Menu Close

Sinau Lakuning Urip Satriya

0Shares

“… Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api

Semua ujung senjakala pembangkangan ini bermuara

Pasca sebuah akhir jaman yang mengawali pancaroba tanah dan angkasa

Sabda batu kepada api

Api kepada kaki-kaki langit …” 

Diantara suara musik pengiring yang temponya naik, vokal Sholeh Febriyato menggelegar  dan menggetar-getar sukma jamaah yang hadir di ruangan Rumah Maiyah Surakarta ketika membaca penggalan puisi Sabda Batu Kepada Api bersama kelompok musikalisasi puisi dari Gulung Koming.

Sejak saya aktif di Suluk Surakartan yang baru berumur satu tahun lebih, baru kali ini ada perform kelompok musikalisasi puisi, keren pula. Tentu akan sangat menggembirakan, kalau maiyahan kedepan ada perform-perform yang lain dari jamaah sendiri, atau bisa siapapun saja yang bersedia tampil. Karena dengan begitu jamaah yang hadir di Suluk Surakartan akan disuguhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan.

Musikalisasi puisi tadi seperti menjadi jeda yang sanggup merefresh hati dan pikiran, pengantar transformasi  yang manis dari sesi pertama yang dipandu oleh Gus Aziz Nasihin ke sesi kedua bersama bung Wasis.

Pada sesi pertama tadi Gus Aziz Nasihin menyenggol tema Satriya Nagara Liya, dengan kisah perjuangan Nabi Muhammad waktu  hijrah ke Madinah. Ketika di Mekkah sudah tidak kondusif lagi untuk perjuangan, maka hijrahlah beliau ke Madinah yang ternyata kedatangan beliau disana sudah ditunggu-tunggu oleh warga Madinah yang karakternya berbeda dengan Mekkah. Dalam waktu 8 tahun, beliau menjadi Pemimpin yang sangat dicintai dan dihormati warga Madinah, padahal negri yang bukan tanah kelahirannya.

Pak Silok, yang menjadi narasumber sesi kedua malam ini, bercerita banyak hal tentang pengalaman hidupnya selama 15 tahun di Busan, Korea Selatan. Yang mengejutkan adalah beliau selama 15 tahun tinggal disana tanpa paspor, atau ID Card.

Kok bisa seperti itu? Karena prinsip beliau adalah Berani dan Percaya Keadilan Gusti Allah. Mau hidup atau mati disana, atau ketangkap petugas Imigrasi sekalipun, tidak perlu takut, takutnya hanya sama Gusti Allah. Saking menancap kuatnya prinsip beliau tersebut, maka sering loloslah beliau. Cara berpikir dan prinsip seperti itu juga ditularkan kepada teman-teman TKI lain di Korea Selatan.

“Kalau kamu melihat petugas Imigrasi lewat saja sudah ketakutan, sudah pasti kamu akan tertangkap. Yang kamu takutkan itu harusnya Gusti Allah, bukan petugas Imigrasi.”

Perjalanan hidup di Korea Selatan selama 15 tahun tentu sangat mengenal  watak dasar orang Korea. Kata beliau sifat mereka yang pertama mereka tidak mau berbohong, yang kedua kalau janji selalu menepati, tepat waktu, dan yang terakhir kalau makan selalu habis (tidak menyisakan makanan). Bukankah itu karakter yang sangat Islami, islam secara substantif. Walaupun orang Korea sendiri tidak Islam secara administratif.

“Jadi kalau kita kelamaan tinggal di luar negri, tinggal di Negara yang tertib, kembali kesini (Indonesia) itu dadi rodok mumet, disini banyak yang tidak tertib, semua aturan dilanggar.” Kata Pak Silok sambil tertawa.

Selama hampir 3,5 jam saya antusias mendengarkan pengalaman-pengalaman beliau, lakuning urip beliau, yang kemudian direspon bergantian oleh Pak Munir dan Pakdhe Herman. Pak SIlok seperti menjadi sosok dalam istilah: berguru bisa kepada siapa saja dan bisa ditemukan dimana saja.

Saya kemudian teringat perkataan Cak Nun di acara maiyahan Karanganyar beberapa waktu lalu, bahwa Pak Silok adalah salah satu anak kebanggaannya. Dan saya jadi tau malam ini kenapa Simbah (Cak Nun) bangga kepadanya. Kurang lebih, karena watak-watak Ksatria itu telah menancap kedalam jiwa Pak Silok.

Memiliki rasa empati tinggi kepada yang lemah. Tekun dalam bekerja dan mau belajar, beliau juga bisa berbahasa Korea Klasik, yang anak muda Korea saat ini pun tidak semuanya bisa. Berjiwa nasionalis dan rasa solidaritas yang kuat, sehingga apapun yang berhubungan dengan keamanan dan nasib warga Indonesia di Korea akan dibela mati-matian oleh beliau, nothing to lose, meski taruhannya nanti beliau sendiri yang akan dideportasi. Kesuksesan bagi beliau adalah ketika berbicara dengan orang lain, tidak menyakiti perasaan orang lain tersebut.

Pukul setengah dua dini hari acara diakhiri, putaran waktu memang berjalan terasa cepat ketika dijalani dengan antusias dan kegembiraan, dan seperti inilah maiyahan, yang hadirnya  ilmu melalui kegembiraan-kegembiraan dan kebersamaan paseduluran. Beruntunglah malam tadi yang hadir di maiyahan Suluk Surakartan Edisi ke -19, bisa bertatap wajah dan mendengarkan langsung pengalaman-pengalaman hidup, lakuning urip, bagai Ksatria di Negara lain. Tinggal anda mau menciduk air dari sumur ilmu tersebut atau tidak. (Agung Pranawa)

Tulisan terkait