Menu Close

Sing Poso Sopo? Sing Bakdan Sopo?

0Shares

Di bulan nan suci ini, merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan perjalanan ritus ibadah puasa yang kita jalankan selama ini. Apakah kualitas ritual puasa yang kita jalankan selama ini sudah sesuai dengan puasa yang dijalankan Kanjeng Nabi Muhammad, sahabat, tabi’in, tabi’at? Ataukah puasa Ramadhan yang kita jalankan hanya semata merubah jadwal makan semata?

Sebelum terlebih jauh, mari kita cermati terlebih dahulu surat Al-Baqarah 183 yang merupakan ayat yang dijadikan salah satu rujukan umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa. Pada surat tersebut, terdapat beberapa point penting tersirat untuk kita perhatikan bersama. Pertama, bahwa sebelum umat muslim mengenal perintah puasa.  Sejak jauh-jauh hari sebelum umat Kanjeng Nabi Muhammad menjalankan ibadah puasa, ternyata umat terdahulu sudah menjalankan ritus tersebut. Entah bagaimana mekanisme ibadah yang mereka jalankan pada zaman dahulu. Misalnya di jawa mengenal puasa ngrowot, weton, mutih, ngebleng, pati geni  dll.

Kedua, tujuan dari perintah puasa ialah menjadikan orang bertaqwa, karena dengan berpuasa kita dapat menjaga syahwat dan membendung segala macam kemaksiatan. Pada point inilah beberapa ulama maupun orang-orang memahami bahwa ini adalah substansi dari puasa. Yang dimana puasa bukan hanya sekedar menahan lapar atau merubah jam makan semata.

Dari makna point yang kedua ini memiliki dimensi yang begitu luas baik itu sosial, ekonomi, politik, pendidikan dll. Semisalnya  saja dari puasa yang kita jalankan, apakah berdampak positif bagi diri kita maupun orang yang berada disekitar kita? Dan itulah nilai yang paling dasar dari setiap ibadah. Salah satu syariat dari ajaran puasa yang sering kita dengarkan dari ulama ialah menahan lapar atau mengurangi tempo makan. Tapi kenapa selama bulan ramadhan sejak dari dulu, kebutuhan sembako mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kebutuhan diluar bulan Ramadhan?

Hal ini menarik untuk kita kaji secara mendalam. Ketika dilihat dari dimensi ekonomi, ibadah puasa dibulan ramadhan seharusnya akan menghemat kebutuhan kita sehari-hari dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Apakah ini merupakan tradisi bulan ramadhan sejak dari zaman Kanjeng Nabi Muhammad? Ataukah ini merupakan permainan dari cukong-cukong untuk mengeruk rente/keuntungan? Atau bahkan, ini merupakan salah satu strategi kebudayaan yang direncanakan oleh musuh-musuh islam untuk melemahkan atau mengurangi kualitas ibadah puasa dari umat muslim?

Pertanyaan diatas merupakan kemungkinan/pengandaian yang bisa benar dan bisa salah. Namun,  bukan tidak mungkin pertanyaan di atas tadi menuju sebuah kebenaran. Sebab, beberapa kali simbah di mocopatan atau di forum maiyahan sering memperingkatkan agar kita tetap waspada dan hati-hati terhadap musuh-musuh islam indonesia dan jawa.  Setelah Arab Spring, target yang akan dihancurkan selanjutnya ialah islam indonesia dan jawa, kurang lebih begitu tutur simbah. Selain itu juga, dapat dipastikan bahwa dalam setiap peribadatan islam pasti mempunyai transformasi sosial. Namun jika peribadatan tak mampu mengalami transformasi sosial, sudah barang tentu pasti ada yang salah. Entah salahnya dari in-person atau by setting. Waallahu A’lam Bi-Alshawab.

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait