Menu Close

Laa Hawla Wala “Kuota” Illa Billaah

27Shares

Kekuatan Energi Maiyah

Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, Maiyah selalu menghadirkan nuansa yang berbeda dengan majelis ilmu lainnya. Terutama dalam hal jamaahnya. Karena jamaah yang hadir dalam majelis memiliki latar belakang yang begitu kompleks. Dari yang jebolan pondok pesantren, akademisi, driver ojek online, makelar tanah, mantan preman, mantan pengedar narkoba dsb, semuanya melingkar menjadi satu kesatuan didalam tali paseduluran Maiyah. Itulah yang menjadikan suatu hal yang ngangeni dan sayang untuk dilewatkan. Apalagi dua bulan beruntut saya tak dapat melingkar bersama.

Maka dari itu sejak malam sebelum hari H, sudah saya niatkan untuk melingkar bersama sedulur-sedulur Maiyah Suluk Surakartan. Namun, niat tersebut sedikit demi sedikit mulai pudar, ketika mampir di sekretariat kabupaten untuk numpang mandi dan istirahat sejenak setelah futsal di sore hariya. Setelah mandi nyantai di kursi luar sekretariat sambil menikmati segelas plastik kopi dan menyibukkan diri dengan gadget, lama kelamaan rasa capek muncul sedikit demi sedikit. Pada kondisi tersebut paling nikmat mlungker dibawah perlindungan  selimut dari dinginnya malam.

Dari kondisi tersebut merubah rencana awalku yang semulanya hanya sejenak untuk numpang istirahat berubah magrok berjam-jam di sekretariat. Sekitar jam setengah 8 malaman teman-teman yang nglembur nampaknya sudah kecapekan dan ngajak untuk pulang. Baru setelah itu ku niatkan untuk berangkat melingkar bersama dulur-dulur lainya. Dalam hatiku berkata, halah mesti engko kesele yo ilang sitik-sitik, dan langsung saja dengan nyantai menuju ke barat agak condong ke selatan alias kerumah Maiyah Suluk Surakartan. Ketika berada di jalan saat beberapakali, saya sering kehilangan fokus atau pikiran mblayang kemana-mana. Sehingga niat awalnya ingin lewat Karanganyar dalam kota ealah… malah jadinya lewat pinggiran kota dan baru sadar sekitar setengah kilometer melewati dari jalur menuju tengah kota, tapi Alhamdulillah akhirnya sampai juga di TKP.

Namun sesampainya di sekitaran TKP, saya tak segera menuju keatas TKP, tapi sepeda saya arahkan se dikit kebarat pasnya di Hik Pak Pon (Hik miliknya Bapak yang yang memparkiri kendaraan bermotor jamaah yang hadir di rutinan Suluk Surakartan) untuk meredakan perut melilit. Setelah meredakan perut yang melilit kemudian menuju TKP dan say hello dengan sebagaian dulur-dulur yang sudah hadir. Dan rasa capek dikit demi sedikit mulai hilang dan terlupakan seiring dengan berjalannya waktu hingga selesainya acara sekitar jam 2-an pagi. Apakah mungkin itu kekuatan yang diberikan oleh Sang Khalik melalui pancaran energi para Al-Mutahabbina Fillah pada malam itu.

 

Kuota: Jatah Paketan & Jatah hidup

Bagi masyarakat yang konon menyebut dirinya modern, Kuota data internet seolah-olah sudah menjadi sebuah kebutuhan primer (pokok) bagi kehidupan sehari-harinya. Begitu pentingnya kuota bagi kehidupan sehari-hari, bagi sebagian orang bisa menyebabkan gundah gulana apabila kehabisan kuota internet. Tak terkecuali yang nulis ini he he.  Terkadang demi membeli kuota kita rela menggurangi jatah kebutuhan pokok lainnya. Berbagai macam kita mengunakan atau menghabiskan jatah kuota yang kita beli. Entah itu untuk kebutuhan komunikasi, transaksi jual-beli sampai mencari kesenangan didunia maya melalui fitur-fitur yang tersedia.

