Menu Close

Ilmu Barokah dalam Wirid Akhir Jaman

0Shares

“Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman.
Taman ‘ala sayyidina Muhammadi lladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu…..”

Sholawat Nariyah melantun dengan merdu memenuhi langit-langit ruangan di Jalan Tanjunganom 11, tempat dilangsungkannya maiyahan Suluk Surakartan edisi Oktober 2019. Kemerduan suara dari mas Islamiyanto ketika bersholawat menggetarkan udara, masuk merambat gendang telinga, beresonansi ke dalam syaraf, berproses kimia yang menjalar ke dalam sel-sel, lalu menghasilkan mata saya yang tiba-tiba mulai berembun. Juga ketika melirik sekitar samping saya ada jamaah yang mengusap-usap matanya, tentu bukan karena kelilipan debu.

Sebelumnya mas Islamiyanto pukul 20.15 WIB sudah hadir di lokasi, ketika itu baru ada beberapa gelintir penggiat yang sudah hadir melakukan persiapan acara dan beberapa orang jamaah. Tanpa dikomando, kami yang ada di situ duduk melingkar mendekat mas Islamiyanto, ngobrol-ngobrol sambil diselingi gurauan-gurauan. Tampak wajah kegembiraan muncul di malam itu.

Ngene iki thok wae wis maiyahan lho” kata mas Islamiyanto.

Salah satu agenda malam ini adalah melaksanakan dhawuh Mbah Nun untuk melakukan Wirid Akhir Jaman di awal acara, sebagaimana yang telah dilakukan juga oleh simpul-simpul maiyah lainnya. Pukul 20.45 WIB mas Islamiyanto meminta Wasis, selaku moderator, untuk memulai acara meskipun yang hadir baru sedikit. Dan tentang yang hadir banyak atau sedikit ini sudah  tidak jadi masalah. Mas Islamiyanto membersamai jamaah Suluk Surakartan untuk memandu pelaksanaan Wirid Akhir Jaman tersebut.

Sebelum Wirid Akhir Jaman dimulai, Wasis meminta Pak Munir dan Mas Islamiyanto untuk memberi pengantar. Menurut Pak Munir, dilakukan Wirid Akhir Jaman bersama-sama ini mengistilahkan pada semut yang membawa setitik air ketika peristiwa Nabi Ibrahim dibakar. Artinya, meskipun yang dilakukan ini secara power tidak besar tapi apabila dilakukan dengan ikhtiar dan keikhlasan yang sungguh-sungguh akan didengar olah Allah. Sebagaimana yang sering dikatakan Mbah Nun, doa yang dikabulkan bisa jadi datang dari aminnya seseorang yang tidak kita sangka-sangka.

Dan saya baru ngeh tentang nama Wiridnya Akhir Jaman ketika Pak Munir bilang tentang tahun-tahun yang butuh perhatian khusus, karena secara hitungan kalender Jawa, saat ini memasuki tahun-tahun akhir. Juga secara kondisi alam kebetulan posisi mataharinya saat ini pada garis ekuator, yang suhu panasnya sangat terasa sekali akhir-akhir ini.

Lalu saya teringat obrolan dengan mas Indra Agusta beberapa waktu lalu di Kopi Parang tentang penghitungan kalender Jawa. Di kalender Jawa ada namanya siklus windu, yang satu windu terdiri delapan tahun. Untuk penghitungan saat ini berada di tahun ketujuh, nama tahunnya adalah tahun Wawu. Dan untuk tahun depan, yang jatuh pada 1 Suro nanti, adalah tahun ke delapan atau tahun terakhir dalam siklus satu windu ini. Nama tahun depan itu tahun Jimakir. Setelah tahun Jimakir nanti berakhir maka kembali ke tahun pertama pada siklus windu selanjutnya. Untuk lebih jelasnya tentang sejarah asal-usul dan bagaimana penghitungannya, nanti bisa langsung tanyakan ke mas Indra Agusta ketika bertemu, jangan lupa untuk mentraktirnya juga.

Kemudian mas Islamiyanto memberi pengantar dengan makna barokah melalui cerita berdasar peristiwa nyata, ketika suatu hari Mbah Kyai Kholil (Bangkalan) diminta tolong oleh seorang pejabat setempat yang akan mengadakan pesta pernikahan anaknya 7 hari berturut-turut. Karena saat itu jatuh pada musim hujan, dan setiap hari dipastikan hujan terus, maka pejabat tersebut minta ijazah pada Mbah Kyai Kholil supaya pas hari H sampai hari ketujuh tidak turun hujan. Kemudian Mbah Kyai Kholil membuatkan coretan tulisan pada kertas papir (kertas linting tembakau rokok), lalu melipatnya, dan meminta pada pejabat tersebut untuk menempelkannya pada pintu rumah dan jangan melepasnya sampai acara selesai.

Akhirnya pulanglah pejabat itu lalu menempelkan lipatan kertas tersebut pada pintu rumahnya sebagaimana yang diperintahkan Mbah Kyai Kholil. Terbukti hari pertama tidak hujan, padahal radius 2 kilometer dari tempatnya hujan deras. Lalu hari kedua juga tidak hujan, begitu pula hari-hari berikutnya padahal di sekitar tempat tersebut hujan sangat deras, Pada hari kelima, pejabat tersebut sangat penasaran dengan fenomena ini, karena pejabat tersebut manusia yang rasional dan sangat penasaran akan lipatan kertas tersebut. Dan ketika rasa penasarannya semakin membesar dibanding dengan kepatuhan pada ijazah yang diberikan Mbah Kyai Kholil, maka dicopotlah kertas itu dan dibukalah, ternyata hanya tulisan-tulisan yang tidak jelas. Masak iya sih cuma tulisan tidak karuan begini yang bisa menahan hujan? Kemudian disobek dan dibuanglah kertas itu, maka saat itu pula langsung turun hujan dengan derasnya sampai hari terakhir.

Mas Islamiyanto juga bercerita tentang pengalamannya bersama Mbah Nun ketika di Vatikan, diminta untuk menempel rajah pada salah satu gedung di sana. Mas Islamiyanto melihat Mbah Nun menulis di kertas tersebut berupa tulisan-tulisan, gambar-gambar, simbol-simbol yang tidak jelas. Dari dua cerita tersebut, mas Islamiyanto mengambil hikmah bahwa ini bukan tentang apa yang ditulis akan tetapi siapa yang menulisnya. Begitu juga dengan wirid yang diijazahi oleh Mbah Nun ini, apabila dilakukan secara istiqomah diharapkan bisa menjadi barokah bagi para pelakunya.

Mulailah malam itu pertama kalinya Wirid Akhir Jaman dibacakan di Suluk Surakartan. Kertas fotokopian wirid sudah diedarkan, sebagian jamaah yang tidak kebagian kertas fotokopian membaca wirid dari HPnya, yang filenya sudah didistribusikan sebelumnya di grup Whatsapp.

Selesai wiridan, acara mengalir sebagaimana biasanya yaitu dimulai dengan perkenalan jamaah yang baru pertama kali hadir di Suluk Surakartan, membedah makna poster oleh Umar, lalu diskusi-diskusi tema pada malam itu, kemudian dipuncaki dengan tembang mocopat oleh Pakdhe Herman. Dan juga dikarenakan mas Islamiyanto tadi ada acara yang lain, maka setelah wiridan tidak bisa berlama-lama membersamai teman-teman di Suluk Surakartan. Sebelum pamitan mas Islamiyanto melantunkan Sholawat Nariyah yang menggetarkan sebagaimana yang saya ceritakan di awal tulisan ini, meski hanya diiringi oleh Keyboard saja, yang dimainkan oleh Prisha. (AP)

 

         

 

 

 

          

 

 

 

 

Tulisan terkait