Menu Close

Bertahan Di Era Kapitalisme Global

0Shares

Malam ini, Cak Nun dan Kiai Kanjeng hadir membersamai masyarakat di IAIN Surakarta. Acara yang diselenggarakan oleh civitas akademika kampus Islam itu mengangkat tema “Peran Agama dalam Menjaga Budaya Lingkungan Hidup”.

Diawali dengan doa Khatmil Quran, semua hadirin khusyuk mengikutinya. Kemudian Cak Nun mempersilahkan Rektor IAIN Surakarta untuk memberikan pengantar berkaitan dengan tema yang diusung.

Cak Nun membuka penjelasannya dengan mengajak hadirin untuk berpikir secara komprehensif, melalui pendekatan asosiasi yang terstruktur. Jika sekarang menggunakan sepeda motor, maka pikirkan juga soal asap, soal pabrik, regulasi impor, hingga urusan lingkungan. Karena kita selalu berkait dengan berbagai hal, maka jangan hanya berpikir sempit di bidangnya masing-masing.

Menurut beliau, kehidupan kita saat ini sudah dikendalikan oleh kapitalisme global. Kita didikte untuk menjadi konsumen. Seharusnya tidak perlu ada mall, tapi tempat itu dibangun dan mau tidak mau kita digiring untuk masuk ke dalamnya. Dan banyak hal di sekitar kita yang seharusnya tidak perlu tapi dicekokkan ke kepala kita sehingga kita tidak sempat berpikir.

Saat ini kita diadu untuk terus bermusuhan satu sama lain. Jika hal seperti ini diteruskan, kita bisa mengalami situasi yang mengerikan. Cara berpikir Barat yang terlanjur merasuki pikiran kita membuat kita selalu mendikotomikan segala sesuatu. Agama ditempatkan sebagai ruang tersendiri. Padahal seharusnya Islam menjadi payung dan cara pandang dari semua tindakan kehidupan kita.

Kiai Muzammil kemudian menyambung dengan konsep alam yang selama ini disalahpahami. Menurut beliau, konsep alam itu berbeda dengan nature. Dalam konsep alam, ia berkait dengan alamat atau dalam bahasa kita adalah tetenger. Alam menjadi tanda adanya pencipta. Berbeda dengan konsep nature dari Barat yang menganggap apa yang kita sebut alam saat ini sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya. Karena nature berangkat dari ateisme.

Cak Nun kemudian menekankan bahwa yang terpenting setelah mengikuti acara-acara maiyah adalah memiliki ilmu keseimbangan. Setiap hal itu ada takarannya, makanya jangan sampai kita berlebihan terhadap hal apa pun. Sebagai puncak sesinya, Kiai Kanjeng mengajak hadirin untuk mengingat sifat 20. Hadirin khusyuk menyimak nomor yang disuguhkan. Cak Nun bahkan memanggil mahasiswa IAIN untuk naik ke panggung, mereka memiliki suara bagus dan diminta untuk menampilkan kemampuannya bertilawah dan bersholawat. Hadirin pun diajak menyanyikan Shalawat Badr bersama-sama. Semua turut mengikutinya dengan khidmat.

Cak Nun melanjutkan penjelasannya bahwa Allah menciptakan kehidupan ini dengan metabolismenya masing-masing. Manusia ditugasi sebagai khalifah untuk menjaga agar metabolisme kehidupan tidak terganggu. Maka dari itu, manusia harus belajar manajemen kehidupan. Ancaman kapitalisme China harus dijawab dengan belajar sungguh-sungguh dan berkompetisi dengan mereka sehingga mereka tidak mencaplok aset-aset kita, bukan dengan membunuhi mereka.

Terhadap informasi, kita harus menjadi produsen, bukan konsumen. Dari pada sibuk meributkan berbagai sampah informasi di medsos dan internet, lebih baik menulis berbagai kebaikan dan sebarkan sebanyak-banyaknya. Sebagai jeda, Kiai Kanjeng membawakan nomor Ruang Rindu.

