Menu Close

Terminologi Menengok ke Dalam Diri

0Shares

“Di dalam membedah tiga terminologi tersebut sebenarnya dapat membuat kita menjadi manusia yang memiliki pagar dan memiliki tujuan”

Seperti pada umumnya, Maiyah adalah oase bagi sebagian besar manusia yang telah ditundukkan oleh kuasa dunia. Maiyah menjadi tempat mereka minum untuk membasahi dahaga mereka dalam rangka  memfitrahkan kembali diri mereka, yaitu ngawula kepada Tuhan di mana hal tersebut sangat sulit mereka jumpai di kehidupan sehari-hari. Mata air Maiyah ibarat oase ditengah gurun pasir arus modernitas yang sulit untuk ditundukkan oleh kekuatan manapun. Paling tidak, itulah yang saya rasakan ketika memberanjakkan diri menunggangi kuda besi pembelian orang tua untuk berangkat menuju oase Suluk Surakartan.

Beranjak dari kelimpungan akibat urusan dunia menuju jalan sunyi keabadian.

Sesampainya saya di FM Wood Tanjung Anom — tempat diselenggarakannya rutinan Suluk Surakartan tiap bulannya— saya bertemu dengan pegiat yang lawasan macam Mas Wahyudi juga jamaah baru macam Mas Prabowo.

Di belakang, Mas Wahyudi sedang fokus menunggu rebusan air hingga mendidih, bekal untuk pelarut bubuk kopi agar dapat diseruput pembeli dari pegiat Suluk Surakartan teruntuk pemasukan Suluk Surakartan itu sendiri pula. Ya, hampir semua simpul Maiyah di manapun ia, konsep seperti itu adalah benar adanya. Mereka menghidupi simpul-simpul mereka sendiri. Meskipun uang dari hasil penjualan kopi tidak seberapa, namun itu cukup untuk tambah-tambah pemasukan.

Di sisi lain, perbincangan kecil mulai terjalin. Trigger kata ‘Demonstrasi’ adalah pemantiknya. Ada jagongan kecil terjalin untuk menyikapi demo yang terjadi akhir-akhir ini. Ada yang menceritakan pengalaman pribadinya ketika mengikuti demonstrasi di depan DPRD Surakarta kemarin, hingga geleng-geleng kepala ketika menyikapi demonstrasi yang dilakukan anak-anak sekolah menengah akhir September kemarin itu.

Forum kecil memudar, persiapan untuk acara Suluk mulai dilancarkan. Mas Wasis membantu Mas Umar untuk mengecek sound dan mic, pemain musik pun juga melakukan check sound.

Sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Mas Wasis mulai memposisikan diri untuk bertugas menjadi moderator. Tugas yang ia dapatkan tiap bulannya.

Hingga acara dimulai, pegiat Suluk masihlah nampak sepi.

Untunglah Prabowo —nama yang tak asing untuk pejalan Maiyah di Solo Raya karena selalu naik panggung ketika acara Sinau Bareng— yang pertama kali ke Suluk Surakartan mau diajak Mas Wasis untuk ke depan dan cerita pengalamannya kenal dengan Maiyah hingga datang ke simpul maiyah di Solo dan sekitarnya.

Meskipun sangat terlihat sekali gelagat Prabowo dalam menyeimbangkan diri dengan keadaan Suluk yang masih sepi, tetapi ia dengan tenang mengutarakan jawaban dari pertanyaan Mas Wasis.

Ya, itu adalah otokritik kepada kami para pegiat untuk lebih aktif menghidupi ruang yang bernama Suluk Surakartan itu agar tidam semakin mrotholi. Tetapi, life must go on. Meskipun yang datang ke simpul bulan ini kurang lebih 20-an orang, diskusi harus tetap berlanjut. Seorang muda pernah berkata, diskusi yang baik bukan seberapa banyak orang yang datang, namun seberapa aktif mereka mendiskusikan sesuatu, dan sebermanfaat apa nilai yang mereka diskusikan itu.

Mbeber Klasa

Setelah Prabowo membawakan sebuah lagu sebagai pembuka percintaan antara dia dengan Suluk, Mas Wasis mempersilahkan Mas Umar selaku pembuat desain poster SS September untuk menjelaskan makna yang terdapat di dalam poster yang bergambar dua orang anak-anak yang sedang bermain enggrang tersebut.

