Menu Close

Nguwongke Uwong (Bagian 2)

0Shares

Jawa dan Kebudayaannya

Setelah sekian lama kebudayaan jawa mengalami puncak-puncaknya dalam menghiasi peradaban dunia. Akan tetapi sedikit demi sedikit kebudayaan jawa mengalami kemunduran hingga mengalami titik krisis seperti pada saat ini. Mati tak mau hidup pun engan. Itulah perumpaman dalam pengambaran kondisi kebudayaan jawa saat ini. Entah apa yang melatarbelakagi hal tersebut, sehingga menyebabkan kondisi kebudayaan Jawa seperti itu. Para pakar mempunyai banyak kesimpulan dalam melihat kodisi tersebut. Ada yang mengatakan kemunduran tersebut merupakan by setting(setingan) dari oknum-oknum tertentu yang tak suka terhadap kemajuan kebudayaan Jawa. Dalam kalangan budayawan, ini disebut sebagai politik kebudayaan.

Dan dampak dari politik kebudayaan ini tak hanya dialami di jawa saja. Tapi seluruh penjuru nusantara juga mengalami hal yang demikian. Bahakan dampak dari peghancuran kebudayaan lokal ini, sudah menyebabkan beberapa produk kebudayaan (baik itu bahasa, seni, tradisi hingga musik lokal) yang telah mengalami punah atau hilang dari peredaran bumi Nusantara. Penghancuran kebudayaan yang ada di Nusantara terutama kebudayaan Jawa, sering kali dituturkan oleh Mbah Nun di berbagai forum Maiyah. Motif penghancurannya beragam sekali. Dari yang mengunakan strategi politik kebijakan pemerintah maupun globalisasi. Ini merupakan penghancuran yang sistemik dan banyak dari kita yang tak menyadari hal tersebut. Maka dari itu dalam menyikapi hal tersebut, Simbah juga mengajak kepada kita semua selaku bagian dari masyarakat Jawa untuk kembali nguri-nguri (menghidup-hidupi) kebudayaan Jawa.

Sebelum para sesepuh Maiyah Solo dipersilahkan maju. Wasis terlebih dahulu mempersilahkan Wisnu untuk maju dan memperkenalkan dirinya kepada jama’ah. Wisnu ini merupakan salah satu jama’ah yang sedang mendalami kebudayaan jawa dengan teman-temannya, ujar Wasis. Dengan semakin bertambahnya masyarakat jawa yang meninggalkan dan khawatir akan kepunahan kebudayaan jawa. Maka dari kegelisahannya tersebut, ia dan beberapa rekan-rekannya berinisiatif membentuk sebuah forum belajar tentang kebudayaan Jawa.

Forum tersebut diberi nama Sraddha. Sraddha ini memiliki pengertian keyakinan. Pembelajaran dalam Sraddha ini akan memfokuskan pada sastra Jawa kuno dan sastra Jawa modern. Wisnu memberikan alasan kenapa Sraddha memfokuskan pada pengkajian sastra? Karena sastra Jawa merupakan pintu gerbang untuk mempelajari kebudayaan Jawa secara utuh. Selain itu Wisnu dan teman-temannya mempunyai ekspektasi kepada peserta Sraddha mampu membaca 30 naskah Jawa kuno, harapnya.

Apa sebenarnya keunggulan dan daya tarik dari kebudayaan Jawa itu. Sehigga kita harus mempelajarinya? tanya Umar. Semua hal yang ada dalam kebudayaan Jawa itu menarik. Jawa itu luwes, jawab Wisnu. Wisnu mengutip pernyataan yang pernah Mbah Nun utarakan “kalau kita bisa njawani, kita akan luwes dan mudah menerima”. Dan karateristik orang jawa itu tidak membuat orang kemrungsung (tergesa-gesa). Akan tetapi banyak orang menilai negatif kebudayaan Jawa dengan berbagai stigma yang berkembang di masyatrakat, ungkapnya.

Keprihatinan juga dirasakan oleh Pak Munir As’ad yang juga selaku sesepuh Maiyah Solo. Menurutnya, generasi sekarang telah tercerabut dari akar rumputnya, sehingga generasi sekarang sudah banyak yang tak mengetahui tentang kebudayaan jawa secara utuh. Menyikapi hal tesebut, dalam kehidupan keluarganya, ia selalu menerapkan pola komunikasi dengan mengunakan bahasa jawa dan jarang mengunakan bahasa nasional. Walaupun tetangga sekitar menilai keluarganya itu kuno, tapi ia tak memperdulikannya, tegasnya. Selain itu, ketercerabutan terhadap kebudayaan akan menyebabkan kita tak mempunyai kedaulatan atas diri kita sendiri. Sehingga dengan mudahnya kita terbawa tren mode kehidupan sehari-hari. Misalnya mobil, pakaian hingga sampai makanan pun kita sudah gagap menyikapinya dan kita dengan mudahnya terseret arus globalisasi tersebut, tambanya.

Jawa itu momot, amot dan kamot. Sehingga dibuangi seperti apapun Jawa itu akan selalu tetap hidup. Itu disebabkan karena begitu luasanya karakter Jawa. Tanggapan Pak Herman tersebut senada dengan pernyataan Mbah Nun disaat sedang membahas Jawa. Bagaimanapun caranya orang yang tak suka dengan Jawa, mencoba mematikan atau menghancurkan kebudayaan Jawa, mereka tidak akan mampu. Dan bahkan peradaban Jawa pada suatu saat nanti akan tumbuh kembali, begitu tutur Mbah Nun. Selain kearifan dan kesaktian jawa, Pak Herman juga menyoroti kelemahan jawa yaitu anut grubyuk dan gugon tuhon, jelasnya.

Lantunan Kidung Wahyu Kala Sebo pun beralunan didalam ruangan Rumah Maiyah Solo setelah Wasis mempersilahkan Selaksa untuk menabuh alat musiknya. Setelah Selaksa Selawat rampung membawakan Kidung Wahyu Kala Sebo, Wasis mempersilahkan Pak Herman, Pak Munir As’ad dan Mas Islamiyanto, selaku sesepuh Maiyah Solo untuk maju kedepan untuk mengenalkan dirinya kepada jama’ah. Bersambung……

Oleh: Wahyudi Sutrisno

Editor: Tim Redaktur Maiyah Solo

Tulisan terkait