Menu Close

Kidung-Kidung Jawa dalam Manunggal Pasinaon

0Shares

Majelis Maiyah Solo edisi pertemuan ke-9 berlangsung pada 29 Oktober 2016. Pada pertemuan yang ke-9 ini mengangkat tema “manunggal pasinaon”. “Manunggalpasinaon” mempunyai 2 spektrum, manunggal = tunggal atau satu, sinau = sinau, atau proses, atau konsep. Sehingga, pergertian secara untuhnya bisa dapat diartikan sebagai belajar bersama. Lantas apa yang kita pelajari di Maiyah Solo? Pada dasarnya, dimanapun majelis maiyah berada, baik di Solo atau simpul maiyah di kota-kota lainnya, dan bahkan di Mocopat Syafaat sendiri, selalu mempelajari tentang ilmu kehidupan baik yang berupa sosisal, budaya, kelaman, politik dan lain sebagainya. Karena ilmu kehidupan bersifat luas dan tak terkotak-kotak seperti yang terjadi pada ilmu modern. Dan ilmu kehidupan itu bersifat integratif (saling sambung sinambung antara satu dengan ilmu yang lainnya).

Latar belakang diangkat tema tersebut, tak terlepas darikeinginan para penggiat untuk belajar bersama dari pengalaman pribadi dari setiap jamaah. Selain itu juga, para pegiat ingin mengetahui keanekaragaman sudut pandang dari berbaga ijamaah yang hadir. Diharapkan dari diskusi tersebut, dapat muncul keanekaragaman sudut pandang dan kita dapat mempelajarinya guna memperkaya khasanah keilmuan kita bersama.

Seperti pada Majelis Maiyah Solo sebelum-sebelumnya, acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Dan setelah itu acara diskusi dipimpin oleh Wasis dan Dika, selaku moderator dan penggiat Maiyah Solo. Akan tetapi sebelum acara diskusi dimulai, moderator mencoba meminta jamaah Maiyah Sendang Katresnan dari Miri, Sragen untuk mengenalkan dirinya, yang pada kesempatan itu hadir ditengah-tengah jamaah maiyah Solo. Hal tersebut dilakukan agar harmoni atau kemesraan antar jamaah terjalin lebih eret.

Setelah jamaah Maiyah Sendang Katresnan dipersilahkan memperkenalkan diri. Moderator mempersilahkan grup musik Selaksa yang diasuh oleh Mas Islamiyanto untuk melantunkan lagu yang telah dipersiapkan. Dan lagu yang dilantunkan ialah Kidung Wahyu Kolosebo versi aransemen Selaksa, ditengah-tengahnya diselipi pembacaan puisi. Kidung Wahyu Kolosebo yang diciptakan oleh Sri Narendra Kalaseba terinspirasi dari para wali-wali, ini mempunyai filosofi yang mendalam. Konon,  pada zaman dahulu kidung ini sering digunakan sebagai japa mantra. Karena kidung ini mempunyai kekuatan magis atau spiritual dalam setiap lirik kata-katanya. Lantunan Kidung Wahyu Kalasebo pun berakhir.

Sebelum diskusi dimulai, Wasis mempersilahkan Pak Herman dan Mas Islamiyanto untuk melambari jamaah terlebih dahulu dengan kebudayaan jawa. Pak Herman membedah nilai-nilai yang terkandung di kidung Rumekso Ing Wengi dan kemudian menjelaskan beberapa falsafah dalam kebudayaan jawa. Salah satunya ”ilmu iku kelakone kanthi laku” (ilmu terjadi/didapatkan melalui praktek/aplikasi), walaupun laku dari setiap orang berbeda-beda. Ini menunjukan bahwa orang jawa dulu merupakan seorang peneliti sekaligus seorang praktisi yang handal dalam ilmu kehidupan. Sebab, dengan menafsirkan alam, simbah-simbah dulu sudah mampu menghasilkan ilmu-ilmu kehidupan yang luar biasa. Misalnya saja ilmu tentang pranoto mongso. Ilmu pranoto mongso ini biasanya digunakan dalam bidang pertanian. Baik ketika menentukan penanaman, jenis tanaman yang mau ditanam dan pemanenan tanaman.

