Menu Close

Sinau Menjadi Khalifah Fil Ardl Bersama Nakula dan Sadewa

9Shares

 

Bencana atau Musibah?

Entah rencana apa yang sedang dipersiapakan Gusti Allah untuk negeri ini? Seolah-olah apa yang terjadi di negeri ini terjadi secara beruntun tanpa henti. Apakah yang sedang menimpa negeri ini merupakan sebuah ujian, peringatan atau hukuman?. Ya itulah ungkapan yang sering kita dengarkan di dalam forum sianau bareng. Mari kita refleksikan bersama apa yang terjadi pada negeri ini. Dan jangan-jangan apa yang menimpa pada negeri ini, merupakan sumbangan dari kesalahan yang kita lakukan juga. Wallahu A’lam Bishawab. Jadi jangan anggap diri kita ini orang yang bersih dari lumpuran dosa. Kalau tidak salah lho ya, apa yang kita lakukan mempengauhi siklus kehidupan. Karena kita berada dalam satu kesatuan sistem makrokosmos (alam semesta). Walaupun sekecil apapun perbuatan atau perilaku kita pasti ngefek atau mempengaharui sistem alam semesta.

            Pada pertemuan sinau bareng Suluk Surakartan yag ke 33 ini, mencoba untuk mempelajari fenomena alam yang sedang terjadi di negeri ini. Terutama tentang bencana, eh bukan bencana ding, tapi musibah yang menimpa negeri kita yang tercinta ini. Lha terus apa bedanya bencana dan musibah? Bukannya kedua kata tersebut memiliki kesamaan arti? Menurut aplikasi KBBI, becana memiliki arti sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, bahaya. Sedangkan musibah memiliki arti kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa . Begitulah arti kedua kata tersebut menurut aplikasi KBBI.

            Ya, kedua kata tersebut memiliki arti atau pengertian yang hampir sama. Tapi, menurut beberapa orang, penyebutan atas fenomena alam yang sedang terjadi saat ini, ialah musibah bukannya bencana. Mengapa demikian? Karena  secara rasa ataupun etika komunikasi penyebutan bencana gimana gitu, katanya. Dari hal tersebut, menurut Mas Indra yang pada malam itu berperan sebagai Nakula dalam memantik acara sinau bareng, penyebutan idiom bencana seolah-olah kita menyalahkan alam sebagai pelaku utamanya. Padahal alam cuma menjalankan hukum alam yang berlaku. Hukum-hukum alam tersebut berlaku atau tidak tergantung tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Misalnya terjadinya longsor, longsor terjadi karena minimnya pepohonon yang berfungsi sebagai penyangga tanah. Lha minimya pohon ya karena kita tebangi semaunya tanpa mempertimbangkan akibatnya. Sah to jika alam menghendaki longsor? Jikalau alam bisa bicara, hemmm jian, “nek kepenak lali, tp nek ora kepenak nyalahke aku, penakmen uripmu le adiku ragil, ncen diancuk kon!!!!  mungkin ia akan bicara begitu. Ngapunten niku namung fantasi kulo lur.

            Maka dari itu, kata tepat dan  yang tersedia di dalam kumpulan kata-kata bahasa Indonesia untuk menjelaskan atau menyebut fenomena alam yang sedang  terjadi saat ini dengan sebutan musibah. Menurut Kang Kenyot, musibah memiliki akar serapan dari kata bahasa arab ashaba-yushibu-mushiibatan yang berarti segala sesuatu yang menimpa, baik yang berupa baik maupun buruk. Jadi musibah itu bisa berupa hal yang menyebangkan ataupun sebaliknya.

Posisi Manusia dan Seluruh Makhluk di Alam Semesta

            Tuhan telah menciptakan kita di muka bumi ini dengan segala pertimbangannya. Terutama dengan menjadikan manusia sebagai Khalifah Fil Ardl, yang mempunyai tugas sebagai penyeimbang atau penyelaras tata  kehidupan di muka bumi ataupun alam semesta. Konon ceritanya, dalam pemberian jabatan sebagai Khalifah Fil Ardl, semua makhluk ciptaanNya ditawari oleh Allah untuk mengemban amanat tersebut. Dari Gunung, Batu, Samudra hingga Hewanpun ditawari jabatan tersebut. Namun dari kesemua makhlukNya tidak ada yang bersedia untuk mengemban amanah itu, kecuali manusia. Para kakak kita menolaknya karena mereka merasa tak sangup mengemban tugas yang begitu beratnya.

            Khalifah merupakan kepanjangan tangan dari Gusti Pangeran dimuka bumi ini. Maka tugas sebagai Khalifah ialah menjaga keselarasan atau keseimbangan alam semesta, baik itu antar sesama manusia maupun seluruh makhlukNya. Begitu berat memang amanah yang diberikan pada kita.  Lantas apakah dari setiap diri kita sudah bisa menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin dimuka bumi ini? hanya diri kita dan Sang Khalik lah yang mengetahui itu semua.

            Dengan memosisikan tugas utama kita sebagai Khalifah, maka secara otomatis kita harus menjalin hubungan yang harmonis dengan seluruh makhluk di sekitar kita. Baik itu yang bergerak ataupun tak bergerak dan nampak maupun tak nampak. Wujud kedekatan manusia dengan seluruh makhlukNya, menurut pemeran Nakula pada malam itu, simbah-simbah kita telah memberikan tauladan bagaimana hidup secara harmonis dengan seluruh makhluk disekitarnya.  Dengan kedekatan-kedekatan inilah yang menjadikan simbah-simbah kita waskita dalam kehidupan.

            Nakula asal Sragen ini melanjutkan ceritanya tentang contoh sederhana dari leluhur kita berupa kesadaran sebagai Khalifah. Salah satu contohnya dengan pelabelan tempat-tempat tertentu dengan pengangkeran, penyakralan dan lain sebagainnya. Selain itu juga beliau-beliau juga mengalakan kampanye dari mulut ke mulut tentang pelabelan tersebut. Sehingga dengan sendirinya orang-orang akan  takut untuk merusak ekosistem disekitar itu. Dengan metode tersebut terbilang cukup ampuh dalam mengatasi kerusakan alam pada masanya. Namun sayangnya manusia sekarang, termasuk saya sendiri, gagal dalam menangkap nilai-nilai yang dimaksudkan para leluhur. Apalagi diperparah dengan keserakahan dan ketamakaan manusia zaman now yang merajalela bagaikan macan kelaparan.

Mas Yus Sang Pencipta Suasana

            Majelis Suluk Surakartan tanpa Mas Yus terasa hambar. Ya, beliau kalau boleh saya katakan sebagai salah satunya iconnya Suluk Surakartan. Dengan hadirnya beliau di forum sinau bareng Suluk Surakartan, hampir selalu ia memberikan pertanyaan atau pertanyaan yang membuat para jamaah mengerutkan dahi, geleng-geleng kepala, terbahak-bahak bahkan memancing emosi. Bagaimana tidak? Ia selalu melontarkan pertanyaan ataupun pernyataan yang  memancing nuansa forum sinau bareng menjadi seperti yang diatas tadi. Dan tentunya itu tergantung bagaimana penyikapan masing-masing dari setiap jamaah sendiri.

            Terkadang terbesit di dalam benak pemikiran saya, yang dilakukan oleh Mas Yus itu bertujuan sengaja mengetes, sengaja membuat nuansa, atau itu lahir dari naluri alamiah dalam dirinya? Sejak pertama kali kenal beliau sampai saat ini, saya belum bisa memecahkan misteri itu. Mungkin saya butuh ta’arufan lagi dengan beliau secara seksama. Tapi terlepas sosok Mas Yus yang sedikit nganu tersebut, terkadang dari beberapa pertanyaan atau peryataannya yang khas dari dirinya seolah-olah memaksa dan mengajak saya untuk berfikir dan menjawab. Dari setiap pertanyaan ataupun pernyataannya, menurut saya memiliki karateristik yang hampir sama dengan pola pertanyaan Socrates (tapi prosentase kesamaanya saya juga tidak tahu seberapa persen) yang katanya salah satu bapak filsafat Yunani dalam mencari kebenaran. Dalam proses pencarian kebenaran, Socrates melakukan dengan menanyai orang satu persatu tentang sesuatu hal. Misalnya saja, ini benda apa lalu dijawab gelas. Lalu bertanya lagi ini kenapa bisa dikatakan gelas dijawab karena digunakan untuk minum dan seterusnya sampai ia puas dengan segala jawaban yang didapatkan.

            Pola pertanyaan dan pernyataan yang mendasar tersebutlah terkadang jarang dipikirkan oleh dulur-dulur  jamaah, terutama saya. Entah saya terbawa suasana yang ia ciptakan atau memang saya terlalu polos, ketika ia melontaran pertanyaan tentang tema sinau bareng pada malam itu, saya langsung pegang hp dan langsung mencari di mbah google tentang tema malam itu sambil mendengarkan jawaban dari Wasis selaku moderator diskusi. Dalam hati saya pun berkata, “oh iyo yo neng google idiom Hamengku Bumi gur onone neng website Suluk Surakartan tok”. Dan saya baru sadar ketika Wasis dengan sabarnya menjawab pertanyaan Mas Yus secara runtut, “Owalah iyo, iki kan proses kreatif sek unik nang Maiyah, jane wingi yo melu rapat ngolah tema tapi kok ijik kegowo suasana sek diciptake Mas Yus yo. Jian Mas Yus ki Ncen T.O.P bangets”.

 

Peradaban yang Maju atau Mundur?

            Banyak orang yang sepakat kalau zaman sekarang yang disebut era moderen, paska moderen atau apalah itu sebutannya. Mayoritas umat manusia di muka bumi ini berbondong-bondong mengunakan produk-produk moderen termasuk saya sendiri. Tapi ketika kita coba pelajari dan bandingan antara kemajuan teknologi era leluhur kita dahulu dengan era sekarang, tidak bisa dikatakan kalau era leluhur dulu itu terbelakang dari sekarang. Dan salah besar jika ada orang yang mengatakan hidup dimasa nenek moyang adalah era yang terbelakang yang tak melek teknologi.

            Menurut pengalaman Mas Indra selama menjadi tim relawan penanganan musibah gempa bumi di NTB kemarin, terdapat sebuah cerita yang cukup menarik untuk kita pelajari kembali. Antara lain tentang kemajuan produk teknologi pada masyarakat Nusantara pada zaman dahulu kala yang hingga sampai saat ini tak usang oleh kemajuan zaman. Misalnya saja ia ketemu rumah sasak (rumah adat NTB) di dusun Ranaseloka yang masih berdiri dengan kokoh pasca gempa melanda Lombok, NTB kemarin. Padahal banyak bagunan-bangunan moderen yang rata dengan tanah. Teknologi bangunan perumahan yang lebih maju lagi ia ketemukan di Jawa dengan model perumahan joglonya. Dari rumah adat yang dimiliki setiap suku di Nusantara ini terbukti tahan terhadap musibah gempa bumi. Hal ini lain dan tak bukan merupakan salah satu bentuk kemajuan peradaban Nusantara zaman dahulu yang mampu menyesuaikan dengan hukum alam yang berlaku, tuturnya.

            Selain tentang kemajuan teknologi bangunan, ia juga menceritakan sewaktu menjadi relawan dalam proses pencarian orang tengelamnya di aliran sungai Bengawan Solo. Selama tiga hari beruturut-turut ia terlibat dalam proses pencarian orang tengelam tersebut. Namun selama proses pencarian dengan mengunakan SOP yang berluku belum membuahkan hasil, namun pada akhirnya Timnya melibatkan jasa orang pintar (kalau orang-orang menyebutnya sebagai dukun). Sang dukun mengunakan alas kepala atau bantal si orang hilang tersebut, yang telah dirituali dengan separagkat ubo rampenya dan bantal tersebut beliau jatuhkan dititik korban awal jatuh. Dan bantal tersebut dijadikan sebagai alat penunjuk dimana jasad berada. Akhirnya bantal berhenti pada satu titik dan menyuruh tim relawan untuk mencari jasad disekitar titik tersebut. Dengan proses pelibatan dukun tersebut membuahkan hasil dan jasadpun diketemukan. Mas Indra menduga bahwa metode yang dilakukan sang dukun tersebut merupakan metode yang dilakukan oleh simbah-simbah kita dahulu untuk mengukur arus air.

            Sebenarnya masih banyak sekali cerita-cerita menarik selama ia berkecimpung di dalam dunia relawan penanganan musibah yang belum mampu dijelaskan oleh logika moderen. Salah satunya pencarian pendaki hilang di Gunung Lawu yang diketemukan di Alas Ketonggo, Ngawi Jawa Timur sehari setelah hilang. Padahal menurut pengalaman beliau yang pernah jalan kaki dari Sragen kota ke Gunung Lawu sewaktu diklat SAR, membutuhkan  waktu tempuh 2 hari dan si korban bisa diketemukan di alas ketonggo dengan waktu tempuh sehari saja? Lebih jelasnya nanti silahkan tanya sendiri kepada pelaku sejarahnya langsung. Dan saya jamin kalau ia tidak sibuk, pasti ia sangat senang sekali untuk diajak ngobrol tentang pegalaman selaku relawan musibah ataupun pencapaian-pencapaian dunia moderen hingga konstelasi politik negara yang kita cintai ini. Jika belum mempunyai kontaknya silahkan minta pada komandan tim media selaku admin media Suluk Surakartan atau minta ke narahubung Suluk Surakarta yang kontaknya sudah dipajang di media sosial Suluk Surakartan.

Kemesraan Nakula dan Sadewa

            Sejak sekian lama saya menantikan duet Nakula dan Sadewa dalam forum sinau bareng Suluk Surakartan. Dan baru kali ini kesempatan untuk menyasikan keduanya duduk dan ngobrol bersama dalam sebuah forum. Namun sayang Sang Sadewa datangnya terlambat karena harus menyelesaikan makalah yang dijadikan prasyarat untuk mengikuti forum kongres bahasa Indoesia yang ke 11 oleh Kemendikbud. Beliau begitu antusias mengikuti forum tersebut karena salah satu poin pembahasan pada forum tersebut ialah penyederhanaan atau pengkerdilan bahasa daerah dan Mbah Nun juga diagendakan oleh panitia menjadi salah satu pemantik diskusinya. Namun sayangnya simbah batal hadir karena sesuatu hal. Dan Sadewa menjadi salah satu dari tiga kuota peserta yang disediakan panitia untuk mewakili dari sedulur-sedulur yang berkecimpung  di dalam dunia bahasa daerah.

            Akhirnya Agusta Junior ini sudah hadir ditengah-tengah sedulur-sedulur Suluk Surakartan. Padahal sekitar jam 11an saya sudah agak risau ketika beliau belum datang. Akhirya saya Whatshap beliau dan menanyankan posisi keberadaanya. Entah ia mengerajain saya atau gimana, dalam percakapan tersebut, ia merasa rikuh untuk hadir di tengah-tengah kita,  karena waktu sudah terlalu malam. Sekitar jam 12 kurang 2 menit, ia menayakan kapan selesainya forum sinau barengnya, dan saya jawab jam 2. Karena saya melihat antusias para jamaah yang hadir masih tinggi. Kerisauan saya bermula saat beberapakali Nakula mengatakan seharusnya sesuatu yang ia ceritakan ini bisa dikupas secara mendalam oleh Sadewa, karena sang adiklah yang mendalami hal tersebut. Termasuk naskah-naskah kuno yang pernah ditorehkan para leluhur tentang kemajuan teknologi Nusantara. Baik itu teknologi pangan, banguan, komunikasi dan lain sebagainya. Namun sayangnya naskah-naskah tersebut tidak berada di Indonesia karena kesemuanya diambil oleh Belanda pada masa penjajahan dulu dan saat ini disimpan di Leiden. Wajar jika kebudayaan jawa yang berkembang saat ini seperti tari, karawitan, wayang dsb, tuturnya.

            Baru sekitar jam setengah satuan Nakula yang sudah hadir dipersiahkan maju kedepan untuk menceritakan atau melengkapai jawaban-jawaban dari sang kakak.  Mulai dari pertanyaan sang naratanya (istilah Yus untuk orang yang bertanya) tentang memayu hayuning bumi, baik secara awal mula muncul istilah tersebut maupun artinya. Hingga konsepsi kepemimpinan yang digunakan sebagai acuan masyarakat jawa pada masa dulu. Dan ahirnya, setelah sekian lama tak mendengarkan tembang di forum sinau bareng Suluk Surakartan, Agusta Junior menembangkan sebuah tembang gambuh dan menceritakan maksud dari tembang tersebut sebagai peutup sesi sinau bareng dimalam itu.

            Setelah melantunkan Sohibul Bayiti  secara bersama-sama sebagai puncak formal forum sinau bareng telah usai. Sebagaian dari jamaah ada yang pulang untuk istirahat atau melanjutkan aktifitas selanjutya dan beberapa masih ada yang ngobrol-ngobrol di Tanjunganom. Sekitar 8 atau 10 orang yang masih bertahan untuk ngobrol-ngobrol. Diantaranya pasangan Nakula-Sadewa, Mas Didik dll. Dan malam itu menurut saya serasa spesial (ora gur malam kui ding, mben tiap forum sinau bareng Suluk Surakartan mesti nawarke suasana kesepesialan), tapi khusus pada malam itu, momen langka terjadi, dari hadirnya si kembar bersaudara dalam forum sinau bareng hingga Mas Didik yang menemani ngobrol kami sampai menjelang adzan subuh berkumandang. Padahal lho ya, pada forum sebelum-sebelumnya ia paling gasik colut alias menghilang di forum. Entah hidayah apa yang ia dapatkan bisa bertahan sampai pungksan. Ini menurut saya momentum yang sungguh luar biasa.

            Di forum itu merupakan pentas kelanjutan dari kemesraan adik dan kakak itu. Di sela-sela obrolan tentang seputar nasib masa depan negara ini, terdengar sebutan panggilan mas atau dik diantara keduanya. Jika Agusta junior menyanggah, mengkonfirmasi maupun menambahi pernyataan sang kakak, selama obrolan tersebut terjalin pasti si junior pasti memangil kata mas, begitu pula sebaliknya. Karena jarang sekali saya menemukan kata mas atau dik dalam komunikasi diantara saudara kembar seperti itu. Biasanya etika komunikasi dalam penyebutan kakak-adik dalam saudara kembar jarang sekali berlaku. Dan yang paling sering saya dengarkan komunikasi diantara saudara kembar seringnya langsung menyebut nama atau nama aranan di keluarga maupun desa, tapi malam itu berbeda. Selain etika komunikasi, keharmonisan kedua saudara kembar ini juga ditunjukkan oleh si junior.  Dari cerita si junior yang menceritakan tentang kerelaan si senior, yang rela tidak menempuh kuliah demi sang adik. keharmonisannya menurut saya “co cweet banget lur…”. Walaupu tak kuliah, secara kapasitas keilmuan si Nakula ini sangat ekspert dalam wilayah keilmuan  politik, hukum, ekonomi maupun perkembangan dunia iptek saat ini.

            Walaupun diantara keduanya memiliki perbedaan pandangan, tapi etika komunikasi tersebut tetep dijaga, terutama dalam sekilas obrolan yang berlangsung paska sinau bareng tersebut. Ini merupakan sebuah contoh keharmonisan diantara saudara kembar atau adik kakak yang perlu dicontoh. Seperti halnya idiom jawa yang sering kita dengarkan dan kalau tidak salah, “bedo silit bedo watak”. Walaupun kembar, kedua kakak-adik ini memiliki sifat dan jalur hidup yang berbeda. Menurut penyimpulan saya, dari forum obrolan santai tapi serius tersebut, keduanya memiliki perbedaan fisik, pilihan hidup, maupun secara sifat. Misalnya saja dalam fokus pilihan hidup, Nakula lebih fokus pada keilmuan masa kini, baik itu seputar politik, hukum, ekonomi maupun perkembangan dunia iptek saat ini. Sedangkan si Sadewa lebih cendrung mendalami kebudayaan jawa secara akademis.

            Seingkat cerita akhirnya forum obrolan tersebut berakhir ketika adzan subuh berkumandang, dan kita kembali ke aktifitas masing-masing. Saya ucapakan selamat atas pencapaian yang sungguh luar biasa dari Kisanak Didik yang mampu bertahan sampai obrolan selesai (biasane jam 1 sudah KO) dan semoga saja pada forum-forum selanjutnya bisa begitu terus he he. (Wahyudi Sutrisno)

           

           

Tulisan terkait