Tugas manusia adalah selalu mencari titik pasnya dan sangunya adalah kewaspadaan. Ketika berteman pasnya seperti apa, saat menjadi orang tua pasnya seperti apa, dan lingkup yang lebih luas lagi,” simpul Mas Wasis dari pernyataan yang diuraikan oleh Mas Umar.

Menyambung ke dalam pertanyaan inti pada pertemuan kali ini, masing-masing pegiat dibekali pertanyaan yag ditujukan kepada diri mereka sendiri. “Kamu itu jenis manusia yang mana? Manusia pasar, istana atau nilai? Kalau kamu sudah mengetahui kecenderunganmu lebih ke jenis manusia apa, maka bagaimana cara kamu me-manage kategori yang lainnya?”

FGD

Diskusi pun dimulai dengan membagi jamaah menjadi dua kelompok. Pencarian yang lebih mendalam terhadap diri sendiri sepertinya adalah maksud dari pertanyaan dalam edisi kali ini.

Diskusi tiap kelompok nampak hidup. Meskipun masih ada yang memilih untuk diam atau bisa jadi tidak diberi kesempatan untuk berbicara(?)

Walaupun kebanyakan jamaah masih belum menemukan diri mereka termasuk ke dalam kategori yang mana, paling tidak dalam diskusi singkat tersebut bermunculan poin-poin penting yang dapat digunakan sebagai bekal untuk proses pencarian diri kedepannya.

  • Tiga kategori tidak dapat dikatakan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Yang membedakan baik buruknya adalah efek perilaku keluar diri manusianya itu sendiri (output).
  • Asas kebermanfaatan adalah salah satu kunci pokoknya baik dia adalah kategori baik manusia pasar, manusia istana, ataupun manusia nilai.
  • Di sisi lain, “empan papan” juga harus diperhatikan dalam pemakaian tiga kategori tersebut. Kapan waktunya men-setting diri menjadi manusia pasar, kapan menjadi manusia istana, kapan men-setting diri menjadi manusia nilai?

Percarian Ke Dalam Diri

Pak Munir menambahkan “Membaca pergerakan adalah hal yang teramat penting yang harus digunakan. Karena dari pergerakan tersebut kita dapat mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan. Sisi mana yang harus kita ungkret, sisi mana yang kita ulur”.

Benar kata Mas Mahisa Agni di reportase sebelumnya, sebenarnya Mbah Nun sudah berkali-kali membuat terminologi untuk lebih memudahkan JM dalam pencariannya masing-masing. Ada terminologi manusia keris, cangkul, dan pedang; hingga manusia kerikil, batu, emas, dan mutiara. Terminologi-terminologi tersebut tidak lain adalah salah satu shortcut bagi jamaah maiyah untuk metani hidup mereka.

Sejalan dengan Mas Agni, Mas Angga—salah seoramg penggiat Macapat Syafaat, Yogyakarta— berpendapat bahwa, “Dalam tiga terminologi tersebut yang merupakan potensialitas. Ketahuan baik dan buruknya jikalau sudah berjalan. Di dalam membedah tiga terminologi tersebut sebenarnya dapat membuat kita menjadi manusia yang memiliki pagar dan memiliki tujuan”.

Tak terasa waktu sudah menandakan pukul satu pagi. Mas Rendra maju kedepan. Membawakan sebuah tembang mijil.

Dedalane guna lawan sekti

Kudu andhap asor

Wani ngalah luhur wekasane

Tumungkula yen dipundukani

Bapang den simpangi

Ana catur mungkur

Mas Rendra menutup dengan himbauan untuk selalu berhati-hati karena tahun-tahun ini akan banyak letupan-letupan peristiwa. Hal ini sebenarnya adalah siklus tiap 64 tahun penanggalan Jawa. Windunya windu Sangara Tahunya tahun Wawu. 1 Sura jatuh pada Minggu Wage. Tahun Dite Kalaba, tahun kelabang yang bersifat api dan berbau darah. Kelabang: wong cilik bisa polah bebayani.

Pak Munir menambahkan, “Dari uraian yang telah disampaikan Mas Rendra tadi, paling tidak dari panasnya suasana, kita tidak ikut kobong (terbakar)”. Seperti biasa ketika Shohibul Baiti dilantunkan, berarti pertemuan bulan ini haruslah diakhiri. Sampai jumpa di perjumpaan-perjumpaan selanjutnya. Mugi barokah sekabehane. (Jumirin Ath-Thayyibi)

Tulisan terkait