Setelah Pak Herman, menjelaskan berberapa falsafah hidup orang jawa. Mas Islamiyanto menambahi dan menegaskan kepada para jamaah agar belajar dari ilmu santen (santan/perasan daging kelapa). Ketika kita ingin mendapatkan santen, kita harus melakukan beberapa tahap yang harus kita lalui untuk mendapatkan santen. Akan tetapi setelah mendapatkan santen untuk campuran masakan, kita melupakan santen tersebut. Mas Islamiyanto mencontohkan, semisal santen dicampurkan dengan singkong untuk bahan dasar kolak, kita menyebutnya itu dengan kolak singkong. Dan apakah kita pernah menyebutnya kolak santen?, tuturnya. Artinya, ibroh yang harus kita petik dari ilmu santen jangan pamrih. Jangan berharap kebaikan yang kita lakukan dinilai baik oleh orang, cukuplah Allah yang menilai sesuatu kebaikan dari kita, pungkasnya. Seperti perumpamaan yang sering kita dengarkan, “bagaikan tangan kanan ketika memberi, jangan sampai tangan kiri tahu”.

Setelah Pak Herman dan Mas Is memberikan lambaran. Akhirnya moderator mempersilahkan jamaah untuk bertanya, menyanggah, atau bercerita tentang pengalaman pribadinya masing-masing. Setelah moderator mempersilahkan, akhirnya beberapa jamaah menyambut dengan mengeksplorasikan segala uneg-uneg yang ada benak pemikirannya. Mas Aan salah satu jamaah bertanya tentang kebahagian. Kebahagian menurut Pak Herman itu bersifat subjektif. Setiap orang memiliki standart kebahagian yang berbeda-beda. Misalnya, disaat kita mendapatkan “A” kita akan bahagia. Tapi ketika orang lain mendapatkan “A” belum tentu orang yang mendapatkan ”A” tersebut menjadi bahagia. Bahkan bisa saja dia akan sedih, karena “A” yang didapatkan tak sesuai dengan apa yang harapankannya. Dalam istilah Ki Ageng Suryomentaram, salah satu ahli jiwa yang berasal dari Solo, kebahagian itu bersifat relatif.

Salah satu jamaah melontarkan pertanyaan pada Pak Herman tentang Kidung Wahyu Kolo Seba apakah dipergunakan untuk memangil jin? Pak Herman pun menjawab, “Siapa yang bilang kayak gitu, kon sinau tenanan sek cah kui seng ngomong ngunu kui, sak karepe kowe jawab opo wae, seng penting ojo gumunan”. Pak Herman tak menjawab secara detail pertanyaan tersebut, akan tetapi beliau memberikan gambaran secara umum. Bahwa kebudayaan jawa banyak yang dibelokan oleh oknum-oknum tertentu. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat tak mempelajari dan mengamalkan khasanah keilmuan jawa lagi. Sehingga keluhuran budaya jawa hanya menjadi artefak atau fosil yang tertata rapi dalam buku-buku sejarah. Hal serupa seringkali dituturkan Mbah Nun diberbagai Majelis Maiyah, bahwa ada oknum-oknum yang ketakutan dengan bangkitanya peradaban jawa. Sehingga dengan berbagai macam cara masyarakat jawa harus dijauhkan dari akar kebudayaannya.

Dalam penegasannya, Pak Herman menghimbau pada para jamaah agar tetap percaya diri dengan kebudayaan jawa yang kita miliki. Dan jangan ada rasa minder dan silau terhadap budaya asing. Karena pada dasarnya kebudayaan jawa memiliki keluhuran yang luar biasa. Itupun terbukti pada masa kerajaan Majapahit yang mengantarkan kebudayaan jawa pada titik kejayaannya. Hal tersebut juga tak bisa terlepaskan dari pijakan dasar laku kehidupan simbah-simbah kita dulu pada ilmu laku dan titen.

Oleh: Wahyudi Sutrisno
Editor: Tim Redaktur Maiyah Solo

Tulisan terkait