Menu Close

Mupus

Hidup manusia selalu bergerak di antara pertemuan dan kehilangan. Setiap hari, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita belajar berpisah dengan momen, dengan harapan, dengan orang lain, bahkan dengan diri kita yang kemarin. Dalam setiap perpisahan, barangkali ada sesuatu yang tidak sekadar selesai. Mungkin di sanalah tersirat makna mupus, suatu konsep kesadaran untuk menyudahi sesuatu dengan lapang dan penuh penerimaan, walaupun memang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata.

Dalam diri manusia, tidak pernah ada akhir yang sungguh-sungguh. Di bawah kulit batin yang lama, sesuatu selalu tumbuh. Alam memberi contoh melalui ular yang mlungsungi, menanggalkan kulit lamanya bukan karena sesuatu hal yang dibenci, tetapi karena waktunya telah tiba untuk bertumbuh. Begitu pula manusia, kita hanya bisa melangkah ketika berani meninggalkan lapisan-lapisan diri yang tak lagi sesuai. Proses itu sering terasa berat, tidak nyaman, bahkan menyakitkan, tetapi justru di sanalah proses itu menumbuhkan kita.

Mupus barangkali bukan soal berhenti semata. Ia hadir di antara yang telah pergi dan yang sedang tumbuh. Di dalamnya mungkin ada keikhlasan, ada kesadaran bahwa setiap yang berlalu membawa ruang bagi yang baru. Tidak ada kesimpulan di sini, hanya pemaknaan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya untuk selesai.

Dan pada akhirnya, tumbuh bukan berarti bertambah besar, tetapi bertambah halus dalam rasa dan pengertian. Dari kerak luka lahir kulit kesadaran baru. Dari kehilangan muncul kejernihan. Mungkin di situlah menusia akan selalu belajar agar tetap setia menjadi manusia.

(Redaksi Suluk Surakartan)

Tulisan terkait