Menu Close

Pencarian Diri dalam Perjalanan

0Shares

Malam sudah menunjukan pukul 21.00, saatnya Kang Khaq membuka pertemuan Suluk Surakartan ini. Setelah berbincang menyapa teman-taman yang hadir secara singkat, Kang Wasis mengambil alih untuk menyapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah itu Kang Khaq melanjutkan dengan membedah mukadimah tentang Duit Rokok, dimulai dari perspektif temen-temen tentang sekilas tema yang diangkat, ada yang sudah baca mukadimah dan ada yang belum baca tapi semua memberi perspektifnya masing-masing dari tema tersebut. Ada yang memberikan pendapat tentang Duit Rokok yang dimaksud adalah manajemen kita dalam pengelolaan, terus ada lagi yang memberikan pandangan lain tentang kata Duit Rokok adalah sebuah simbol saja dalam memanajemen apapun, lalu ada juga yang mencela penggunaan kata Duit Rokok karena beliau bukan rokok addict, jadi ingin mengganti Duit Rokok dengan Duit Mie Ayam karena dirasa lebih universal.

Kang Khaq lalu menengahi dan sedikit mengerucutkan kalau memang duit rokok yang dimaksud adalah sebuah simbol saja dalam memanajemeni apapun. Idiom duit rokok jika dalam berkehidupan orang yang merokok pasti uang yang disisihkan untuk beli rokok adalah uang yang tidak dipakai untuk kebutuhan primer dan sudah teratur pembagianya secara sadar maupun tidak sadar.

Pak Munir sedikit menambahi di tengah obrolan tentang manajemen kebocoran finansial yang halus atau bocor alus. Uang kecil yang tiap hari kita keluarkan yang tanpa sadar dapat menggembosi sedikit demi sedikit keuangan kita, layaknya kapal yang berlayar di tengah lautan, kebocoran yang kecil dan halus akan mengganggu jalanya kapal kita dan bahkan bisa menenggelamkan kapal.

Mbah Bani kemudian menyambung dengan berbagi sedikit pengalamannya soal cerita pekerjaanya dan manajemen resiko yang dilakukanya. Sebagian pedagang kadang takut dan sangat menghidari yang namanya memberi hutang kepada pembelinya, tapi Mbah Bani malah kebalikannya, beliau suka memberi hutang kepada para pembelinya tapi tentu dengan manajemen resiko yang sudah diprediksi sebelumnya. Hal yang dilakukan Mbah Bani tersebut secara otomatis mengurangi pendapatan dari segi finansialnya, dengan hal itu Mbah Bani menambah pendapatanya agar menutup semua kebutuhan dan secara otomatis juga beliau masih mempunyai aset uang ke orang yang dipinjaminya.

Resiko juga tetap membayangi langkah yang diambil oleh Mbah Bani, resiko tidak membayar hutang dari para pembelinya juga akan merugikan bisnisnya. Lantas beliau juga merespon terkait hal itu sebagai pembersih sukmanya.

Pak Munir merespon cerita dari Mbah Bani sebagai branding profil usahanya ke para pembeli, hal itu secara tak sadar sudah dilakukan Mbah Bani sekitar satu tahun lebih. Dari proses branding itu cukup terasa manfaatnya saat ini karena sudah dari dulu proses branding yang unik itu dilakukan Mbah Bani.

Mas X kemudian menyambung dengan cerita dari sebuah perjalananya yang berhubungan dengan manajemennya dalam mengelola resiko, secara garis besar perjalanan yang diambilnya cukup terkesan baik-baik saja akan tetapi ia kadang merasa di sebuah persimpangan besar yang harus dilaluinya, sebuah pertanyaan besar yang masih dibingungkanya dan sedikit dibagi dalam pertemuan malam itu, bukan sebuah problem biasa tetapi problem yang berlapis-lapis dari aspek spiritualitas sampai kemanusiaan yang kadang beliau masih mengganjal.

Malam semakin larut dan masih datang juga beberapa teman yang datang di hampir penghujung acara, pembicaraan berlanjut oleh beberapa teman yang membahas tentang resiko-resiko soal memberi hutang kepada temannya, terasa sangat dekat dengan diri kita karena kadang kita menjumpai suasana seperti yang dibicarakan.

Tak hanya remaja 20 tahunan saja yang hadir, tapi hadir juga teman-teman yang masih belasan tahun yang masih duduk di bangku SMA dalam pertemuan Suluk Surakartan edisi Maret ini. Tentu manajemen resiko yang diambil oleh temen-temen SMA di zaman millenial berbeda dengan zaman dahulu yang percepatan informasinya tak secepat sekarang.

Salah satu pelajar SMA yang bercerita dari keseharian yang mau diseriusinya adalah fotografi dan bangunan, hal itu dilatar belakangi oleh pendidikan formalnya dan salah satu hobinya.

Malam sudah mau menyentuh hari berikutnya dan lantunan Shohibul Baiti menutup pertemuan Suluk Surakartan edisi Maret ini.

Gun

Tulisan terkait