Menu Close

Balai Kota Menjadi Balai Sinau Bareng Kita

0Shares

Tanggal 17 April 2019 M kemarin, saya berhalangan hadir ke Majelis Maiyah Mocopat Syafaat.  Dikarenakan menjalankan tugas negara. Atas ‘paksaan’ sang bapak mertua, saya disuruh menggantikan peran beliau untuk menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di TPS setempat. Apa boleh buat. Tak ada pilihan lain selain menjawab siap! Mau menolak takut kualat, atau bisa-bisa malah dipecat. (Baca. Pecat jadi mantu, huhu).

Rindu. Asli rindu. Rindu bermaiyah, rindu bau tanah TK Alhamdulillah, rindu join kopi bareng jamaah, dan tentu saja rindu menyerap dan mencatat khasanah keilmuan dari Simbah. Mau tidak mau rindu itu harus ditahan. Dan menahan rindu sungguh tidak mengenakkan.

Namun tersadar, bukankah hidup harus menemukan keseimbangan? Agar tidak miring, jatuh apalagi tergelincir. Presisi adalah kunci. Dalam hidup adakala ngegas, ada kala ngerem. Ada saat meluapkan, ada saatnya menahan. Dan menahan tak selamanya buruk. Menahan lapar, menahan marah, menahan diri dari perilaku curang misalnya, merupakan contoh perangai mulia. Oh ya, sebentar lagi kita akan memasuki bulan dimana kita di’tuntut’ untuk menahan diri dalam segala hal. Semoga kita semua diberi kesempatan menjemput Ramadhan, dan sedia berlapar dahaga, agar menjadi orang-orang yang bertakwa (tattaquun).

Puji Tuhan, rindu yang kesekian akhirnya terbayarkan. Malam ini, Sabtu (20/4/2019), saya bersama teman JM Gemolong diperjalankan Tuhan untuk menghadiri acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Pendopo gede Balai Kota Surakarta.

Pukul sembilan malam kami tiba. Pelataran dan pendopo Balai kota Surakarta telah sesak oleh ribuan jamaah. Meski tak sepadat kerumunan massa kampanye akbar di Stadion Sriwedari sepekan lalu. Bedanya, teman-teman yang berkumpul disini datang tanpa membawa embel-embel apapun. No flags, no parpol, no kepentingan. Mereka hadir murni untuk sinau bareng, mengaji, merawat silaturahmi. Bahwa perdamaian dan bebrayan itu utama. Mulai hari ini KITA HARUS BERPIKIR INDONESIA.

Sebagai pambuka, Mbah Nun yang lenggah ditengah, diapit jajaran Muspika, menyampaikan bahwa di gereja sebelah saudara kita kristiani sedang menyelenggarakan upacara paskah. Dan kita harus menghormati dengan tidak terlalu gaduh. Itu menjadi bagian dari toleransi beragama.

Letak Balai kota ini strategis. Disebelah selatan ada masjid. Sebelah utara ada gereja, dan sebelah timur ada kelenteng  yang berdekatan dengan pasar (Sargede). Artinya, mobilisasi pemerintahan, peribadatan, perniagaan di kota Solo ini berjalan seimbang dan beriringan.

Acara Sinau Bareng di Balaikota Solo malam ini diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan kota Surakarta. Dengan mengusung tema : Cinta Shalawat, Cinta Indonesia dan Memaknai Isra’ Miraj. Wakil walikota Solo, bapak Ahmad Purnomo menyampaikan, tadi siang telah tergelar acara pawai hadrah dengan rute dari.Stadion Sriwedari hingga finish di halaman Balai kota. Kegiatan ini merupakan rangkaian festival hadrah yang ke-10 yang rutin diadakan oleh Dinas Kebudayaan kota Solo. Mbah Nun mengapresiasi dengan menyebut, Solo merupakan pohon besar budaya Jawa. Sehingga Solo tampil digarda depan untuk mengayomi, melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai budaya yang telah ada. “Solo bukan kota teroris, Solo kota berseri dan penuh cinta.” Puji Mbah Nun dan tepuk tangan membahana.

