Menu Close

Neltamaanelta dan Selaksa Membersamai 1 Tahun Suluk Surakartan

0Shares

Kedua nama itu benar telah menjadi kabar gembira pada pertemuan Suluk Surakartan ke 16 atau tepatnya 1 tahun Suluk Surakartan berdiri. 2 kelompuk musik itu hadir di tengah jama’ah dengan karakter musik yang berbeda namun tetap memiliki nafas dan ruh yang sama, membersamai. Nafas dan ruh membersamai kedua kelompok musik tersebut menyatu dengan nilai kebersamaan yang telah dibangun Suluk Surakartan selama 1 tahun berjalan.

Datang dari Yogyakarta, Neltamaanelta dengan karakter musik pop akustik membuka gerbang diskusi dengan lantunan sholawat, sebagai tanda sapaan kultural sekaligus formal kepada Nabi Muhammad SAW. Disini nampak tanda kebersamaan antar jamaah Suluk Surakartan. Duduk tanpa sekat fisik, ruh serta pemikiran bahkan kepentingan. Kesemuanya itu bisa diejawantahkan ketika bersama-sama melantunkan sholawat nabi dengan iringan musik khas Neltamaanelta. Yang berarti pemersatu jamaah disini adalah kehadiran nabi diantara tengah jamaah. Sementara Neltamaanelta menjadi pembawa pesan kebersamaan, dan maiyah sebagai rumah produksi dari nafas kesatuan tersebut.

Selaksa menyambung dengan Kidung Wahyu Kolosebo dengan nuansa Pop Keroncong. Aransemen Selaksa dan pembacaan puisi ditengah lagu Kidung Wahyu Kolosebo menambah hanyutnya jamaah yang hadir dalam kebersamaan yang terasa sejak acara dimulai. Syair lagu ini berbicara pada wilayah kesadaran diri tentang kepasrahan kepada tuhan, Rabb semesta alam. Syair, penggalan pusi, berikut aransemen itu telah berhasil menyambungkan ikrar jamaah untuk saling mengasihi antar sesama, yang bermuara pada turunnya rohman dan rohim Allah. Jika meminjam istilah Cak Fuad ada Al-ahibba-u-fillah – cinta karena Allah. Dengan gambaran bahwa persaudaraan itulah yang selalu membuat rindu untuk bertemu, rindu untuk berjumpa, dan rindu untuk berkomunikasi yang tiada lain hanya karena Allah SWT.

Sepanjang majelis rutin suluk surakartan, musik yang dibawa oleh Neltamaanelta dan Selaksa berhasil mencairkan suasana diskusi bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh selaku pembicara utama pada kesempatan malam itu. Dengan nuansa keroncong juga, pada sela acara Selaksa berkesempatan mengiringi Sabrang membawakan lagu Sebelum Cahaya yang tergarap dengan rapi.

Menuju penghujung acara, Pakdhe Herman melantunkan Bowo Dandhang Gulo yang syairnya memiliki pesan moral sangat dalam. Terlebih lirik (cakepan) Mocopat warisan Sunan Kalijogo ini digubah sedemikian rupa oleh beliau khusus dipersembahkan untuk memperingati satu tahun Suluk Surakartan. Jika dimaknai lagi, cakepan gubahan Pakdhe Herman berisi doa dan harapan atas keberlangsungan Suluk Surakartan kedepannya.

Oleh: Soleh Febriyanto

Tulisan terkait