Menu Close

Representasi Dari Yang Dipimpin

17Shares

Mungkin karena hujan yang turun sejak sore, turunnya pun juga lumayan deras, maka saya menyaksikan teman-teman yang  biasanya kalau setiap Jumat Keempat hadir melingkar di Suluk Surakartan, nampak beberapa orang saja ditambah beberapa teman yang baru hadir pertama kali ke lokasi yang letaknya di kawasan Tanjunganom. Ini saya bukan dalam rangka menyalahkan hujan lho ya, sekedar bersimulasi dan belajar niteni kahanan saja. Alhamdulillah di malam hujan ini, kedatangan beberapa teman penggiat simpul dari luar, seperti Angga (Mocopat Syafaat/Yogyakarta) dan Ulin (Manunggal Syafaat/Kulonprogo).

Malam itu tanggal 22 Maret 2019, acara yang biasanya dimulai sekitar jam 20an lebih sedikit, nampak mundur sekitar satu jam karena beberapa teman penggiat yang bertugas juga belum hadir. Tapi tidak masalah, semuanya bisa dimaklumi, hujan bukan untuk mensalah-salahkan tapi belajar memaklumi keadaan.

Yuli Ardika mulai memantik di awal acara dengan sedikit penjelasan tentang Mukadimah tema di edisi 38 yang sudah ditulisnya, mukadimah tersebut sudah disebar di media sosial dan bisa dibaca di web suluksurakartan.com. Kemudian dilanjutkan Pak Pri (saya tidak tahu nama lengkapnya) yang membuka cakrawala pandang dengan pengalaman pribadinya dalam mempelajari khasanah-khasanah dari Al Quran. Respon Pak Pri untuk tema malam itu, Lotrekrasi, menurutnya lotre itu sediri adalah permainan, kemudian mengutip Al Hadid: 20, menurutnya penggunaan kata “ketahuilah” yang di awal ayat yang artinya kita belum tahu, atau kita tidak sadar, “bahwa dunia adalah permainan…”, lalu ayat itu ditutup dengan kalimat “kesenangan yang memperdayakan”. Jadi bermula dari ada permainan, lalu ada kesenangan yang memperdayakan, kata Pak Pri.

Lalu boleh atau tidak bolehkah memilih pemimpin dalam permainan Lotrekrasi? Sebelum menjawab itu Pak Pri mengquote kata Cak Nun yaitu bahwa masing-masing diri untuk mencari dan mengenali dirimu sendiri yang otentik, jangan ikut-ikutan, karena masing-masing diri itu nanti yang akan bertanggung jawab kepada dirinya sendiri.

“Lotrekrasi adalah representasi dari kebanyakan orang, yang orientasinya adalah dzahir/materi. Sedangkan Jamaah Maiyah adalah pengabdi-pengabdi Allah yang tulus. Alternatif lain misalnya bisa meniru cara yang dilakukan Rasulullah, yaitu mendelegasikan sahabat-sahabatnya untuk mengumpulkan potensi-potensi unggul yang ada, lalu Rasulullah memilih dan mengembangkan potensi-potensi tersebut untuk menjadi pemimpin dalam sebuah masyarakat Madani (pemimpin di sini bukan seperti pemimpin dalam bentuk pemerintahan), dimana mekanismenya diserahkan secara alami dan pemimpin-pemimpin yang muncul nanti akan muncul secara alami, yang semuanya punya visi akhirat”.

“Hal ini seperti yang ada di buku Desa Purwa (karangan Agus Wibowo), yaitu dengan mengumpulkan sejumlah bibit-bibit unggul potensial dalam suatu wilayah ke dalam suatu padepokan, dari padepokan tersebut dididik dan difilter lagi sampai muncul satu dari sekian yang paling unggul.” kata Pak Pri menambahkan.

Menurut tadabur Pak Munir tentang kepemimpinan Nabi Muhammad, bahwa Nabi Muhammad berdiri sebagai pemimpin itu bukan sebagai pemimpin dalam arti hirarki tunggal yang harus ditaati. Karena itu nanti akan rawan penyelewengan kekuasaan. Melainkan memimpin dalam pembangun sistem dasar kehidupan  yang harus digondeli bersama.

Lotrekrasi sendiri berbicara tentang cara bagaimana memilih pemimpin, sedangkan di Indonesia ini menurut Pakdhe Herman, sebelum masuk ke cara memilih pemimpin maka terlebih dahulu perlu mencari tahu apa itu pemimpin dan siapa itu pemimpin. Karena saat ini di Indonesia semuanya sudah rancu dari awal alias salah kedaden.

“Pemimpin itu bukan penguasa, pemimpin yaitu orang yang bisa memimpin. Dari para wali ada istilah tentang cah angon (penggembala). Yaitu orang yang bisa angon. Angon dalam hal angon kahanan, angon mongso, angon wanci, lan angon howo.” Kata Pakdhe Herman tentang pemimpin.

Saya konsultasikan ke mas Rendra Agusta tentang presisi yang tepat untuk macam-macam angon tadi. Menurut Rendra Agusta, terjemahan tentang angon kahanan yaitu, pandai mengkondisikan keadaan. Angon mongso, pandai memantau dan melihat tanda-tanda keadaan. Angon wanci yaitu kecerdasan mengatur waktu. Angon howo yaitu pintar melihat perubahan pemikiran atau dinamika dalam masyarakat.

Untuk mencari pemimpin dalam konteks Indonesia masa kini, Pakdhe Herman berpendapat apa yang terjadi saat ini sudah salah kedaden dari awal. Penggerusan nilai dimulai ketika kedatangan para penjajah, dari Portugis, Belanda, Jepang, kemudian dilanjut dengan penjajahan jaman modern ini. Pemimpin dulu itu membawa sistem nilai-nilai kebaikan dalam kemayarakatan, yang terpilih adalah orang yang baik. Sekarang ini mau diistilahkan dengan kata demokrasi ataupun musyawarah, selama jumlah orang yang tidak baiknya lebih banyak, maka secara probabilitas kemunculan pemimpin yang tidak baik akan lebih besar. Karena pemimpin itu representasi dari siapa yang dipimpin.

“Untuk saat ini tangan kita tidak cukup untuk mengubah keadaan yang terjadi, lebih baik kita terus nandhur (menanam), terus ndhedher (menyemai) bibit-bibit potensial, bibit-bibit unggul yang baik, mempersiapkan sesuatu untuk hari depan. Dan serahkan hasilnya mau panen atau tidak kepada Gusti Allah. Sebab menurut keyakinan saya, ketika nanti keadaannya sudah baik, di suatu wilayah banyak orang-orang yang baik, maka secara otomatis dengan sendirinya akan muncul pemimpin yang baik.” Kata Pakdhe Herman.

Malam itu sekitar pukul setengah 2 dini hari acara berakhir, di luar sana langit masih terus meneteskan airnya. Dan di dalam ruangan beberapa teman masih melingkar sambil menunggu redanya hujan.  (AP)

Tulisan terkait