Teman-teman, karena maiyahan ini berlokasi di dalam Pendopo, maka alas kaki mesti dilepas. Ada jamaah yang keluar dari pendopo dan clingak-clinguk mencari sendalnya. Saya melihat sendiri, mereka berusaha mencari dan hanya mengambil sandalnya sendiri. Padahal kalau mau asal ambil juga tidak ada yang tahu. Tapi itu tidak terjadi. Juga setiap kali jamaah lewat di depan orang mereka berjalan sedikit membungkuk dan bilang amit. Pun ketika terlihat space kosong di Pendopo, lantas ada orang yang kepengin duduk, mereka pun seraya permisi ndherek lenggah nggih mas. Hal ini menjadi bukti dimana manajemen ilmu Maiyah (aman dan saling mengamankan) dan budaya unggah-ungguh (ciri khas orang Jawa) telah teraplikasi dalam laku hidup sehari-hari para Jamaah.

Kita kembali ke tema. Karena pihak penyelenggara meminta Mbah Nun untuk memetikkan ilmu dari peristiwa Isra’ dan Miraj, maka satu pertanyaan dilempar ke Jamaah.

“Siapa yang hafal ayat yang menjadi rujukan kita dalam memaknai Isra’ Miraj?”

Sebelum jamaah menjawab, Mbah Nun mengiming-imingi hadiah (uang tunai) untuk diberikan kepada siapa saja yang bisa menjawab. Pemuda asal Sidoarjo berdiri dan melantunkan Surat Al Isra’ ayat 1.

“Sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir”

Dalam melagukan ayat tersebut, mas-mas asal Sidoarjo itu tidak bagus-bagus amat. Namun Mbah Nun menegaskan bahwa bertilawah Quran yang paling penting bukan bagus tidaknya lagu, melainkan ikhlas atau tidak ikhlas hatimu. “Yang dinilai Allah adalah keikhlasan dan kesungguhan hatimu.” – terang Mbah Nun.

Pukul 22.00 WIB, Mbah Nun mengundang tiga kelompok yang berisikan 4-5 orang untuk naik ke atas panggung. Workshop dimulai. 3 kelompok tersebut menamakan diri ; Roiyah, Solo Tentrem dan Dji Sam Soe. Masing-masing kelompok kemudian diberi pertanyaan (berkaitan dengan tema) oleh Mbah Nun untuk selanjutnya mereka onceki dan diskusikan bersama-sama.

Dari beberapa pertanyaan Simbah, satu yang menggelitik benak saya. Apa pemaknaan Isra’ Miraj bagi kehidupan Anda? Maaf, selama ini mungkin kita hanya diajak untuk memperingati. Tapi tidak dirangsang untuk bagaimana memaknai, mendalami, terlebih lagi menyelami apa sebenarnya esensi utama Isra’ Miraj itu.

Mbah Nun perlahan menjabarkan. Bahwa perjalanan Isra’ Miraj itu sejatinya mengajarkan tentang ketidaktahuan. Kita tidak benar-benar tahu Nabi Muhammad itu Isra’ Miraj berapa kali. Kita tidak tahu Buraq (kendaraan Nabi saat Isra’ dan Miraj) itu bentuk dan besarnya seperti apa. Kita tidak tahu persis Nabi Muhammad mendapat perintah sholat dari Allah berapa kali, dan seterusnya. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, maka inilah fungsinya kita Sinau Bareng. Nggoleki  bareng-bareng ben mudeng bareng-bareng. Memahami Isra’ Miraj tidak cukup dengan ilmu. Dengan alasan ketidaktahuan dan keterbatasan pengetahuan kita, maka disitulah dibutuhkan iman. “Wis percoyo wae karo opo sing soko Gusti Allah.” – tegas Mbah Nun.

Disamping itu, pemaknaan perjalanan sunyi Isra’ Miraj dapat kita kaji melalui redaksional ayat. Coba perhatikan. Antara surat Al Isra’ ayat 1, 2, dan 3, tidak memiliki korelasi arti yang implisit. Ayat 2 menceritakan Nabi Musa, sedangkan ayat ke-3 tentang kisah  Nabi Nuh As. Tidak nyambung secara langsung dengan ayat pertama yang menyinggung perjalanan Isra’ Miraj. Pertanyaannya, apakah terjadi kesalahan redaksi dalam susunan ayat pada surat Al Isra’? Tidak mungkin. Al Quran merupakan kitab yang sempurna. Masterpiece-nya Tuhan.