Ketergantungan manusia saat ini pada kuota tak dapat kita pungkiri lagi. Sehingga para perusahan telekomunikasi saling berlomba-lomba dengan menawarkan berbagai macam fasilitas demi meraup pundi-pundi uang dari konsumennya. Semakin banyak orang yang tergantung pada kuota, maka semakin senang perusahan telekomunikasi tersebut. Karena semakin banyak keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Menyikapi kondisi tersebut, para Penggiat Maiyah Suluk Surakartan di rapat Pawon sepakat pada pertemuan yang ke 32 mengangkat tema “Manusia Kuota” dengan narasumber pemantik sinau bareng Pak Asad Munir, Mas Hariyanto dan Mas Sigit. Dari ketiga narasumber pemantik tersebut saling melengkapi satu sama lain. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda dalam memantik acara sinau bareng pada malam itu. Mas Har dengan pendekatan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Pak Asad dengan kontekstualisasi ayat-ayat kauniyahnya. Dan sedangkan Mas Sigit dengan pendekatan sejarah kebudayaan Jawanya. Apalagi dengan ditambahi pembawa musik yang bisa membawakan berbagai macam aliran musik. Sehingga dengan hal tersebut menjadikan acara sinau bareng menjadi lebih khidmat.

Ketika kita mendengarkan kata “Kuota”, pasti dalam benak pemikiran kita langsung terhubung dengan sesuatu hal yang memiliki kapasitas. Bisa saja Kuota Internet, Kuota Haji, hingga Kuota ekspor-impor dll. Mungkin kita lupa kuota bisa kita hubungkan dengan jatah hidup kita di dunia ini. Sampai umur berapa hidup kita di dunia, jatah kita didunia kita habiskan untuk apa. Dalam hal jatah umur, saya teringat pertanyaan yang dilontarkan Simbah pada Mocopat Syafaat beberapa waktu yang lalu, yaitu tentang jatah hidup kita didunia ini berdasarkan jatah umur atau berdasarkan jatah detak jantung? Dan ini sangat menarik untuk kita eksplorasi secara mendalam.

Pada sesi kedua sinau bareng malam itu diawali dengan ajakan Mas Har untuk menceritakan tentang pengalaman hidupnya dari sebuah biji buah matoa yang lambat laun mampu memberikan asas kebermanfaatan bagi sekitarnya. Ia menganologikan biji matoa tersebut seperti halnya sebuah kebenaran yang seharusnya kita perlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana sebuah kebenaran bukan untuk dipertarungkan akan tetapi untuk kita simpan, kita rawat atau kelola didalam diri kita agar memberikan kebermanfaatan bagi sekitar kita.

Lebih jauh lagi, beliau mengajak kita bersama untuk merefleksikan kembali kehidupan manusia prototipe (Kanjeng Nabi Muhammad) yang kita jadikan sebagai suri tauladan bersama. Dari bagimana dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga dalam berTuhan. Memang sulit  untuk menyamai atau itiba’ kepada kekasih kita bersama dalam segala hal. Namun setidaknya dan sebisa mungkin kehidupan kita harus selalu terkoneksi dengan beliau. Karena didunia ini yang bisa menolong kita hanya Sang Khalik dan syafaat baginda Kanjeng Nabi Muhammad.

Menyinggung soal kuota atau fasilitas yang diberikan Gusti Pangeran pada kita, Mas Har mencoba memberikan penjelasan tentang hasil tadaburnya kepada teman-teman tentang tingkatan manusia dimuka bumi ini. Yang pertama ialah jenis manusia kuota unlimited (manusia prototipe), Wama Arsalnaka Illa Rahmatan Lil ‘Alamin. Jenis manusia ini hanya satu di dunia dan tak ada duanya. Karena beliau diutus di muka bumi ini sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan beliau merupakan rujukan utama bagi seluruh makhluk di muka bumi ini dalam menjalankan kehidupan.

 Tipe manusia yang kedua ialah manusia kuota maksimal (Kekhalifahan). Tipe manusia yang kedua ini merupakan manusia yang mampu melakukan inovasi, mampu mngekhalifahi apapun. Tentunya untuk menjadi manusia kuota maksimal ini sebelumnya harus melampaui kuota sedang.

 Tipe ketiga, manusia kuota sedang (Abdullah), manusia yang masih dalam tahap menirukan laku hidup maupun ajaran beliau dari proses pembelajarannya (ittiba’ rasul). Sedangkan tipe yang keempat ialah manusia kuota minimal, ilmunya adalah niteni, pada fase manusia di tipe ini merupakan fase yang paling bawah. Itu bukaan menjadi soal asalkan kita mau untuk belajar menaikkan kualitas kuotanya.

