Menu Close

Empati, Sebuah Refleksi

0Shares

Apakah pernah terbesit dalam benak anda?

“ah, aku kesel maiyahan ning suluk surakartan,”

“aku wis males sulukan, lha wong yang di diskusikan gitu-gitu aja, ngga ngerti arah,”

“suluk diskusi terus ngga ada lakune,”

“lha orang’e ganti-ganti dadi bingung, ghiroh’e kurang”

“males teko aku, wong’e kae “ngene” og … “

Begitulah dinamika simpul Suluk Surakartan ketika bercermin ke orang-orang yang berlaku “begitu”, pasti menemukan pemikiran dan perasaan yang tidak terduga bahkan berbeda dengan orang yang sangat mencintai Suluk Surakartan sepenuh hatinya. Tetapi tunggu dulu, hanya segelintir saja orang seperti itu, semoga saja cuma saya. Suluk Surakartan punya tempat khusus di hati orang-orang yang benar-benar mencintainya, diselang vakum pandemi kemarin, banyak yang bertanya “gimana suluk, dimulai belum?” Salah satu pertanyaan orang-orang yang sudah sangat rindu untuk Maiyahan disimpul Suluk Surakartan.

Memang tidak bisa dipungkiri Suluk Surakartan tidak lepas dari ridho Allah SWT bisa tetap berjalan sampai hari ini, tidak lepas pula atas perjuangan, doa, tirakat dan riyadhoh orang-orang yang mencintainya, entah dia hadir ataupun tidak, entah dia dekat ataupun jauh.

*

Jumat malam, 28 Januari 2022,
Suluk Surakartan kembali melingkar malam ini, diawali dengan membaca sholawat Alfa Sallam dan surat Al Fatihah bersama, berdiskusi dengan tema “Empati” yang dimoderatori oleh Mas Khaq.

Di samping kanan dan kiri moderator, dihadiri oleh Pak Munir dan Pakdhe Herman sebagai sesepuh yang kami tunggu dan rindu banyak petuahnya.

Diskusi dimulai dengan pemaparan dari moderator tentang contoh empati yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada wanita buta yang kerap menghina beliau. Bisa dibaca dimukadimah www.suluksurakartan.com.

Pakdhe Herman memberi beberapa nasehat kepada jamaah agar tumbuh rasa empatinya, seperti kita harus “Rumangsono urip eneng sing nguripi lan tresna karo sak padane.” Pakdhe Herman juga bercerita banyak pengalamannya tentang bagaimana orang dahulu berempati kepada orang lain.

Ketika moderator mempersilahkan jamaah untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan, terjadilah diskusi yang dialektis antar jamaah yang saling bersinergi.

Pak Munir menerangkan bahwa Maiyah yang utama harus berdampak pada diri sendiri, ilmu yang didapat di Maiyah tidak untuk mendebat orang lain, tapi untuk kemanfaatan bersama.
Kita juga harus belajar menghitung resiko memaknai ilmu secara menyeluruh dan optimal, seperti contoh para nabi yang mengajarkan bahwa apapun ada perhitungan tentang resiko. Jadi sangat penting untuk kita punya management resiko dan asas utilititarian yang baik.

Malam ini kami juga kehadiran Mas Rendra, yang kita kenal seorang filolog muda berdarah Sragen, ikut menjelaskan beberapa hal dalam khasanah Jawa. Seperti orang Jawa dulu sebenarnya punya kemampuan management yang baik, menjelaskan pula tentang Jawa secara kebudayaan ternyata sudah bergeser, sudah banyak yang berubah dan terpengaruh budaya lain.

Mas Rendra juga memaparkan bahwa untuk berempati ke orang lain kita harus mampu melihat kemampuan diri sendiri dengan baik, belajar berempati ke diri sendiri baru bisa berempati dengan baik ke orang lain.

Jamaah bertanya tentang keresahan anak muda yang merasa susah menghadapi kehidupan jaman sekarang, melalui paradigma agen dan korban yang di tulis oleh Mas Sabrang di www.caknun.com

Mas Rendra menanggapi, bahwa kita harus berani menerjang hal yang ada di hadapan mu, berani pindah dari zona nyaman. Misal, apabila merasa susah, coba kumpul sama orang-orang yang lebih susah, tetapi berlaku juga sebaliknya. Kadang hal ini bisa membuat diri belajar, tumbuh dan lebih bisa bersyukur.

Pak Munir juga merespon, bahwa untuk menghadapi kehidupan, kembali lagi seperti yang disampaikan diawal diskusi, bahwa kita perlu 2 dasar, yaitu management resiko dan asas utilitarian. Kita harus terus upgrade dan tidak berhenti belajar.

Dipenghujung diskusi Pakdhe Herman kembali berpesan, bahwa untuk menghadapi kehidupan, kita harus mengenali diri sendiri dan tetap menjadi diri sendiri.

*

Apakah Simpul Suluk Surakartan sudah mengenali dirinya dan menjadi dirinya??

Alan Fatoni

Tulisan terkait