Jawaban atas kejanggalan tersebut dapat kita temukan pada surat sebelum Al Isra’, yakni An Nahl (lebah) ayat 125-128. (Silakan buka dan baca Al Quran anda masing-masing). Pada intinya, surat An Nahl ayat 125-128 menceritakan tentang proses perjuangan Nabi Muhammad dalam membumikan Islam. Dan itu pekerjaan ekstra berat. Namun karena Muhammad sabar dan rela berlelah-lelah dalam mendakwahkan Islam (terang-terangan atau sembunyi), maka Tuhan pun iba, dan hendak menghiburnya. Lalu Muhammad di perjalankan Tuhan pada suatu malam, terbang dari Haram ke Aqsa, dan dari Aqsa ke Sidratul Muntaha. Yang demikian itu sebagai bentuk hadiah, bonus, apresiasi atau penghargaan Tuhan kepada kekasih-Nya itu, yang kemudian kita mengenalnya dengan Isra’ Miraj. Peristiwa maha dahsyat tersebut akhirnya diabadikan Allah dalam surat Al Isra’ ayat 1.

Dengan mengacu Redaksi susunan ayat Al Quran diatas, maka Isra’ Miraj merupakan satu metode hidup yang diajarkan Tuhan kepada Muhammad dan seluruh ummatnya. Kowe kerjo’o sik, mengko oleh gaji/ bayaran. Kowe sinauo sik mengko oleh pinter. Kowe lombao sik mengko oleh hadiah. Kowe berjuango disik mengko oleh kemenangan. Kira-kira begitu.

Langit diatas pendopo cerah, angin hemat berhembus, namun suasana terasa teduh dan syahdu. Ternyata malam ini bertepatan dengan malam nisfu syaban. Mari perbanyak doa dan istiqhfar.

Sembari menunggu 3 kelompok yang sedang diskusi dibelakang, Mbah Nun mempersilakan 3 jamaah untuk merespon, bertanya atau menyampaikan unek-uneknya. Penanya pertama bernama mas Milang asli warga Solo. Beliau berkisah tentang ujian bertubi-tubi yang menerpa ragam usaha rintisannya. Akhirnya beliau ikhlaskan itu semua, dan justru kepasrahan itulah yang menjadi titik awal kebangkitan usaha mas Milang. Kini beliau telah memiliki ratusan karyawan di usaha jasa catheringnya.

Masalah satu selesai, muncul masalah baru. Ternyata di usia menjelang 30 tahun, bos cathering berbadan tambun itu belum menemukan jodoh. Oh, ra duwe bojo memang marai galo.

Dengan santai, Mbah Nun coba nyicil untuk urun memberikan solusi perihal datangnya jodoh. Mbah Nun mengambil contoh kasus Ibrahim dan Ismail. Kita tahu, bahwa perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya bukanlah perkara mudah. Sudah menunggu lama, saat anak beranjak  dewasa dan sedang nggantheng-ngganthengnya malah di suruh menyembelih. Ini sadis. Tugas maha berat bagi Ibrahim. Butuh kebesaran hati dan total kepasrahan diri. Namun karena perintah itu datangnya dari Allah, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas harus tetap dikerjakan.

Dengan modal keikhlasan dan kepasrahan, akhirnya kita sama-sama tahu, Ismail tak jadi putus lehernya, Ibrahim pun tak kehilangan putranya. Seketika Allah menggantinya dengan seekor domba. Begitu pun perihal jodoh. “Wis pokoké ikhlaskan hatimu, matangkan hidupmu, perbaiki ibadahmu sampai membuat Tuhan terharu. Dengan begitu harapanmu akan kabul tanpa diduga-duga. “Urai Simbah yang diamini serentak para jamaah. Dan sebagai rasa syukur telah dibukakan jalan untuk menjemput jodohnya, mas Milang menghibahkan uang 1 juta untuk diberikan kepada jamaah yang sedang workshop dibelakang.

Jarum telah menunjukkan pukul 11 malam. KiaiKanjeng memberikan kesegaran dengan mendendangkan lagu sayang. Sayang, perut saya mulai keroncongan, meronta-ronta minta segera di isi ‘bahan bakar’. Dengan demikian liputan singkat ini saya cukupkan sekian. Salam.

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait