Menu Close

Opo Cah Angon Kuwi?

0Shares

Setiap kali Maiyah Solo, selalu menawarkan suasana yang berbeda-beda dari setiap kali pertemuannya. Walaupun suasana dalam setiap pertemuan selalu berbeda-beda, tapi nuasa kehangatan, ikatan paseduluran dan mengingat kembali tugas kita sebagai Khalifah Fil Ardl, makhluk gusti Allah dan umat kanjeng Nabi Muhammad. Nuasa atau spirit tersebut selalu menjadi karateristik dari maiyah itu sendiri, entah berada dimanapun itu tempatnya.

Pada pertemuan Maiyah Solo yang ke-14, sedulur-sedulur pegiat mengundang Mas Dhani Miftah (Pegiat Maiyah Jogjakarta) sebagai narasumber. Selain sebagai narasumber, beliau tak sendiri hadir di Maiyah Solo. Beliau hadir beserta grup musik Nilta Manilta yang mana Mas Dhani juga sebagai vokalisnya. Grup musik yang personilnya terdiri dari Yoyok, Adi, Adit dan Isa, semua personilnya juga merupakan Pegiat Maiyah Jogjakarta.

Dalam acara tersebut, Nilta Manilta membawakan beberapa lagu dan berkolaborasi dengan Selaksa. Nama Nilta Manilta itu sendiri diambil dari penggalan kalimat Sholawat Tarhim. Sedangkan secara pegertian, Nilta Manilta menurut pentadabburan Mas Dhani, merupakan hadiah dari Allah bagi siapapun yang terjaga dimalam hari.

Opo Cah Angon Kuwi?

Mas Dhani, sebelum mentadabburi tentang Cah Angon. Beliau mengajak jam’ah untuk untuk melantunkan Sholawat Alfa Salam agar dalam forum tersebut selalu nyambung dengan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah bersama-sama melantunkan Sholawat yang diiringi Nilta Manilta, beliau memulai topik pembahasan dengan menggali dasar kepemimpinan secara pengertian, klasifikasi ataupun tugasnya.

Pertama-tama, mengarisbawahi kepemimpinan dalam wilayah diri sendiri, dan diri sendiri dengan Allah dan sesama manusia. Dua tingkatan wilayah kepemimpinan tersebut saling terikat satu dengan yang lain dan tak dapat dipisahkan. Karena dua wilayah tersebut merupakan fase yang harus dilalui secara bertahap dan satu persatu tak dapat dilalui secara acak.

Pada fase pertama, kepemimpinan diri sendiri. Dalam tingkatan diri sendiri, merupakan konsep kepemimpinan yang lebih cendrung mengatur personalnya masing-masing. Dalam wilayah ini beliau mengkategorikan menjadi Jasadiyah (yang nampak dari luar) dan Nafsiah (bagian dari diri yang chemical atau tak berdarah daging, tak dapat disentuh, yang dalam pengertian modern disebut jiwa). Nafs menurut pentadabburannya dalam Al-Quran, dimaksudkan sebagai kecenderungan.

Nafs didalam Al-Quran terklasifikasikan menjadi beberapa antara lain sebagi berikut. Nafs yang kecenderungannya Ammarah Bissu’. Yaitu memerintahkan pada sesuatu hal yang buruk dengan polaritas positif-negatif. Nafsun Lawwamah sudah mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah maka akan terjerumus pada dosa. Nafsul Mulhamah kecenderungan atau dorongan dari dalam yang bisa mengarah pada kedurhakaan dan ketaqwaan. Nafsul Sawwamah yaitu kecenderungan diri yang senantiasa macak atau berhias diri agar terlihat bagus. Nafsul Mutmainnah kecendrungan diri ketika sudah mengalami keseimbangan didalam. Ini merupakan instrumen maupun alat yang dijadikan untuk membantu kita dalam mengangon diri kita sendiri, sebelum menginjak pada wilayah yang lebih luas.

Kedua, diri sendiri dengan Allah dan alam semesta dan sesama manusia. Fase ini merupakan kelanjutan dari fase kepemimpinan diri sendiri, ketika dia sudah mampu mengelola atau mengendalikan dirinya sendiri. Maka meningkat pada fase dasar dari fase ini ialah, Kholaif. Pada tahap Kholaif belum mempunyai pengaruh politik dan pengaruhnya atau pengelolaannya hanya terbatas pada diri sendiri. Meningkat pada pengelolaanya pada orang-orang disekitarnya entah itu keluarga atau komunitas disebut Khulafa’. Khulafa’ itu sendiri merupakan akar kata dari Khalifah yang artinya dibelakang.

Pada fase ini sudah mempunyai pengaruh politik kepada orang-orang disekitarnya. Selain itu juga mereka sudah teruji kemampuannya seperti yang digambarkan dua ayat didalam Al-Quran pada Nabi Adam dan Nabi Daud, maka pada saat itu mereka disebut Khalifah. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam penyebutan ketika Allah sebagai mustaklif (yang memberi perintah) pada Nabi Adam dan Nabi Daud. Kepada Nabi Adam, Allah menyebutnya sebagai subjek yang tunggal dengan dhomirnya “Aku” inni ja’ilun fil ardhi khalifah. Sedangkan ketika menyebut nama Nabi Daud, Allah mengunakan subjek yang jamak dengan mengunakan dhomirnya “Kami” inna ja’alnaka khalifatan fil ardh.

Selain itu juga penunjukan Nabi Adam telah diumumkan terlebih dahulu, bahwa Allah akan menciptakan khalifah dimuka bumi ini. Seperti yang digambarkan dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Sedangkan Nabi Daud membuktikan terlebih dahulu pasca peristiwa terbunuhnya Jalut baru Allah menyatakannya sebagai khalifah dalam riwayat surat Sad ayat 26.

Melengkapai penjelasan Mas Dhani, Pak Munir mencoba menjelaskan hasil tadaburannya dari surat At-Tahrim ayat yaa ayyuhaladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naara. Menurut beliau, melindungi keluarga dari api neraka yaitu melindungi dari segala hal yang tak baik. Beliau menganalogikan dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia prosesnya sama dengan teori pertmbuhan pada sebuah biji tumbuhan. Semisal sebuah pohon mangga tumbuh dan berkembang berawal dari biji, baru kemudian tumbuh tunas pertama, tumbuh lagi kemudian muncul cabang dan ranting dan kemudian baru bisa menghasilkan buah. Dari satu tumbuhan pohon mangga kemudian menghasilkan berjuta-juta dan bahkan bermilyar-milyar pohon mangga.

Beliau mengajak para jama’ah untuk mengambil hikmah dari pertumbuhan pohon mangga tersebut. Bahwa pada fase awal pertumbuhan dan perkembangan diri kita sebelum memimpin komunitas yang lebih besar, harus dimulai terlebih dahulu dengan memimpin diri kita sendiri. Setelah kita mampu dan mengelola diri kita baru kita memvibrasikan diri kita pada wilayah yang lebih luas. Entah itu sebuah komunitas, organisasi ataupun memimpin dalam sebuah negara. Namun pada era modern saat ini, menurutnya semua itu serba berkebalikan dari teori pertumbuhan. Semisal bikin partai politik yang lebih diprioritaskan seberapa besar jumlah massa yang akan didapatkan dan bukannya seberapa berkualitas SDM dalam partai tersebut.

Begitupula Pakdhe Herman yang mencoba menambah khasanah pembahasan dari prespektif jawa. Sebelum angon, alangkah lebih baiknya kita sebagai manusia harus merasa diri kita ini di angon (dipimpin) atau istilah tepatnya jadi ingon-ingon gusti Allah. Kesadaran kita sebagai ingon-ingon sangat penting sekali bagi masyarakat jawa dulu. Sehingga dengan kesadaran tersebut juga mempengaharui kearifan hidup masyarakat jawa pada zaman dulu. Misalnya saja ketika orang jawa melihat sesuatu perilaku yang buruk seseorang tak boleh dijelek-jelekkan dan kemudian diingatkan bahwa itu juga ingon-ingonnya Allah.

Artinya apa, sebelum mencari cah angon kita harus merasa diri kita sebagai ingon-ingon atau kawulanya gusti pangeran yang setiap saat senantiasa ngawulo pada-Nya. Ketika kesadaran kita sebagai hambanya sang khaliq tumbuh, secara otomatis harus menaati segala pathokan (syariat) yang berlaku. Sehingga mereka tak sibuk mengurusi urusan yang bukan menjadi urusannya.

Bersambung…….

Penulis : Wahyudi Sutrisno
Editor : Agung Pranawa
Foto : Umar Khaliyf & Arif Hidayat

Tulisan terkait