Menu Close

Berpikir Maslahat, Lalu Tumandang Gawe

0Shares

Maiyah bulan ini cukup spesial, karena bertepatan dengan bulan Syawal. Bulan yang dalam tradisi masyarakat Nusantara menjadi bulan lebaran, dirayakan hingga dengan mudik bertemu keluarga, saling memohon dan memberi maaf. Demikian pula bagi Suluk Sukartan, edisi kali ini juga digunakan untuk saling berlebaran.

Sesuai dengan mukadimah yang diangkat 1:11 yang memberikan gambaran bagaimana 1 bulan Ramadhan menjadi bulan untuk perenungan, evaluasi, persiapan, dan pematangan dalam menghadapi 11 bulan berikutnya. Wasis membuka diskusi pembukaan dan menggali respons para jamaah yang telah datang sejak awal. Terlihat antusiasme para jamaah merespon tema yang diangkat.

Semakin malam, suasana diskusi semakin hangat. Ketika para sesepuh, Pak Munir, Pakde Herman turut hadir di depan. Beliau berdua kemudian dipersilahkan memberikan respon atas berbagai hal yang telah didiskusikan para jamaah sebelumnya.

Pak Munir menggarisbawahi bahwa dalam hidup itu selalu berpasangan. Jika ada pembicaraan yang melangit, maka harus dibuat pijakannya di bumi. Apa pun yang dibahas di maiyah, sebenarnya adalah bagaimana mengupas dinamika kehidupan yang dialami sehari-hari. Jadi setelah membicarakan hal-hal maslahat untuk kehidupan bersama, maka harus diikuti dengan tindakan nyata.

Beliau mentadabburi bahwa fungsi ibadah haji, hakikatnya adalah sebuah proses berkala agar umat Islam berkumpul jadi satu, di sisi yang lain bagi yang memiliki karya bisa dibawa untuk kemudian saling dipertukarkan dalam mekanisme perdagangan, sebelum kemudian diambil alih oleh sistem kapitalisme. Demikian pula, maiyah bulanan sebenarnya bisa dimaknai sebagai proses semacam itu. Sepulang dari maiyah, selalu mendapat energi baru dan segera merealisasikannya.

Sebagai seorang wirausahawan, Pak Munir kerap mendapatkan pertanyaan tips-tips berbisnis agar berhasil. Menurut beliau, pertanyaan semacam itu lahir dari sebuah kultur tidak menjadikan pengalaman sebagai pelajaran utama. Beliau sendiri bercerita bagaimana berbisnis itu dimulai dari keberanian untuk memulai dan mencermati setiap apa yang dialami, membaca peluang yang ada. Bisa dimulai dari sekedar membantu menjualkan kambing, lalu mendapatkan komisi. Lama-lama bisa berkembang menjadi berbagai bisnis lainnya. Yang penting tekun dan terus mencermati peluang yang muncul dalam proses bisnis yang tengah dijalankan.

Pakde Herman turut menegaskan bahwa anak-anak muda harus memiliki tekad untuk maju dan mau bekerja keras. Dengan situasi seperti sekarang ini, lebih baik semua menyadari batas kemampuannya saat ini lalu berbuat sesuai dengan batas kemampuannya. Tidak perlu muluk-muluk dan jauh ke persoalan negara, tetapi fokus bagaimana memastikan kehidupan masing-masing berjalan dengan baik. Beliau merasa gembira dengan capaian pembahasan maiyah kali ini, yang menurutnya sudah mulai menyentuh wilayah untuk segera tumandang gawe.

Tulisan terkait