Menu Close

Nyinaoni Sejatining Pasa

0Shares

Di tengah lalu lalang arus mudik H-2 lebaran. Suluk Surakartan tetap menyelengarakan majelis rutinan yang diselengarakan setiap sebulan sekali. Sebelum ulang tahun Suluk Surakartan yang ke 1, majelis rutinan diselengarakan pada malam jum’at minggu tiap ke 4. Namun dengan beberapa pertimbangan dari penggiat, akhirnya forum rutinan pasca ulang tahun yang ke 1 dipindah pada malem sabtu tiap minggu ke 4.

Di awal acara jama’ah yang hadir hanya sekitar 20an saja. Namun seiring dengan berjalannya waktu, satu persatu  jama’ah mulai hadir mengisi shaf-shaf yang kosong. Walaupun secara kuantitas jama’ah  yang hadir lebih sedikit dibandingkan majelis pertemuan yang kesebelumnya. Mungkin hal tersebut dikarenakan majelis rutinan berdekatan dengan liburan lebaran. Yang mana sebagian dari jama’ah sudah mudik terlebih dahulu. Namun hal tersebut tak sedikitpun mengurangi antusias dari para jama’ah yang hadir  mengikuti majelis. Bahkan seiring dengan bertambahnya waktu atensi dari mereka semakin bertambah hingga majelis selesai.

Sebelum memasuki sesi sinau bareng. Kang  Aziz “Kenyot” mencoba mengajak kepada para jama’ah untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Diawali dari dia yang mengutarakan sedikit pemaknaannya tentang tema yang akan dibahas pada malam itu. Menurutnya, puasa yang ia lakukan dan mayoritas umat muslim Indonesia lakukan masih berada ditingkatan kesadaran yang rendah. Dan belumlah mencapai pada hakikat dari puasa itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab dimensi puasa yang begitu luas, kita hanya mampu memahami dan melaksanakan beberapa dimensi dari puasa saja. Sehingga ritus puasa yang kita lakukan seolah-olah terasa kering. Dia mencoba memancing kepada para jama’ah dengan pertanyaan dengan kesadaran dasar dari puasa. Ketika kita semua sedang berbuka setelah menjalankan ritual puasa seharian, seberapa banyak dan nominal harga makanan dan minuman yang kita jadikan buka puasa kita?

Dari pertanyaan dasar tersebut, merupakan cerminan awal seberapa tingkatan ibadah puasa yang kita lakukan. Jangan-jangan ibadah puasa yang kita lakukan selama ini hanya menggugurkan kewajiban semata? Ia sedikit  menceritakan cuplikkan diskusi di rapat pegiat, sejak dahulu kala sebelum Islam disebarluaskan di bumi nusantara melalui Wali Sanga. Bahwa simbah-simbah kita dulu sudah menjalankan beragam macam puasa, terutama simbah-simbah kita di bumi nusantara bagian jawa. Seperti halnya puasa weton, ngrowot, pati geni, ngebleg, mutih dll. Dan didalam sejarah agama samawi sebelum Kanjeng Nabi  Muhammad mendapat risalah nubuwwah, sudah ada ritus-ritus puasa yang dijalankan umat terdahulu seperti yang terekam didalam Al-Quran surat Al-Baqarah 183.

Sebelumnya Kang Kenyot mempersilahkan Mas Yus untuk maju kedepan untuk berdialog dengannya, yang beberapa waktu sebelumnya ia dipersilahkan maju untuk sedikit meceritakan tadabur atau pemaknaan puasa yang ia pahami. Ia memeberikan perumpamaan, bahwa puasa ibarat minum obat dikala kita sakit. Sebab hari-hari, bulan-bulan yang kita lakukan diluar hari puasa, entah itu puasa dibulan ramadhan atau puasa sunnah lainnya, kemungkinan besar terisi dengan penyaikt-penyakit lahiriah maupun batiniah. Sedangkan efek puncak dari puasa dibulan ramadhan ialah dengan terlahirnya kembali ke fitrah.

Di dalam tradisi masyarakat Indonesia, puncak kemenangan itu dirayakan dengan dengan tradisi lebaran. Akan tetapi setelah proses yang kita jalani selama bulan ramadhan, apakah kita mendapatkan kemenangan yang sesunguhnya? Ataukah kita hanya menjalankan ritus bulan kemenangan, tapi pada sejatinya kita kalah. Namun kita seolah-olah kita merayakan kemenangan selama proses berpuasa kita?

Sembari menunggu sesepuh maju kedepan, Wasis mempersilahkan Prisa untuk mendemonsitraskan alat musik Sampek yang ia bawa untuk mengiringi Selaksa bermusik. Sampek merupakan alat musik tradisional suku Dayak. Penamaan alat musik ini diambil dari cara pengunaannya yaitu “memetik dengan jari”. Secara bentuk, Sampek ini memiliki kemiripan dengan alat musik petik lainnya seperti halnya gitar, kencrung, kecapi dll. Pada umumnya bahan pembuatan Sampek berasal dari kayu yang memiliki tekstur yang kuat, seperti kayu merantai, kayu pelantan, kayu adau dan sebagainya.

Meraba-raba Hakekat 

Kolaborasi Mas Didik dan Pak As’ad mencoba menyampaikan ulasan hasil tadabburnya dari tema tersebut. Di awali oleh Mas Didik merespon ulasan tadabburnya dari Mas Yus terkait hubungan antara bulan Ramadhan dan Syawal. Secara siklikal memang antara kedua bulan tersebut bisa ada hubunganya jika dihubung dan juga bisa tidak ada hubungnnya. Namun didalam Maiyah sering kali kita diajarkan untuk mencari apa yang benar dan bukan mencari siapa yang benar. Seperti yang Simbah sering utarakan, pada dasarnya semua ilmu didunia ini saling terkait antara satu dengan yang lain. Namun dengan keterbatasan yang kita miliki kita belum mampu menemukan persambungan antara satu cabang ilmu dengan cabang ilmu yang ada saat ini.

Lebih jauh lagi, kontributor Caknun.com ini menyoroti hubungan antara bulan ramadhan dan sayawal dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mencoba menarik garis perhubungan antara kedua bulan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, dua bulan tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar baik secara ekonomi maupun wilayah kehidupan yang lainnya. Misalnya selama bulan-bulan tersebut tingkat konsumtif masyarakat kita mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan diluar bulan tersebut. Sarana dan prasarana telah disiapkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan finansial dari momentum tersebut. Coba cermati seberapa besar arus perputaran uang dan pertarungan diskon harga barang maupun jasa selama momentum tersebut.

Ia menceritakan asal muasal puasa dalam tradisi keagamaan. Secara akar katanya puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Upawasa. Upawasa sendiri dikenal sebagai ritual mengurangi aktivitas keduniaan, bahkan meningalkannya. Dan yang paling ekstrim memutilasi tubuh seperti halnya para yogi (petapa). Namun ia menilai setelah Islam yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad, ritus ibadah tersebut mengalami penyederhanaan. Sehingga puasa dalam ajaran yang disyiarkan beliau hanya menahan. Menahan yang paling dasar ialah menahan kehendak untuk makan dan minum dari subuh hingga maghrib. Spektrum yang lebih luas ialah menahan kehendak diri untuk hidup berlebihan dan cendrung bersikap zuhud. Efek puncak dari ibadah ritual tersebut ialah kembali menuju fitrah layaknya bayi yang baru lahir dan peningkatan kualitas kesalehan kita dihadapan Gusti Pangeran.

Menambahi ulasan dari Mas Didik,  Pak As’ad merasakan perubahan iklim makan selama bulan puasa mengalami peningkatan cukup signifikan yang biasanya makan nasi dan sayur saja sudah cukup. Namun selama bulan puasa kita mengada-adakan menu makan untuk berbuka. Itu merupakan cerminan kualitas ibadah puasa yang kita lakukan. Ibadah puasa memilki nilai edukasi yang begitu luas. Dengan lapar yang dilakukan selama satu bulan, diharapkan kita dapat merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan di sekitar kita. Yang dimana ada yang sehari makan sekali saja sulit. Dari hal tersebut diharapakan sikap toleransi untuk hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari menjadi produk dari pendadaran diri.

Beliau menilai ada kesalahan dalam memahami hakekat keberhasilan atau kemenangan umat Islam dalam menjalankan ritus tersebut. Hal itu dapat dilihat dalam realitas masyarakat kita yang dimana kemewahan fisik diletakkan jadi indikator utama keberhasilan dalam beritual, baik itu secara sadar dan tidak sadar. Sehingga perayaan kemenangan atau idul fitri itu dirayakan dengan busana, sandal, sepatu bahkan hingga kendaraan bermontor yang baru. Tak heran kalau ada yang mengatakan penampilan fisik kita tidak ada yang baru maka kita tak merayakan uforia kemenangan tersebut.

Beliau mengajak jama’ah untuk merefleksikan kembali ajaran Islam yang tidak mengajarkan umatnya untuk bermewah-mewahan atau berlebihan dalam kehdupan sehari-hari. Dan Kanjeng Nabi sendiri sebagai uswatun khasanah kita sering mengajarkan kepada kita hidup sederhana dalam kesehariannya. Bukannya beliau tak mampu hidup mewah, namun beliau lebih memilih hidup sangat sederhana hingga akhir hayatnya.

Dari sikap hidup yang dipilihan  Kanjeng Nabi tersebut diharapakan menjadi tauladan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika puasa ditarik kepemahaman dalam dimensi yang lebih luas dan tak terjebak dalam pemaknaan yang sempit. Puasa tak hanya sekedar menahan lapar dalam ritus puasa saja. Ketika ditarik dalam pola ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, beliau mewanti-wanti untuk mengerem pola konsumtif dalam diri kita. Sebab ada oknum-oknum tertentu yang menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat konsumtif. Sehingga dengan hal tersebut dengan mudahnya mereka dapat mengontrol laju Indonesia

Pengusahan mebel ini menceritakan bagaimana peristiwa krisis moneter yang terjadi pada 1998 dengan tingkat konsumtif masyarakat Indonesia kala itu. Banyak perusahaan besar yang mengalami kelimpungan dan bahkan ada yang tumbang satu persatu. Kolevnya perekonomian nasional pada kala itu merupakan bagian dari seting global untuk menghancurkan Indonesia. Namun dari peristiwa tersebut, sektor ekonomi mikro masih bisa tetap bertahan dan makin berkembang. Belajar dari peristiwa itu, oknum-oknum tadi mencermati dan menyusun strategi kembali untuk menghancurkan Indonesia. Alhasil mereka membuka pintu yang perkreditan seluas-luasnya sebagai cara meningkatkan dan menjadikan masyarakat kita menjadi masyarakat konsumtif. Itu merupakan salah strategi mereka untuk menghancurkan Indonesia dari sisi ekonomi tegasnya.

Oleh: Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait