Menu Close

Mengendarai Gelombang, Mengelola Getaran, Menelusuri Aliran

0Shares

Maiyah bulan Februari 2017 kembali digelar di Rumah Maiyah Solo. Sejak pukul 20.30 WIB jamaah mulai berdatangan. Tampak beberapa wajah baru hadir untuk mengikuti forum diskusi keilmuan dan kebudayaan yang telah rutin diselenggarakan oleh para penggiat Maiyah sejak beberapa bulan lalu.

Acara dibuka dengan tilawah al Quran bersama dipimpin oleh Rafi dan Aziz, kemudian dilanjutkan dengan shalawatan bersama untuk menyapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Usai tilawah dan shalawatan, keduanya undur diri dan jalannya acara dipandu oleh sang moderator terkeren Maiyah Solo, Wasis.

Wasis menyapa jamaah yang hadir, sambil mengarahkan mereka agar merapat ke depan. Wajah-wajah yang baru tadi pun disapa untuk diminta berkenalan satu per satu. Masing-masing maju satu per satu untuk memperkenalkan diri. Fuad, nama salah satu jamaah baru yang menampilkan kebolehannya menggunakan alat musik dari bambu, Rinding Gumbeng dari Gunungkidul.

Selanjutnya, para personel Selaksa, grup musik yang selalu setia menemani Maiyah Solo membawakan lagu bernuansa Arab, Tholaal Badru. Turut tampil pula mas Suryadi Nugroho atau yang akrab dipanggil Plenthe, perkusionis dan pengamat musik etnik mengiring lagu “kebangsaan” Maiyah Solo, yakni stanza pertama Kidung Wahyu Kalaseba yang dikompos oleh Habib Asyhari Adzhomat Khan.

Pak Munir Asad selaku sesepuh Maiyah Solo jamaah dan tamu spesial malam hari ini, Mas Agus Wibowo dari Majelis Gugur Gunung Salatiga. Beliau pun dipersilahkan maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya. Kemudian Pak Munir memberi prolog pertemuan malam hari ini dengan hal-hal terkait distorsi sejarah yang dialami masyarakat Indonesia sehingga mereka melupakan asal kebudayaannya.

Selanjutnya, mas Plenthe diminta memberikan penjelasan dahulu terkait riset musiknya. Beliau menjelaskan tentang konsep pentatonis gamelan Jawa. Kemudian beliau membahas berbagai penyimpangan-penyimpangan penggunaan gamelan yang tidak sesuai dengan tujuan awalnya. Saat ini penggunaan gamelan sering digunakan untuk kegiatan yang merusak moral masyarakat seperti tayuban dan sejenisnya yang selalu menampakkan fenomena orang mabuk dan berbagai dorongan seksualitas.

Ketertarikannya mengobservasi gamelan karena melihat kontradiksi dari sebagian pelaku seni yang meninggalkan syariat. Selain itu, gamelan terus menjadi polemik perdebatan di kalangan agamawan dan para budayawan. Observasi yang dilakukannya difokuskan pada frekuensi dan dampaknya kepada manusia yang mendengarkan. Perlakuan kebanyakan seniman pada gamelan hari ini sudah berbeda jika dibandingkan era para wali.

Mas Agus Wibowo selanjutnya merespon apa yang sudah diuraikan mas Plenthe terkait frekuensi bunyi. Menurut beliau, manusia dulu, para leluhur kita memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam. Dia mengangkat kata “uni” yang kemudian berkembang menjadi “kuni”, hingga “kuna”. Makanya ada tokoh wayang bernama Sangkuni atau saka uni, yang menggambarkan manusia yang rusak karena bunyi yang dikeluarkan dari lisannya cenderung mengadu domba.

Mas Agus melanjutkan dengan membahas kearifan-kearifan leluhur Jawa dalam menyikapi alam. Menjelaskan konsep aji sehingga lahir menjadi istilah “ngaji” dan “sesaji”. Kesadaran tentang detak jantung itu membuat orang Jawa memahami bahwa ibadah itu sifatnya kontinyu selama detak jantung masih berjalan. Maka hakikat “ngaji” itu ada pada persaksian selama hidup terhadap Tuhan, bukan sekedar apa yang selama ini disebut pengajian. Konsep “sesaji” pun sebenarnya bukan terletak pada wujud fisik makanan yang ditaruh di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti sekarang.

Di akhir penjelasannya, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya jika kita mengerti kesadaran soal frekuensi itu, maka pintu terdekat untuk kita bisa memahami berbagai hal ya lewat mimpi. Melalui mimpi itu pula kita bisa berkesempatan untuk merasakan kehadiran Nur Muhammad.

Wasis kemudian bertanya soal perpindahan tahta Ratu Saba’ oleh salah satu ahli kitab. Mas Agus menganalisis bahwa hal itu bisa terjadi karena sang ahli kitab memiliki keyakinan bahwa jasad mengikuti ruhani. Keyakinan sang ahli kitab sudah sangat tinggi kepada Allah sehingga ketika ia memanggil apa yang menjadi jasad (tahta) itu dalam hitungan sekejab saja.

Dalam cerita yang lain, kita bisa menelaah peristiwa Nabi Nuh memanggil anaknya agar turut serta di kapal. Mungkinkah itu percakapan yang sifatnya langsung yaitu menggunakan mulut dan telinga? Sementara banjir besar sudah menghadang mereka. Jawaban si anak yang durhaka dengan yakinnya akan menyelamatkan diri ke gunung yang tinggi. Itu artinya dia sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan teleportasi ke suatu tempat dengan sangat cepat. Tapi permasalahannya, anak ini tidak paham bahwa ketika azab Allah datang, kemampuan itu tidak akan berguna sedikit pun, karena ia akan dibinasakan.

Kemudian untuk jeda diskusi, kita kembali ke musik, secara improvisasi, Yusuf, salah seorang kru musiknya Selaksa, membawakan lagu Forever and One karya Helloween dilanjutkan dengan She’s Gone karya Steelheart. Luar biasa sekali penampilan beliau, mendapatkan sambutan tepuk tangan meriah dari para jamaah.

Selanjutnya Pak Munir Asad menyambung dialog dengan mas Plenthe, terkait dualitas musik. Pak Munir menarik pertanyaan itu ke hakikat ayat-ayat Allah yang tidak hanya terbatas ayat qouliyah dalam al Quran, tetapi juga kauniyah di alam semesta. Mas Plenthe kemudian menambahkan penjelasan bahwa seniman itu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan massa dalam waktu singkat di bandingkan dai. Maka menjadi seniman adalah amanah, maka jangan asal bermusik.

Memasuki sesi tanya jawab dengan jamaah, ada 4 orang yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada narasumber. Namun sebelum itu pertanyaan itu dijawab, ada persembahan spontanitas dari Fuad, salah satu jamaah yang ternyata juga musisi alat musik etnik dari bambu tadi, berkolaborasi dengan mas Plenthe dan violinis Selaksa, Prisha. Tepuk tangan jamaah menggema setelah penampilan tersebut selesai.

Mas Agus menanggapi soal moksa menjelaskan bahwa leluhur dahulu itu mengenal adanya kematian sempurna. Kita hidup semestinya menyadari bahwa apa yang kita punya ini sebenarnya titipan. Badan kita sendiri pun sebenarnya hanya pinjaman, termasuk ilmu yang kita serap. Selanjutnya beliau menguraikan konsep Tosan Aji. Pembuatan keris itu harus melibatkan bahan yang berasal dari langit dan bumi. Sedangkan hakikat pusaka itu sendiri terletak pada personal yang menggunakannya.

Terkait dengan kemampuan Nabi Sulaiman berbicara dengan binatang, mas Agus menanggapinya bahwa itu adalah mukjizat. Soal mekanismenya beliau membuat gambaran mengaitkan dengan pengalaman beliau sendiri bagaimana mengasah kepekaan terhadap apa yang dilakukan makhluk hidup. Di bagian akhir, mas Agus membabar soal hari-hari dalam kesadaran masyarakat Jawa.

Malam semakin larut, akhirnya majelis Maiyah Solo dipuncaki oleh Pakdhe Herman dengan sedikit prolog menuju tembang Dhandhanggulo dan menembangkannya, yang isinya pengharapan menuju kebaikan, pengarep ingkang becik.

Tulisan terkait