Menu Close

Enam Tahun Sudah Kita Menganyam Cinta

0Shares

Ngenam Katresnan. Demikian judul maiyahan Suluk Surakartan, Sabtu (25/05/2022). Maiyahan kali ini istimewa. Bertempat seperti biasa, di Tanjunganom, namun waktunya berbeda. Biasanya malam Sabtu ke empat, tapi kali ini dilangsungkan pada malam Minggunya. Suasananya terasa istimewa, karena ini adalah peringatan enam tahun simpul Maiyah Kota Bengawan.

Teman-teman penggiat telah menggodok konsep acaranya sekian hari sebelumnya di pawon. Mereka menerima wangsit mentadaburi angka enam sebagai ngenam (Jawa: menganyam). Yang dianyam adalah katresnan: cinta.

Membaca judul dan mukadimahnya, saya teringat almarhumah Mbahe yang membuat tikar mendong sendiri untuk serban rumah beliau. Serban itu sofa tradisional di sebagian daerah di tanah Jawa. Tikar dengan ukuran sekira 90 x 180 cm2 itu beliau anyam hingga berhari-hari. Mata tua beliau begitu tekun bekerja sama dengan jemari tangan dan telapak kaki. Harus sabar dan telaten. Kalau tidak, tak bakal jadi selembar tikar untuk rebahan di tengah hari.

Begitulah cinta, kita mesti sabar dan telaten untuk bisa menumbuhkembangkan dan melestarikan. Demikian kira-kira hasil masakan Pawon tempo hari.

Benarlah. Malam ini tak seperti biasanya. Rasa syukur atas pertolongan Gusti Allah untuk ngenam katresnan selama enam tahun ini disimbolkan dengan nasi bancaan yang khas dengan gudangan. Gudangan adalah sayur dedaunan dipadu kacang panjang dan kecambah dengan bumbu sambal kelapa parut. Warnanya dominan hijau yang melambangkan kesuburan dan kehidupan.

Secara formal, acara dibuka oleh MC Arko dan Dita (ini nggak seperti edisi Suluk Surakartan yang biasanya lho) dan diisi dengan sambutan dari ketua penggiat Ahmad Abdul Khaq dan sesepuh sekaligus sohibul baitnya lokasi Suluk Surakartan Pak Munir Asad.

Usai acara pembukaan formal itu, lampu ruangan di matikan. Terlihat seorang yang rambutnya gondrong dan terurai menyalakan lilin. Memutar lantunan azannya Mbah Nun dan dilanjutkan dengan lantunan instrumental gamelan. Dialah Jumirin, salah satu penggiat yang sedang membawakan monolog dengan tema menyelami kehidupan ala Markesot dengan sutradaranya Indra Agusta. Hadirin menyimak setiap kata demi kata yang dilontarkan Jumirin dengan khidmat, sesekali dihiasi suara bocah-bocah balita yang ikut diajak orang tuanya hadir di acara ini. Monolog pun berakhir dengan ucapan halal bihalal dari “Markesot” aka Jumirin. Ya, ini memang masih suasana lebaran, jadi sekalian syawalan.

Pukul sepuluh lewat sekian menit, hadirin diayun dengan beberapa nomor lagu oleh Gema Isyak dan Said. Sebuah perpaduan apik dari dua anak muda yang membawakan beberapa karya lama dan modern dengan aransemen khas mereka. Para hadirin terlihat sangat menikmati suguhan yang harmonis itu. Penampilan keduanya pun disambut dengan tepuk tangan sebagai apresiasi dari para jamaah atas persembahan mereka.

Selanjutnya, dimulailah Tawasulan yang dipimpin oleh Mas Islamiyanto, salah satu vokalis Kiai Kanjeng dan sekaligus salah satu sesepuh Suluk Surakartan. Beberapa penggiat senior seperti Wasis, Ustadz Aziz, dan sesepuh yang lain, Pak Asad Munir dan Pak Priyanto juga ikut menemani beliau. Sekira sepuluh menit jama’ah hangat dalam wirid, kemudian dialnjutkan ritual potong tumpeng dengan khidmat. Pak Asad Munir berkenan memotong tumpeng dan menyerahkannya pada Pak Islamiyanto untuk menandai genapnya usia enam tahun Suluk Surakartan. Selanjutnya para hadirin mengambil hidangan dan makan sambil terus menikmati pentas di depan.

Lagi-lagi ini malam istimewa. Kita sedang merayakan kebahagiaan setelah enam tahun menganyam cinta. Tak ada diskusi seperti biasa. Mas Yus tak berkesempatan bersuara. Satu sama lain hanya mengobrol bercanda tawa. Jumlah hadirin memenuhi tempat yang disediakan. Kembali meluap seperti sebelum dunia diguncang Korona. Saya melihat wajah-wajah baru. Pun wajah lama yang sudah lama sekali terlihat. Ada personil Kiai Kanjeng segala. Dan istimewanya lagi, ada beberapa anak kecil yang turut menghangatkan suasana dengan tingkah polos mereka.

MC Arko dan Dita dengan gaya kocak nan renyah terus memandu acara. Lalu tibalah saatnya pentas wayang kardus oleh dalang cilik Ki Wisanggeni yang mengambil lakon Dewi Utari Kesurupan. Wisang, demikian anak sembilan tahun ini biasa disapa, adalah putra Ustadz Azis, pemakmur Gubuk Randhu Jembagar, Boyolali. Menurut ayahnya, cerita ini terinspirasi oleh azbabunnuzul ayat Alquran.

“Itu berawal dari cerita azbabunnuzul surat Al Falaq dan An Naas di mana Kanjeng Nabi pernah disihir lalu turun surat tersebut yang kemudian mengurai tali-tali sihir itu,” terang Azis.

Musik, lagu, canda, pisuhan, obrolan ringan, kangen-kangenan, wirid dan doa, ngemil, ngopi, udud, apa lagi ya? Pastinya tak ada diskusi kelas berat seperti biasanya. Oya, ada pementasan musik puisi yang dibawakan ayahnya dalang cilik. Azis yang diiringi petikan gitar Attar Fuadi alias Mbah Attar, membawakan satu puisi Chairil Anwar. Sebuah puisi perlawanan. Menyusul duo kembar dari Sragen, Indra Agusta dan Rendra Agusta juga turut tampil memeriahkan acara ini.

Yang paling mengharukan (kalua ga mau dikatakan lucu) pada mala mini adalah, datangnya rica-rica ayam yang telat gara-gara penggiat lupa menyuguhkannya usai tawasulan. Sebagian jamaah kembali menyantap hidangan susulan itu sembari melanjutkan obrolan ringan dan menikmati penampilan dari para penggiat yang pentas. Itulah isi malam ini. Tampak wajah-wajah yang lupa jarum jam. Bahkan pun bocil-bocil itu. Semua masih bergairah hingga tengah malam yang tak disadari telah datang. Arko dan Dita mengingatkan, “Saatnya Shahibu Baiti…”

Lampu dimatikan. Hening.

Shahibu baitiii… Shahibu baitiii… Shahibu baitiii…iii…iii…iii… yaa Shahibu baitiii…

Usai, namun belum usai. Yang mau lanjut ngobrol, lanjut. Yang mau makan lagi, silakan. Yang mau ndudut udud, monggo. Yang mau tidur, semoga mimpi indah. Yang mau pulang, hati-hati di jalan.

Sampai jumpa di Suluk Surakartan bulan depan! []

Reportase : Ibudh
Penyunting : Yuli

Tulisan terkait