Menu Close

Tadabbur Segitiga Cinta

0Shares

Pukul 21.00, setelah nderes Al Quran, sembari merapatkan barisan jamaah, forum diisi dengan sajian dua nomor keroncong (Bengawan Solo dan Sewu Kutho) secara insidental dan spontan oleh Wasis yang juga sebagai Moderator, dengan iringan musik oleh Selaksa. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi “Mengenal Lebih Dekat” sekapur sirih sejarah Simpul Maiyah Solo dan Selaksa. Turut berpartisipasi memperkenalkan diri dalam sesi “Mengenal Lebih Dekat” beberapa jaamaah baru yang baru pertama kali bergabung di Pertemuan Simpul Maiyah Solo.

Memasuki acara inti yakni sesi diskusi dengan tema “Segitiga Cinta” dibuka oleh moderator dengan melempar bola kepada jamaah untuk sharing pemikiran hasil tadabbur setiap jengkal nilai segitiga cinta maiyah. Atau bisa juga disebut keinginan mendasarkan setiap aktifitas jamaah dengan nafas keilahian, kenabian, dan juga kemanusiaan. Segitiga Cinta kaya akan makna. Majelis ini berupaya mentadabburi jutaan makna tersebut, sehingga akan ketemu titik silang pada aplikasi kehidupan.

“Sertakan Allah dan Muhammad pada setiap nafas hidupmu”, begitu kira2 pesan tersirat sesepuh maiyah solo Pak Asad Munir menyampaikan muqodimmahnya. Saking kayanya makna segitiga cinta ini didalamnya terdapat segitiga-segitiga kecil yang menyusun strukturnya. Dewa, seorang jamaah maiyah Solo pada sesi diskusi berhasil menerjemahkan segitiga cinta maiyah ini kedalam teori aplikatif kehidupan. Al Malik, Ar Rosul dan Aljabar. Ini merupakan dasar penyusunan kitab matematika Islam yang sengaja ia susun sebagai pemurnian teori matematika yang selama ini ada. Segitiga versi Dewa ini merupakan bagian kecil penyusun struktur bangunan segitiga cinta. Teori matematika yang selama ini kita gunakan sama sekali tidak mengandung nilai ketuhanan, sehingga semuanya hanya bermuara pada duniawi semata. Maka, semoga kitab yang sedang disusun Dewa ini akan menyudahi persoalan tersebut.

Segitiga cinta ini adalah bingkai, apa saja yang kita masukan didalamnya akan menjadi rumusan yang inklusif. Maka Mbah Nun sendiri mengajak cucu-cucu dan jamaah maiyah untuk membingkai berbagai persoalan multidimensi kedalam segitiga cinta antara Allah-Muhammad-Hamba. Dalam 3 sudut segitiga ini masing-masing akan memberikan timbal balik antara yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu banyak yang menyebut segitiga ini adalah segitiga keberkahan.

Kemudian pada kondisi saat ini, kemampuan lebih manusia dalam mengolah pikir telah mereduksi nilai-nilai peradaban. Atau dalam analogi pak Asad tanpa menyadari kita telah memisahkan makna hidup dan ibadah. Hidup duniawi, ibadah adalah akherat. Sebagaimana terjemah “…raihlah akheratmu dan jangan lupakan duniamu..”. Padahal hidup adalah ibadah, yang berarti semua aktifitas kehidupan harus berdasar pada norma peribadahan. Yang secara tidak langsung akan berhulu pula pada segitiga cinta maiyah ini.

Pada konteks yang lebih luas, manusia (termasuk diri kita) itu hidup namun mengalami kekosongan gerakan dan cenderung cair. Seakan-akan kita sebuah robot yang digerakan remote kontrol. Dan ternyata hal itu terjadi sebagai akibat kita sendiri telah memunculkan sekat antara hati kita dengan Allah sebagai pemilik ruh. Dengan Muhammad sebagai panutan ruh dan dengan sesama hamba sebagai titik ketiga ruhiyah.

Menyegarkan forum Maiyah Solo ke-12 tersebut, Selaksa dengan Gus Islamiyanto sebagai leading vocal menyajikan satu nomor yang secara insidental digubah malam itu juga. Sebuah bentuk sikap yang mencoba memberikan satu sudut pandang bahwa dengan menyatukan dirimu dengan Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW apapun bisa terjadi, bahkan hal-hal yang masuk kategori beyond anyone expectation. Sajian musik pun menjadi semacam jamming session yang amazingly enjoyable oleh baik pelaku musik maupun para jamaah.

Dalam sesi tanya jawab secara garis besar adalah tentang bagaimana memposisikan Segitiga Cinta dalam berbagai elemen kehidupan sehari-hari. Menanggapi pertanyaan tersebut Pak Asad mengutip apa yang disampaikan Mbah Nun tentang perintah “iqro”. Perintah iqro diartikan sebagai perintah untuk membaca ayat-ayat Allah yang apabila ditelaah lebih lanjut pada dasarnya iqro adalah membaca ayat Allah yang bentuk riilnya adalah Muhammad sebagai uswatun hasanah. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mempelajari sejarah Rasullullah SAW untuk menjadi paduan kita menuju akhlaqul karimah sebagai jawaban dari berbagai persoalan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, terakhir kita letakan solusi lingkaran kedalam segitiga cinta maiyah, kita bangun struktur segitiga cinta maiyah dengan segitiga-segitiga kecil di dalamnya. Sehingga bangunan kebersamaan ini menjadi kuat dan utuh.

Diskusi kemudian ditutup dengan lantunan Astaghfirullah oleh Selaksa dan doa dipimpin oleh Gus Islamiyanto. Mengakhiri pertemuan ke-12 ini , Mas Wasis selaku moderator menyampaikan pengumuman terkait jadwal pertemuan selanjutnya di malam Jumat pekan ke-4 bulan Februari 2017. Pertemuan kemudian resmi ditutup pukul 00.45 dengan lantunan Duh Gusti oleh Selaksa yang diikuti oleh jamaah yang hadir.

Oleh: Soleh Febriyanto

Editor: Tim Redaktur Maiyah Solo

Foto: Umar Km

Tulisan terkait