 

Komunikasi Jarak Jauh yang Gratis, Ya Telepati.          

Jika pada saat ini, hampir sebagian besar manusia dalam berkomunikasi jarak jauh sudah tergantug pada alat bantu komunikasi. Itu berbeda balik dengan kondisi pada masyarakat pada zaman dahulu kala. Sering terdengar ditelinga kita, simbah-simbah kita pada zaman dahulu, dalam berkomunikasi jarak jauh tanpa tergantung alat bantu (telepati). Kenapa kemampuan manusia sekarang jarang yang bisa seperti itu? Menurut Mas Sigit selaku mantan peneliti atau arkeolog dari UNESCO selama belasan tahun, lain dan tak bukan disebabkan karena bangsa Nusantara sedang dikerdilan kepercayaan dirinya. Padahal bangsa Nusantara sudah maju dalam peradabannya.

Namun karena sedikit keberhasilan diri para elit barat (kelompok berkepentingan) yang tak suka dengan kemajuan peradaban timur terutama Nusantara tersebut, mampu memutarbalikkan pencapaian mayoritas masyarakat Nusantara yang X menuju Y sesuai pencapaian-pencapaian yang barat atau dunia modern saat ini. Hal tersebut diperparah dengan kegagapan pada pencapaian barat pada saat ini. Misalnya saja, kita gagap dengan pantonim dengan segala cerita yang tersirat dalam geraknya. Padahal kita sudah dulu mempunyainya yang terdapat dalam sendratari atau tari lainnya yang jauh lebih kompleks dan filosofis.

Begitu penasarannya tentang pola komunikasi jarak jauh nenek moyang kita dahulu, Kang Kenyot selaku moderator sinau bareng pada malam itu mencoba mengorek lebih mendalam kepada Mas Sigit tentang bagaimana mereka melakukannya. Proses komunikasi jarak jauh orang dahulu dengan cara telepati. Dalam proses telepati tersebut nenek moyang kita menggunakan rapalan mantra atau orang sekarang menyebutnya dengan doa.  Sehingga yang menjadi server penghubungnya bukan alat buatan manusia. Tapi Gusti Pangeran langsunglah yang menjadi penghubung kedua belah pihak yang ingin berkomunikasi jarah jauh. Dari ulasan Mas Sigit tersebut, saya teringat tentang novel pacara merah yang salah satunya babnya mengulas cerita tentang telepati dengan kawannya yang sedang mengalami kondisi terjepit saat diikuti dan mau disergap intelejan. Terlintas dalam benak pemikiran saya, betapa asiknya bisa melakukan komunikasi seperti itu. Sudah hemat biaya, dan sulit disadap oleh orang lain.

Merespon soal parameter pencapaian bangsa Nusantara yang mengalami pergeseran, Pak Asad mencoba menceritakan kearifan lokal masyarakat dahulu yang memiliki kebudayaan yang adiluhung. Bangsa timur (India, Cina, Arab, Nusantara dll) dahulu sebenarnya memiliki indikator pencapaian X yang mana bangsa Nusantara memimpin dalam pencapaian peradaban tersebut. Itu berbanding terbalik dengan bangsa barat jauh dibelakang kita karena berbagai kondisi alamnya. Maka dari hal tersebut barat memiliki pencapaian yang berbeda, yaitu Y. Namun dengan seiringnya waktu dengan rekyasa konspirasi yang dilakukan oleh barat, seluruh bangsa dipenjuru muka bumi ini malah mengikuti pencapaian-pencapaian dari bangsa barat yang berpathok pada Y. Sehingga dengan hal tersebutlah bangsa Nusantara pada saat ini berada diurutan belakang dalam peradaban.

 

Kesejahteraan Zaman Now

Tak ayal lagi, jika leluhur kita dahulu belajar atau berguru pada seluruh makhluk yang ada dialam semesta ini. Maka Bangsa Nusantara pada saat ini belajar atau berguru tergantung pada instasi pendidikan formal yang cenderung bersifat kapitalistik dan dikotomis. Sehingga kita saling berlomba menyekolahkan anak atau menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar tak terbelakang mengapai peradaban saat ini. Sedangkan bagi yang tak mengenyam pendidikan formal seringkali mendapatkan stigma terbelakang.

Begitu pula dengan memaknai kesejahteraan dan kemiskinan yang menurut bapak enam anak ini, telah mengalami penurunan kelas pemaknaan. Sehingga tolak ukur kesejahteraan diukur dari seberapa ia memiliki kekayaan yang ia miliki. Atau sebaliknya, miskin itu seseorang yang berada dalam kondisi kekurangan ekonomi. Beliau mencoba mengutip pendapat rekannya yang memberikan pemaknaan tentang miskin dan fakir. Menurut rekannya tersebut, orang miskin adalah mengambil satu dari sepuluh. Sedangkan fakir adalah membayangkan sepuluh, sementara yang diambil adalah satu, kutipnya.

Menyinggung soal perekonomian, Pak Asad mencoba seberapa kayanya Kanjeng Nabi Muhammad yang mampu meminang Siti Khodijah dengan mas kawin 100 ekor onta. Seandainya onta tersebut dinominalkan dengan rupiah sekarang berapa? Kesuksesan Kanjeng Nabi dalam hal perekonomian dalam beberapa hal coba diterapkan oleh Tiongkok. Misalnya saja tentang kehidupan sederhana Baginda Muhammad setelah mendapatkan amanah Nabi dari Allah. Bahkan sehari beliau bisa tak makan? Kenapa kondisi ekonomi beliau bisa begitu? Menurut Pak Asad, bahwa seluruh kekayaannya ia serahkan kepada ahlinya untuk diurus dan digunakan untuk kepentingan umat. Hal yang sama itulah yang diterapkan oleh pemerintah cina dalam membesarkan Alibaba dengan memberikan dana endowmen (dana abadi untuk dikembangkan dengan tujuan pengembangan masyarakat).

Berbicara soal permasalahan perekonomian negara ini entah sampai kapan akan  usai. Mas Har merespon, kenapa perekonomian negeri ini semakin berlaurut-larut. Menurutnya, permasalahan ekonomi yang berkembang saat ini terletak pada prinsip ekonomi yang kita gunakan saat ini. Berbagai macam teori ekonomi yang berkembang saat ini tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena cara mengatasi masalahnya tak sesuai dengan prinsip ekonomi. Jika kita mengacu pada pengertian dasar prinsip ekonomi adalah mendayagunakan potensi untuk kebutuhan hidup. Namun prinsip tersebut begitu terasa kontradiksinya dengan realitas ekonomi saat ini yang cendrung dalam pemenuhan keiginan bukan pemenuhan kebutuhan. Ia memberikan contoh kasus. Semisal mencari ilmu harus melalui institusi pendidikan formal, padahal dengan belajar pada alam semesta saja juga bisa. Mencari hiburan harus ketempat-tempat hiburan, padahal bersenda gurau dengan keluarga juga hiburan. Hal tersebut tak bisa terlepaskan dari  masifnya gerakan seting global melalui sistem ekonomi kapitalistiknya.

Menyinggung soal sistem perekonomian, Mas Sigit mencoba membandingkan dengan perekonomian yang diterapakan pada zaman dahulu begitu berbandaing terbalik perekonomian saat ini. Jika perekonomian saat ini lebih cendrung pada akumulasi-akumulasi (Kapitatalis), sedangkan penerapan ekonomi pada zaman leluhur kita dulu mengunakan asas pemerataan. Hal tersebut bisa kita lacak setiap daerah pasti memiliki 5 pasar yang bukannya berdasarkan hari jawa. Dan setiap pasar memiliki perbedaan jenis dalam penyediakan kebutuhan. Semisalnya, pasar kliwon letaknya di pusat kota dengan hanya menyediakan sembako, pasar legi, pahing, pon dan wage terletak di pinggiran.

Dari sistem perekonomian tersebut, Mas Sigit juga menemukan dinegara Chile yang hingga sampai saat ini masih berjalan. Tapi kenapa dengan kekayaan budaya yang kita miliki kita malah senang menjadi orang Arab, Cina, Korea dan Barat?  Ia menjelasakan itu merupakan salah satu keberhasilan seting konspirasi global dalam menghancurkan suatu bangsa. Dan cara beberapa cara yang mereka lakukan  dengan mematikan kebudayaannya dan memutus koneksi dengan leluhurnya, urainya.

 

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait