Menu Close

Harmonisasi Musik Untuk Mendekat Pada-Nya

0Shares

Sebelum Mas Is melantunkan lirik Pantun Ironi gubahan Simbah pada tahun 2004. Beliau terlebih dahulu mencoba menguraikan hasil tadaburnya dari surat Al-Imran 134-134. Dari hasil tadaburannya dari ayat yang ia uraiannya tersebut, beliau menintik tekankan kepada para jamaah Maiyah, bahwa spirit ayat tersebut sama dengan spirit Maiyah yang bertujuan mencetak kita menjadi soleh sosial bukan soleh individu.  Maka daripada itu kita jangan terlalu terjebak memikirkan raga dan menyisihkan isi. Seperti halnya yang Simbah sering utarakan, bahwa kita adalah makhluk surga yang didunia ini hanya “outbound” sementara. Maka daripada itu kita sebagai makhluk surga jangan mudah tergoda dengan fatamorgana dunia.

Vokalis Kiai Kanjeng ini menceritakan filosofis lirik Pantun Ironi yang mengisahkan kepuasaan kita terhadap negara ini yang tak bisa mengayomi rakyatnya. Pantun Ironi ; Orang pandai makin banyak jumlahnya// Tapi kok hidupnya makin susah// majunya zaman sangat menggagumankan// Tetapi derita malang melintang// Toga bukan lambang kedewasaan// Peci tak menandakan kesalehan// terkenal tidak berarti pakar// Pakar tak mesti jiwanya berakal// Gedungnya tinggi klakuannya rendah// hartanya mewah pribadinya bubrah// Bukunya bertumpuk jiwa tak matang// Para pemimpin kerjannya menyusahkan// Memusingkan, merepotkan// Menjengkelkan//.

Bermusik tak hanya sekedar bermain musik, karena musik mempunyai  rumus dalam menghasilkan harmonisasi irama. Sebagai seniman, ia telah banyak mengenyam asam garamnya kehidupan sebagai seniman. Mas Plenthe mencoba menguraikan pengalaman tadaburnya terhadap musik. Seniman menurutnya dekat dengan dunia pamer atau sombong. Padahal hakekat dengan adanya seniman itu untuk mendekatkan diri pada Gusti Pangeran. Beliau sempat mengalami kegalauan dalam melihat realitas seniman musik saat ini. Setelah mengkaji dan terus mengkaji ayat-ayat suci yang berada didalam al-quran, akhirnya beliau menemukan pentunjuk dari surat Asy-Syu’ara 221-227. Dari pentunjuk ayat tersebut hingga sampai saat ini ia masih tetap bertahan menjadi seniman.

Lirik merupakan hal primer dalam bermusik, namun tak sedikit dari seniman musik telah melupakan pentingnya lirik. Misalnya saja ia mencontohkan lirik lagu “nyidam penthol” dan sejenisnya merupakan sarana untuk melalaikan kita pada Gusti Allah. Ia menyitir Mas Is saat menyuruh Mas Marwan membacakan lirik Pantun Ironi terlebih dahulu, sebelum melantunkannya dan itu merupakan hal yang tepat. Karena bagaimanapu juga dalam bermusik, syair harus lebih ditonjolkan daripada alunan instrumen musik. Ia mencoba menjelaskan bagaimana strategi Kanjeng Sunan dahulu dalam mensyiarkan Islam melalui media musik di Sekaten. Dulu ketika Kanjeng Sunan mengadakan Sekaten, salah satu alat yang digunakan untuk mengumpulkan orang-orang ialah dengan tabuhan gamelan. Setelah tabuhan gamelan beliau-beliau mendahwahkan ajaran  Islam dan baru setelah itu Kanjeng-Kanjeng Sunan membacakan syahadat secara bersama-sama dengan disertai sholawatan.

Kemudian beliau menjelaskan korelasi puasa dengan bermusik. Dalam bermusik personel-personel musik harus menghargai waktu (sesuai dengan birama) yang telah ditentukan. Karena tanpa ada waktu atau tempo musik itu nol.  Dimana para personel musik harus tau dan taat kapan ia memainkan dan menghentikan alat musiknya dalam sebuah permainan musik.  Tapi ada yang tak mau berhenti ditempo-tempo yang sesuai dengan keinginan komposer  ataupun catatan yang tertulis. Dan mereka ingin mengisi jeda-jeda tersebut padahal bukan wilayahnya untuk bermain. Ini menunjukan orang-orang yang tak tau tentang hakekat bermusik. Mereka cendrung ingin menunjukan eksistensinya atau mempelihatkan skil permainannya. Menurutnya orang-orang seperti ini ialah orang-orang yang sombong.

Seperti pada pertemuan Maiyah sebelum-belumnya, Pak Dhe Herman selalu membuatkan dan menembangkannya sebuah tembang pada jamaah Maiyah Suluk Surakartan. Pada kesempatan kali ini beliau akan menembangkan tembang Dhandhang Gula gubahannya. Namun sebelum menembangkan tembang tersebut, beliau menanggapi tema pada majelis pertemuan ke 17 ini. Menyitir pesan Simbah dikala bertemu diperesmian masjidnya Mbah Pur Wisangeni (Wasiun Ghoiyun), bahwa antara orang kenyang dan lapar itu lebih baik lapar. Karena disaat lapar sel-sel yang ada didalam tubuh kita terasang lebih aktif, sehingga efek dari itu akan meningkatkan kecerdasan otak dan spiritual. Pesan Simbah tersebut beliau selaraskan dengan tembang Kinanthi pupuh pertama yasanipun Kanjeng Prabu Pakubuwana kaping 4. Padha gulangen ing kalbu// Ing sasmita amrih lantip// Aja pijer mangan nen dra// Ing kaprawiran den kaesthi// Pesunen sariranira// cegahen nadah lan guling//.  Ketika dihubungkan dengan ilmu Jawa, kenapa Simbah-Simbah kita dahulu sakti-sakti? Karena dulu leluhur kita minimal menjalankan dua tirakat (mengurangi makan dan minum) seperti halnya pesan yang tersirat dalam tembang Kinanthi tersebut.

Beliau mengajak generasi-generasi muda saat ini untuk menguri-uri kembali ajaran Simbah-Simbah dahulu terutama tembang. Sebab ketika salah satu ajaran Syekh Malik Ibrahim generasi Wali Sanga pertama mengajarkan tembang kepada Sunan Bonang dan Sunan Ampel generasi ke dua Wali Sanga. Begitu pula Sunan Bonang  mengajarkan kepada Sunan Kali Jaga dan Sunan Kalijaga kepada murid-muridnya di Demak yang juga mengajarkan tentang tembang. Jika diruntut titik pertemuan antara Jawa dan Islam pasti akan ada titik pertemuannya.  Sebab dulu para Kanjeng Sunan dalam mensyiarkan Islam tidak meniadakan kebudayaan Jawa. Akan tetapi beliau-beliau dulu menjadikan kebudayaan Jawa sebagai strategi dalam mensyiarkan Islam di tanah Jawa. Maka dari itu sebagai masyarakat Jawa yang beragama Islam jangan malu atau merasa inferior dan menjadi orang Jawa yang kearab-araban. Menurutnya Arab dan Jawa ibarat “Sedulur Sinara Wedi” (saudara kandungnya).

Pak Dhe membandingkan puasanya orang sekarang dengan puasanya orang-orag dulu. Puasanya orang-orang sekarang tidak ada artinya dengan puasanya orang dulu. Sebab puasa pada saat ini, waktu saur dan bukanya kebanyakan sudah dapat diketahui. Hal tersebut berbanding balik dengan puasanya orang dulu yang waktu saur dan bukanya tidak menentu. Karena pada zaman dulu masih mengalami krisis pangan sehari bisa makan gaplek saja sudah syukur. Bahkan kadang-kadang kala dalam kesehariannya bisa dua-tiga hari baru bisa makan, entah itu apa yang dimakan. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara Simbah-Simbah kita sudah biasa menjalankan puasa. Namun hal tersebut tidak dinamakan puasa akan tetapi dinamakan tirakat, mertapa, kalau serendah-rendahnya dinamakan prihatin. Semua itu dilakukan dengan niatan menirakatkan atau memprihatinkan anak cucu-cucunya.

Menyitir ungkapan Mas Sabrang yang dinyatakan dalam sebuah video, bangsa yang mau bangkit itu, bangsa yang mengenali identitasnya. Maksudnya jika bangsa Indonesia atau Nusantara ingin merebut kejayaannya kembali. Jangan mengunakan ilmunya orang-orang yang mengakali atau membodohi kita. Kemungkinan besar kita tidak akan mampu menghadapi mereka. Karena mereka jauh lebih unggul, pintar dari kita. Maka dari itu lawanlah mereka dengan ilmu yang mereka tidak miliki. Artinya kembalilah jadi orang Jawa atau mempelajari kebudayaan Jawa. Seperti pesan Raden Ranggawarsita dalam salah satu lirik tembangnya Kinanthi “ Sura Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” (Semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia akan dapat dihilangkan dengan sifat lemah lembut, kasih sayang dan kebaikan). Dan wedaran Pak Dhe Herman diakhiri dengan tembang Dhandang Gula gubahannya. // Pancen elok ing nagri puniki//Nuswantara kang kondhang kaloka//Pancasila landhasane//Bumi jembar lan subur//Gemah ripah loh jinawi//Akeh kang pada ninga//Njembleng sarta ngungun//Rakyat uripe sengsara//Polahiro pinda gabah den interi//Korupsi hangrembaka//.

Oleh: Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait