bahasa Jawa sering disebut Badha atau Riyaya.

Seperti yang kita ingat bersama, kurun waktu dua tahun yang lalu, Ramadan perdana kita telah dibersamai makhluk kecil yang cukup menggemparkan bumi, yaitu satu virus yang kita kenal sebagai Covid-19. Makhluk kecil yang membuat banyak hal terasa berbeda, karena pada akhirnya manusia dipaksa mengubah banyak sistem budaya yang telah berjalan begitu lama.

Adanya larangan berkerumun memaksa kita untuk lebih waspada, disusul munculnya beberapa peraturan dari pemerintah. Seperti pembatasan aktivitas peribadatan agama, tentu hal ini sangat berdampak pada para pemeluk agama termasuk umat Islam, seperti ketika ingin berjamaah salat wajib atau salat sunah tarawih hingga peribadatan lain saat bulan Ramadan di masjid, menjadi terbatas bahkan tidak bisa.

Ada pula pelarangan mudik atau pulang kampung, pembatasan aktivitas jual beli, dan masih banyak peraturan yang lain. Hal ini juga sangat mengubah atmosfer, budaya kebiasaan umat Islam pada saat Ramadan hingga sampai menuju kemenangan pada hari raya.

Patut kita semua mentadaburi apapun kejadian yang ada, mungkin saja kita sedang diajarkan langsung oleh Tuhan untuk benar-benar berpuasa, menahan diri atas apa pun, menahan diri untuk tidak riya’ ataupun foya-foya, hingga berada diperibadatan sunyi.

Apakah kita sedang diajarkan langsung oleh Tuhan memaknai puasa dengan sebenar-benarnya, agar kita tahu bahwa arti kemenangan itu apa, dari apa untuk apa? Hingga menjadi Champion sejati. (AF)

Tulisan terkait