Menu Close

Rasionalisasi Menuju Keharmonisan Islam-Jawa

0Shares

Mendalami dengan Banyolan

Setelah sesi penyambungan hati dan pikiran kepada Gusti Pangeran dan Kanjeng Nabi Muhammad. Duet Mas Toni dan Mas Umar menghandel acara disesi pertama. Seperti halnya sesi pertama pada pertemuan sebelum-sebelumnya. Sesi pertama di pertemuan itu, mengajak kembali kepada para jama’ah yang baru pertama kali hadir untuk maju kedepan. Hal tersebut merupakan formula yang telah dirumuskan dulur-dulur pegiat untuk mengenalkan lebih dekat antara satu jama’ah dengan jama’ah yang lainnya. Selain itu juga untuk mengetahui pekerjaan, usaha dan skil ataupun potensi yang dimiliki jama’ah. Dari informasi-informasi yang didapatkan akan dijadikan data base oleh tim Kartel Nusantara.

Kartel Nusantara merupakan tim ekonomi yang bergerak dalam pengembangkan perekonomian jama’ah maiyah. Pengembangan ekonomi ini  merupakan amanah dari Mbah Nun kepada dulur-dulur Suluk Surakartan melalui Pak As’ad, yang merupakan sesepuh Maiyah Suluk Surakartan. Diharapkan dengan adanya tim ekonomi ini dapat membantu memperbaiki perekonomian jama’ah.

Di awal-awal sesi duet Mas Toni dan Mas Umar terlihat garing dan kaku. Mungkin baru pertama kali mereka diduetkan, lantaran empunya (Kang Aziz Kenyot alias Nasihin) yang biasanya menghandel sesi satu berhalangan datang tepat waktu, karena masih dalam perjalan dari Jogja – Solo dan jalannya ternyata macet. Duet ini ibarat mesin diesel, yang harus nunggu beberapa saat dahulu baru kemudian mesinnya panas. Akhirnya di saat eksplorasi Pak Kurniawan Ismail dan teman-temannya, duet mereka baru hidup suasanannya. Banyolan dan kecrohan yang sering terjadi di pegiat pun mulai keluar dari mereka berdua. Sehingga, eksplorasi terhadap Pak Kurniawan Ismail beserta ketiga tetanggannya dari Bekonang bisa mendalam.

Kehadiran Pak Kurniawan Ismail, yang baru pertama kali hadir di majelis Suluk Surakartan lantaran sering didesak putranya yang kuliah di Jogja, yang ternyata juga sering hadir di Majelis Mocopat Syafaat. Beliau sedang merintis usaha perternakan bebek dengan kreasi pakan buatan sendiri. Ternyata ketiga tetangannya juga mempunyai usaha dan memiliki keterampilan. Dari pembuat arang, instalasi listrik dan ternak ayam kampung. Ini merupakan potensi yang harus dikelola dalam sebuah komunitas, tutur Mas Toni. Nasionalisme itu tak harus muluk-muluk, mulailah hal yang terkecil di sekitar kita. Misalnya membeli barang dan produk dari orang-orang terdekat dari kita. Entah itu beli sabun, kopi, baju beras atau apapun itu, pungkas arek Blitar ini.

Benarkah Jawa Mistik, Klenik?

Banyak orang menganggap Jawa itu klenik, mistik, kuno, ribet dan lain sebaginya. Mungkin itu anggapan banyak orang termasuk generasi milenial saat ini. Entah apa latar belakang mereka mengatakan seperti itu, apa tak suka, tak tau, gak mau ribet, terprovokasi, syirik, bid’ah atau apa? Telah banyak stigma-stigma negatif bersliweran di masyarakat, dari yang klenik, tahayul, bid’ah hingga ribet. Sehingga dengan itu, sedikit bayak jadi faktor yang mempengaruhi orang-orang tak mau dan malu dalam mempelajari maupun menguri-uri kebudayaan Jawa. Lantas kalau tak ada yang mau menguri-uri kebudayaan Jawa, siapa lagi kalau bukan kita yang konon lahir menjadi suku Jawa?

Pertemuan majelis ke-20 ini, penggiat mengangkat Suro-Muharam. Karena dulur-dulur pegiat merasa resah dengan kondisi umat Islam – Jawa yang seolah-olah saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, kita merasa perlu mempelajari kembali sejarah hubungan Islam – Jawa. Berhubung bulan ini juga bertepatan dengan momentum Muharam (islam) – Suro (jawa). Suro dan Muharam merupakan penamaan kalender dalam jawa dan islam. Sistem penanggalan  jawa dan islam sama-sama berpacu pada peredaran bulan (revolusi bulan), hal tersebut berbeda dengan sistem penanggalan masehi yang mengacu pada matahari (revolusi bumi). Penanggalan jawa didekritkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma penguasa Mataram kala itu, untuk merespon hubungan Islam – Jawa yang terancam mengalami perceraian. Selain itu, beliau juga merasa bertanggung jawab atas segala kondisi yang terjadi pada saat itu. Apalagi posisi beliau sebagai pemangku kekuasaan mataram, harus tetap menjaga dan melanjutkan perjuangan para wali dalam membina keharmonisan islam-jawa.

Wasis dan Pak As’ad memberikan gambaran pada Mas Agus Wibowo (Penggiat Maiyah Gugur Gunung, Unggaran) dan Pak Budi (Gambang Syafaat, Semarang) sebelum menyampaikan materi sinau bareng. Materi terlebih dahulu diawali Mas Agus, ia mengawali pembicaraan dengan mewedar suro secara pengertian maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi dibulan suro. Menurutnya, ditengah masyarakat kita, suro memiliki banyak pengertian. Suro bisa diartikan sebagai hiu, sura bisa berarti keilahian, dewa atau bernuansa surgawi ataupun suro bisa diartikan kuat dan lain sebagainnya.

Latar belakang kenapa bulan muharam disebut bulan sura dalam kalender jawa? karena dalam setiap 1 Muharam terdapat 10 Muharam yang dikenal sebagai Asyuro. Akan tetapi penamaan bulan suro tak langsung dimodifikasi begitu saja, namun juga dipengaharui dengan peristiwa penting tadi. Diantara lain  pengampunan dosa dari Gusti Allah kepada Nabi Adam, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, terbunuh dengan mengenaskannya Sayidina Husein dan sebagian keturunan kanjeng Nabi Muhammad.

Dari hal tersebutlah pemangku kebijakan jawa tak tega dan guna menghormati peristiwa-peristiwa tersebut, mengeluarkan sebuah keputusan melarang bersenang-senang kepada seluruh rakyatnya. Itulah yang melatar belakangi pelarangan di bulan Suro untuk mengadakan pesta pernikahan maupun pesta lainnya yang bernuansa senang-senang. Karena hal yang bersifat senang-senang di peristiwa Karbala ialah pihak yang senang Sayiidina Husein terbunuh.

Kemudian di kehidupan sehari-hari masyarakat jawa dikenal mitologi Ratu Kidul Mantu. Namun, mitologi tersebut dianggap tahayul dan syirik. Entah mengapa mereka menilai seperti itu. Mungkin kurangnya pengetahuan tentang sejarah penanggalan jawa yang melatarbelakangi penilaian tersebut. Padahal jika diperdalami dari filosofi mitologi Ratu Kidul Mantu, Ratu itu bermakna perasaan memiliki perasaan, ilusi memiliki abdi  dan segala halnya harus dipenuhi. Atau dapat diartikan ratu dalam diri kita itu adalah nafsu. Laut atau samudra merupakan simbolisasi dari keluasan atau kedalaman dari hati, kita harus mencontoh karakter dari samudra itu sendiri. Kidul kertoajinya sembilan, merupakan simbolisasi dari penjagaan lubang sembilan. Sedangkan mantu dapat diartikan berhajatan, yang bermakna tersinergiya satu orang dengan orang yang lain. Secara utuh makna ratu kidul mantu merupakan perkawinan segala unsur yang ada dalam diri kita, baik hati nafsu maupun perilaku untuk megabdikan dirinya kepada sang Khalik.

Makna dari mitologi tersebut bisa di linearkan dengan pengertian dari haram yang berasal dari haroma, terdiri dari kata ha, ra, mim yang berarti mencegah. Maka dari itu setiap bulan suro dalam tradisi kabudayaan jawa identik dengan tirakat atau ritual-ritual. Salah satunya jamasan pusaka yang dianggap keramat atau mempunyai kekuatan, karomah, kemulian. Bagi  orang jawa, keris, jemparingan, wedung dan yang lainnya, menyebutnya ageman, karena merupakan simbolisasi atau representasi dari diri kita sendiri. Maka jamasan pusaka merupakan simbolisasi dari pembersihan diri kita agar memahami kegelapan dan pandai-pandai menyambut datangnya cahaya.

Menambahi uraiaan dari Mas Agus, Pak Budi mencoba menjelaskan mitologi-mitologi yang berkembang dimasyarakat dengan pengalaman sehari-harinya. Salah satunya diperistiwa sunatan putra keduanya, putranya meminta agar tak seorangpun tau ia sunatan. Kemudian Pak Budi memilih bulan sura untuk menyunatkan anaknya. Latar belakang beliau memilih bulan suro karena bulan tersebut sepi. Betul prediksinya, di tempat sunat didaerah Demak tersebut yang sunat cuma anaknya, padahal diluar bulan suro tempat khitanan selalu ramai. Setelah selesai sunat putranya diungsikan ke Gresik selama seminggu. Hingga sampai saat ini putranya alhamdulilah sehat wal afiat. Menurut pemaknaanya, semua hari, bulan itu baik. Namun, pelarangan-pelarangan di bulan suro mengadakan sesuatu hal yang berbau senang-senang bermakna prihatin, tirkat guna mendekatkan diri dalam manembah marang Gusti Pangeran.

Penjamasan untuk Menjaga

Melengkapi narasumber yang terlebih dahulu mewedar hubungan Islam – Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Kini bagian Habib Asyhari melengkapi penjelasan dari narasumber sebelumnya. Beliau menyoroti kenapa keris maupun pusaka yang lainnya perlu dijamasi. Habib mencoba menerangkan pengertian jamasan terlebih dahulu sebelum beranjak ke yang lain. Menurutnya, jamasan dalam istilah Indonesia ialah mencuci atau membersihkan. Jamasan merupakan cara untuk merawat pusaka agar tidak mengalami kerusakan. Sepertihalnya tubuh kita, jika jarang olahraga maupun melakukan kegiatan spiritual (ibadah) tentunya jiwa dan raga kita akan mudah mengalami sakit, begitupula dengan keris. Karena dalam  pusaka (keris) terdiri banyak bahan materialnya, misal tembaga, besi, emas, batu meteor dll.

Kalau dalam jenis kain batik terdapat motif dari batik, sedangkan di keris terdapat pamor yang berfungsi memperindah sebuah keris. Jika pamor di keris itu rusak akan menurunkan unsur keberhargaan dan keindahan keris tersebut. Maka guna menjaga kepadatan dan ketetalannya unsur-unsur logam yang ada dikeris perlu dibasuh dengan air. Karena unsur logam yang ada didalam keris setiap sembilan bulan sekali akan mengalami ketaksenyawaan antara satu unsur ogam yang satu dengan yang lainnya. Sehingga ketika tidak dirawat keris tersebut akan mengalami kerusakan (gripis, tayengen). Siklus ketaksenyawaan didalam keris bisa diperpanjang selama dua belas bulan jika diberikan minyak.

Banyak orang awam menganggap dalam sebilah keris memiliki kekuatan yang bersumber pada penungu atau yang bersemayan didalam keris. Semakin ampuh sebuah keris berarti semakin ampuh pula khodam yang bersemayam dalam keris tersebut. Namun, ketika diulas diruang lingkup ilmiah atau akademis, kenapa keris memiliki kekuatan, karena unsur-unsur logam dan proses pembuatan kerislah yang mempengaharui kekuatan yang tersimpan didalam keris.

Merespon kondisi Islam – Jawa, Dhe Herman mencoba mengajak jama’ah untuk mengidentifikasi penyebab ketidak harmonisan yang sering muncul di tengah masyarakat. Apakah Jawa bagi orang Islam ngribet-ngribeti, yang setiap peristiwa selalu diperingati. Misalnya saja orang lahir diperingati wiyosan, orang mati diperingati geblakane, bulan muharam diganti suro dan diperingati dengan lek-lekan, mengandung tujuh bulan diperingati dengan mitoni dsb. Orang jawa itu sangat pandai menghargai peristiwa. Karena semua peristiwa itu merupakan kehendak gusti Allah. Maka penghormatan masyarakat jawa dulu kepada Allah diwujudkan dengan memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak kemungkinan bagi mereka yang mempertentangkan Islam – Jawa. Bisa saja tak paham atau tak tau sejarah, malas dalam menjalankan tradisi jawa atau mereka tak suka dengan eksistensi, sehingga mencari titik lemahnya dan kemudian dihancurkan. Pola gejala yang terakhir ini, sudah pernah mereka lakukan terhadap pecahnya Uni Sovyet, Arab Spring, konflik semenanjung Korea . Sehingga mereka target selanjutnya ialah islam dan jawa. Maka dari itu kita sebagai masyarakat jawa yang beragama islam harus tetap mempertahankan dan menjaga segala warisan para leluhur kita. Sebelum acara diakhiri dengan Shohibu Baiti dan doa bersama, Pak Budi membacakan puisinya yang berjudul “Kitab Puisi Dzikir Kita”, yang sebelumnya direncanakan akan membacakan cerpennya namun ketinggalan.

Tulisan terkait