Menu Close

Ajur Ajer

0Shares

Ajur ajer bukan soal primordialisme. Meskipun memang lahir dalam bahasa jawa, namun ia bukan upaya mendoktrinasi semua orang menjadi seorang (suku) Jawa. Bukan paham, bukan aliran atau bahkan ideologi. Ajur ajer adalah salah satu dari sekian banyak metode yang orang jawa gunakan untuk sesrawungan.

Ajur berarti hancur atau melebur sedangkan Ajer berarti mencair. Dalam nasehat bijak jawa dirangkai menjadi manjing ajur ajer. Yang jika dimaknai menjadi masuk melebur dan mencair menjadi satu wujud, atau wujud yang sama.

Dalam pergaulan kehidupan, ajur ajer menjadi penting. Dimana ajur ajer mengajarkan kepada kita untuk merendah, menjadi sama atau bahkan menjadi tinggi. Makna ini lebih dalam daripada sekedar adaptasi.

Dalam naskah pewayangan tidak asing mendengar sosok Semar. Sosok yang dikenal sebagai abdi pada pandawa ini menjadi satu contoh tentang ajur ajer. Sebagai wujud asli sebagai Batara Ismaya (kakak dari batara guru) ia menjelma sedemikian rupa menjadi seorang semar, yang bergaul dengan para punakawan, datang untuk menghibur satu waktu dan sebagai penasehat waktu lain kemudian. Semar mampu ajur melepaskan baju ke-dewa-annya dan ajer menjadi manusia biasa.

Namun ajur ajer tidak bisa dimaknai sebagai sifat yang tidak memiliki pendirian tetap. Dalam metode ajur ajer, sifat asli tetaplah karakter asli. Namun sikap menyatu dengan situasi yang lebih diutamakan.

Ajur ajer bukan juga pencitraan. Sebagaimana para pelaku politik mempraktekannya. Berpura-pura ajur dan seakan-akan ajer untuk meraih simpatik dari orang lain. Padahal sama sekali ia belum menanggalkan pakaian kebesarannya. Artinya ajur dan ajer hanya bungkusnya. Karena ia mendasarkan sesrawungan pada kepentingan. Bukan dengan landasan Allah sebagai tujuan akhir.

Begitu kira-kira tentang ajur ajer. Topik pembicaraan klasik namun tanpa disadari ia adalah ilmu kehidupan.

Tulisan terkait