Cak Nun kemudian melanjutkan dengan menceritakan pengalaman perjalanan Kiai Kanjeng tour Eropa, mulai dari London hingga Italia ketika bertepatan dengan wafatnya pemimpin petinggi Katolik Roma, Paus Yohanes Paulus II. Beliau juga menceritakan perjalanannya ke Korea dan melihat bagaimana keceriaan umat Islam, khususnya dari Indonesia.

Menurut beliau, tidak ada umat yang paling menikmati hidup kecuali umat Islam, karena bisa bershalawat dan melakukan berbagai hal yang tidak ada dalam khazanah kebudayaan Korea. Berbeda dengan masyarakat Korea yang seharian menjadi mesin, malamnya kebingungan dengan dirinya sendiri. Makanya tidak heran jika kemudian ada sebagian yang bunuh diri. Sesi ini ditutup dengan lagu Perdamaian yang dahulu pernah dibawakan grup qasidah Nasida Ria.

Selanjutnya dibuka sesi tanya jawab dan langsung disambut oleh beberapa hadirin. Pertanyaan pertama berkaitan dengan apa yang harus dilakukan umat Islam menghadapi kapitalisme global seperti saat ini. Pertanyaan kedua bagaimana cara mendapatkan data yang dapat dipercaya untuk menghasilkan pola yang valid di tengah simpang siurnya informasi seperti sekarang.

Pertanyaan ketiga dimulai dari kegelisahan tentang agama yang dianggap gagal, karena tidak mampu membuat pemimpin percaya pada rakyatnya, hingga mereka terjebak untuk menggandeng asing. Di samping itu, agama juga disalahgunakan untuk berebut kekuasaan. Bagaimana menyikapi hal ini. Pertanyaan terakhir berkaitan pemikiran para tokoh filsafat yang menjadi mainstream.

Kiai Muzammil mengawali merespon pertanyaan. Beliau menyayangkan umat Islam yang saat ini terjajah, tapi selalu merasa menang satu sama lain sehingga terus bermusuhan dan berebut kekuasaan. Maka sudah saatnya umat Islam harus menyadari bahwa posisinya saat ini sedang kalah, sehingga perlu bersatu dan membangun kekuatannya kembali untuk menang.

Cak Nun meluruskan agar kita meletakkan Islam sebagai metodologi atau cara pandang. Beliau meluruskan pandangan sang penanya, bahwa agama tidak dapat dikatakan gagal, karena ia dari al Quran. Yang gagal adalah khalifahnya (manusia) yang tidak mampu mengaplikasikan al Quran sesuai tujuannya. Beliau mengajak berpikir tentang Islam, apakah ia sebagai esensi kehidupan atau hanya sekedar informasi akademik semata.

Beliau mendefinisikan syariat Islam secara esensial sebagai hal-hal yang menjadi sunnatullah. Maka kita harus bisa berdialektika bagaimana melihat Islam secara esensial dan Islam secara simbolik. Kebanyakan saat ini kita terjebak pada Islam secara simbolik saja.

Dengan kesadaran esensial itu kita menjadi presisi untuk melihat segala sesuatu. Kita tidak anti China, tetapi anti pada penindasan kapitalistiknya atas negeri ini. Nama-nama ilmuwan muslim banyak yang terpendam, tapi tidak mungkin ilmuwan hari ini berkembang jika mereka meninggalkan sunnatullah. Jadi ilmuwan yang mengaku ateis pun, ilmu yang mereka kembangkan tetap patuh pada sunnatullah.

Maka dari itu, kapitalisme adalah tanda ketidakseimbangan peradaban. Dengan mengikuti kapitalisme maka kita mengalami berbagai guncangan karena eksploitasi hidup yang semata-mata berorientasi pada dagang. Beliau juga menegaskan perbedaan pluralitas dan pluralisme. Yang benar adalah pluralitas karena itu sunnatullah. Yang harus ditekankan adalah mengakui adanya pluralitas, bukan pluralisme, karena pluralisme adalah rekayasa manusia untuk mengubah tatanan plural yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Demikian juga dalam memandang sesuatu kita harus seimbang. Tidak mungkin kita sebut seseorang liberal lantas apa pun tentangnya disebut liberal. Tidak mungkin pula kita sebut seseorang fundamentalis lantas apa pun tentangnya disebut fundamentalis. Kita mengandung sisi liberal, fundamentalis, dan unsur lainnya sekaligus. Yang terpenting bagaimana menempatkannya secara tepat dan proporsional.

Beliau menyindir bahwa kita adalah umat muslim, bukan mukmin. Jika umat mukmin, kita saling memberi rasa aman, bukan saling bertengkar seperti sekarang. Kita baru sebatas umat muslim, umat yang pasrah, itu pun pasrahnya pada AS, China, dan berbagai kekuatan asing.

Maka dari itu, beliau mengajak umat Islam untuk berpikir komprehensif. Di tengah lautan globalisasi yang sudah najis ini, maka hukum fikih tidak bisa asal diaplikasikan, harus diikuti dengan pertimbangan akhlak. Perdebatan soal hukum fikih shalat Jumat dalam aksi 212 adalah contoh tidak produktifnya umat Islam, karena masalah utamanya ada pada akhlak dan kemaslahatan umum.

Sedangkan terkait mencari data yang otentik, maka yang diperlukan adalah kejelian akal mencerna, harus online dengan Allah. Karena bagaimana pun data yang dianggap banyak bohongnya, tetap ada sisi tidak bohongnya, demikian pula sebaliknya.

Cak Nun menegaskan bahwa yang diperintahkan adalah tadabbur, bukan tafsir. Disiplin tafsir haruslah dimasukkan sebagai bagian dari tadabbur. Tadabbur itu menghadirkan hati, bukan sekedar kecerdasan akal. Jika yang diunggulkan hanya akal dan pikiran hasilnya adalah pemikiran madzhabiyah. Maka dari itu dalam disiplin ilmu tafsir hendaknya dilandasi dengan semangat tadabbur.

Setelah sesi pertanyaan, Kiai Kanjeng berkolaborasi dengan salah dua pegiat Maiyah Cahyo Sumebar Sukoharjo membawakan nomor Laksmana Raja Di Laut. Dilanjutkan dengan nomor Laa Tahzan oleh mas Islamiyanto dan Cinta Blablabla oleh mas Imam Fatawi.

Rektor IAIN kembali memberikan garis bawah atas uraian Cak Nun. Beliau menekankan pada pentingnya kita untuk menjadi manusia yang cerdas memahami al Quran sehingga kita bisa mengaplikasikan kehidupan yang indah. Apa yang diuraikan Cak Nun menyadarkan pentingnya akhlak agar kita tidak terjebak pada fikih minded. 

Cak Nun kembali menekankan bahwa dalam pengamalan Islam, akhlak harus diletakkan lebih tinggi dari pada fikih. Sehingga tidak melahirkan asumsi bahwa Islam identik dengan fikih semata. Setiap hal dalam hidup harus dijalani secara Islam dan ada aspek-aspek tertentu yang harus dirumuskan dalam bentuk hukum positif yang disebut sebagai fikih. Dengan cara pandang ini, maka sikap kita terhadap lingkungan juga akan lebih memuliakan, tidak sebatas berkutat pada hukum boleh atau tidak boleh.

Kiai Muzammil menekankan bedanya manusia yang memakai cara pandang agama dengan yang bukan. Maka orang yang memiliki cara pandang agama semacam ini, jelas tidak akan merusak lingkungan. Dia juga tidak akan berzina dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan cara pandangnya.

Pada bagian akhirnya, Cak Nun mengingatkan agar umat Islam tidak bertengkar satu sama lain. Semua harus menyadari perannya masing-masing. Jangan sampai justru saling mencela. Tidak semua harus menjadi satu barisan walau sebenarnya satu pasukan.

Dan acara dipuncaki dengan lantunan Shohibu Baiti. Para hadirin khusyuk mengikuti sampai selesai. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Kiai Muzammil. Acara selesai dan hadirin antri dengan tertib untuk bersalaman dengan Cak Nun.

Penulis : Yuli Ardika Prihatama
Editor : Agung Pranawa
Foto : Umar Khaliyf

Tulisan terkait