Menu Close

Sura Muharam

0Shares

Sejak manusia ditugaskan hidup di bumi, peradaban demi peradaban tumbuh dan runtuh silih berganti. Pada mulanya manusia mampu menggunakan akal budinya untuk membangun kebudayaan sesuai titah-Nya. Namun seiring berjalannya waktu, akal budi manusia kian mengalami degradasi akibat menuhankan nafsunya setelah digoda oleh Iblis.

Allah pun menugaskan para Nabi silih berganti untuk mengajarkan Islam. Islam adalah tatanan nilai-nilai yang mengembalikan manusia agar membangun kebudayaannya secara benar sesuai garis Ilahi. Sampailah konsep Islam yang paling paripurna dibawa oleh Nabi Muhammad agar dikabarkan kepada seluruh umat manusia agar mereka mampu membangun kebudayaannya dengan baik.

Ketika Islam menyapa tanah Jawa, masyarakat Jawa menerimanya. Kepekaan rasa yang menjadi intisari kebudayaan masyarakat Jawa membuat mereka seolah tidak asing dengan Islam yang dibawa para wali. Demikianlah harmonisasi Islam dan Jawa terjadi. Islam adalah nilai dan prinsip, sedangkan Jawa adalah realitas kebudayaan di mana manusia-manusia Jawa mempraktikan laku kehidupan sesuai dengan Islam.

Ketika Sultan Agung memegang tampuk kepemimpinan Mataram, situasi pulau Jawa berada dalam keretakan sosial yang cukup mengkhawatirkan. Penyatuan Jawa dan Islam yang telah dirintis para wali sejak beberapa ratus tahun sebelumnya, terancam tercerai kembali. Masyarakat pesisir utara yang sangat Islami terancam berbaku hantam dengan masyarakat Jawa pedalaman.

Dengan kearifannya, beliau melakukan serangkaian upaya untuk membuat Islam yang merupakan prinsip-prinsip utama dari langit tetap menyatu dengan Jawa yang merupakan realitas kebudayaan dan titah yang ditetapkan untuk manusia di pulau Jawa. Melalui sistem kalender Jawa Islam dan beberapa kebijakannya yang penuh kearifan, masyarakat Jawa tetap bersatu di bawah panji-panji Mataram dengan tanpa kehilangan kearifannya.

Narasi sejarah itu penting untuk kita hadirkan kembali di zaman ini, ketika sekarang kita menjumpai bagaimana Islam kembali akan diceraikan dengan Jawa. Ada langkah-langkah sistematis yang terus merongrong harmonisasi Islam dan Jawa yang telah lama dibangun. Jawa selalu disudutkan sebagai sesuatu yang buruk di mata Islam. Hal ini membuat tatanan masyarakat Jawa Islam yang sudah adem ayem menjadi gerah.

Sejalan dengan itu, di bulan Sura atau Muharram ini, inspirasi itu perlu digali kembali. Agar tradisi-tradisi yang berjalan tidak kosong dari maknanya. Agar tidak terjadi lagi pertentangan-pertentangan yang sifatnya diametral karena ketidakpahaman masyarakat atas harmonisasi Jawa dan Islam. Karena di tanah ini, Islam membutuhkan Jawa agar menjadi peradaban. Di lain pihak, Jawa sangat memerlukan Islam agar tidak kehilangan hakikatnya.

Dengan demikian, tema maiyah besok Jumat Malam, 22 September 2017, adalah “Sura Muharam”. Penting sekali kita melihat dialektika Islam dan Jawa yang telah dibangun para wali. Dari jejak mereka, semoga kita bisa menghadirkan Islam sebagai semesta yang menjadi ruh perjalanan peradaban Jawa agar sampai pada kesejatiannya.

Tulisan terkait