Menu Close

Mengalami Keutuhan

Setiap manusia pada dasarnya merindukan keutuhan, sebuah kondisi ketika diri, pikiran, perasaan dan tindakan dapat selaras. Namun, sering kali hidup justru tercerai berai oleh berbagai hal dan tekanan: pekerjaan, hubungan sosial, trauma masa lalu, juga kecemasan terhadap masa depan. Akibatnya, kita hidup dengan potongan potongan diri yang berjalan sendiri sendiri. Keutuhan berubah menjadi sesuatu yang asing, padahal ia adalah kebutuhan mendasar bagi jiwa.

Keutuhan bukanlah kondisi ideal yang datang tiba tiba, melainkan pengalaman yang dibangun. Ia lahir ketika manusia mampu mengalami dan menerima dirinya secara penuh, menyatukan luka dengan pendewasaan, kegagalan dengan pengalaman, serta marah dengan pemahaman diri. Seperti tubuh yang sehat karena seluruh organ bekerja serasi, jiwa pun menemukan ketenangan ketika dimensi dimensinya terhubung.

Mengalami keutuhan berarti berani menghadapi realitas tanpa lari. Menerima kondisi apapun tanpa kehilangan gairah semangat atau hilang keseimbangan. Keutuhan bukan sekadar konsep menghadapi hal dari luar, tetapi juga jalan panjang untuk menerima semua lapisan diri yang telah dialami. Lewat refleksi diri terus menerus, kerendahan hati dan konsistensi untuk menyadari.

Pertanyaannya, bagaimana kita menemukan jalan menuju keutuhan di tengah zaman yang terpecah ini. Bagaimana kita berusaha bahwa pengetahuan, keyakinan, dan tindakan kita tidak hanya berjalan sendiri sendiri, tetapi saling menguatkan. Apakah kita dapat berdiri utuh sebagai pribadi, sebagai masyarakat dan sebagai manusia?.

(Redaksi Suluk Surakartan)

Tulisan terkait