Menu Close

Mozaik Dua Puluh Satu

0Shares

Reportase Maiyahan Suluk Surakartan Edisi 21

“Dirimu bisa ngapusi ora?” pertanyaan balik Didik Kurniawan kepada moderator sesi pertama, Dika, ketika moderator bertanya tips cara menulis supaya bisa dimuat di koran atau media-media mainstream saat ini.

“Kita lihat dunia koran atau media mainstream saat ini yang disampaikan itu lebih banyak bohongnya atau jujurnya?”  Pertanyaan kedua Didik Kurniawan ini meluncur deras, memotong kalimat-kalimat moderator yang baru menyusun jawaban untuk pertanyaan.

Ternyata dua pertanyaan tadi adalah metode berpikir yang dipakai Didik Kurniawan untuk membuka tricknya ketika menulis artikel untuk koran lokal disini, katanya bahwa menulis di koran itu mudah, selama kita bisa membranding kalimat-kalimat kita dengan bahasa yang intelek dan dicampur dengan bahasa-bahasa yang sekiranya orang-orang umum tidak mudeng.

Spontan saya langsung cekikikan mendengar tricknya, ini trick biasa tapi sepertinya manjur juga. Karena kalau ditelaah secara mendalam, koran atau media mainstream itu tidak pernah meriset atau melakukan cek dan ricek artikel (digaris bawahi untuk artikel ya, bukan berita, karena artikel itu yang bertanggung jawab adalah penulisnya), selama tulisan artikelnya kelihatan intelek pasti ini bagus.

Padahal artikel Didik Kurniawan yang dimuat di koran-koran itu mung hasil keisengan dalam rangka untuk ngerjani redaktur Koran, semacam trial and errordimuat karepmu ora dimuat ya ora papa, besok coba lagi. Dari situ saya baru tahu, kalau ternyata dia bisa jahatsss.. (huruf S-nya sampai ada 3 berarti jahat bangetsss).

Di sisi lain dia yang jahat itu, dia tetap mengakui kalau untuk menulis di Maiyah, terutama artikel-artikel di CakNun.com dan Banyu Mili suluksurakartan.com dia tidak berani berbohong. Apa yang ditulis di caknun.com adalah jujur. Dia mendapat info dari Jogja, bahwa semua tulisan yang masuk ke redaksi caknun.com (Tadabbur Daur dan Menek Belimbing) dibaca langsung oleh Cak Nun.

“Mau ngapusi gimana, lha wong beliau (Cak Nun) itu wartawan senior yang pengalamannya puluhan tahun dan sangat membumi, sangat teliti,  termasuk kalimat-kalimat redaksionalnya juga diteliti.” pungkas Didik Kurniawan.

“Kalau saya sendiri untuk menulis apapun, selalu jujur. Tidak tega kalau mau berbohong” kata Muhammadona melambari pengalamannya dalam dunia tulis menulis. Dan apabila anda biasa membaca tulisannya di Banyu Mili akan menemukan pantulan-pantulan dari kedalaman Muhammadona.

Malam ini majelis Suluk Surakartan Edisi ke-21 pada sesi pertama menghadirkan para penulis produktif di wilayah Solo Raya yang artikelnya sering dimuat di caknun.com dan kolom Banyu Mili-nya suluksurakartan.com . Mereka adalah Didik Kurniawan dan Muhammadona Setiawan. Harusnya ada 3, namun berhubung satunya yaitu Indra Agusta sedang ada acara juga malam ini, maka tidak bisa hadir.

Menghadirkan para penulis di sesi pertama ini idenya berawal dari salah satu awak dari Tim Media,  ketika pada pertemuan internal Media Suluk Surakartan, sebut saja dia yang bernama Soleh. Menurut saya ide ini menarik, karena sesi pertama pada edisi yang sudah-sudah, biasanya diisi dengan perkenalan jamaah baru, lalu ngobrol-ngobrol. Sedangkan untuk yang edisi kali ini, dari Tim Media menawarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa diserap ilmunya, yang langsung bisa dipraktikkan, juga sebagai bentuk apresiasi  kita kepada para kontributor tulisan di Banyu Mili. Harapannya dari sharing  para penulis ini bisa menyetrum semangat jamaah yang hadir, muncul penulis baru yang berani mengirimkan tulisannya.

Usai sesi pertama menuju sesi kedua, jeda acara diisi oleh Sayur Band, dan saya keluar ruangan untuk merefresh pikiran sebentar. Menghirup udara luar di ruangan sebelah Rumah Maiyah Surakarta, di ruangan sebelah udaranya terasa begitu gerah malam itu, mungkin karena diluar sana awan yang lagi  mendung.

Oh iya..  Saya gak tau juga nama aslinya tadi band apa, kata teman-teman yang saya tanyai namanya memang seperti itu, Sayur Band. Nama yang kedengaran aneh dan lucu. Seandainya besok yang baca ini complain tentang nama asli bandnya bukan itu, mohon dimaafkan berarti saya yang salah bertanya kepada orang yang salah, dan teman yang saya tanyai tadi bertanya kepada orang lain yang salah juga, dan semoga saya tidak ikut dalam pergaulan yang salah. Halah.

Dari ruangan luar lumayan juga mendengar suara vokalisnya Sayur band yang serak-serak basah, mengingatkan pada suara Cakra Khan. Tau Cakra Khan to? Itu lho penyanyi yang kondang dengan hitsnya Harus Terpisah.  Coba tanya mbah Google lagunya itu yang mana.

Memasuki sesi kedua Edisi ke-21 dengan tema Ndhedher Kautaman, hmmm… Terlalu banyak yang akan ditulis, tapi saya coba singkat-singkat saja secara kronologis supaya tidak terlalu panjang dan tidak membosankan.

Dimulai dengan Pak Munir memancing komunikasi dua arah dengan melempar pertanyaan ke jamaah tentang  definisi Kautaman. Saya melihat tidak terjadinya feedback komunikasi yang diharapkan, banyak jamaah yang pasif sehingga suasana menjadi hening sekitar satu-dua menit. Mungkin ini nanti menjadi PR tersendiri bagi para Penggiat dan mungkin juga para Komunikator yang ada di depan. Beruntunglah suasana duka tersebut  segera berlalu diselamatkan oleh respon dari jamaah kecil yang berani menjawab sebisanya sehingga suasana menjadi sedikit cair, lalu muncul respon-respon lain dari beberapa jamaah.

“Apapun yang kamu lakukan bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain itu sebagai pijakan dasar Kautaman” disini Pak Munir menggaris bawahi beberapa feedback dari jamaah.

Ndhedher Kautaman itu ketika menjadi judul tema untuk malam ini, pertama kali yang tergambar di otak saya sebenarnya adalah melihat keadaan-keadaan sekarang ini. Jujur saja, menurut saya melihat keadaan seperti ini wis ora isoh didandani “ begitu ulasan Pakdhe Herman tentang judul acara tadi malam.

“Lha terus apa yang bisa kita perbuat untuk kahanan seperti ini? isoh ora isoh berarti kitakudu menyiapkan, ditarik garis lurus kata menyiapkan itu bisa juga kata menanam, dan sebelum menanam itu diistilahkan melakukan ndhedher (menyemai bibit), yang didhedher adalah bibit-bibit kautaman (hal-hal yang utama), kalau kita terus menerus ndhedher kautaman, mudah-mudahan nanti thukulnya juga kautaman.”

Menurut Pakdhe Herman, ada 3 laku manusia berdasarkan parameter yang dibangun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, pertama laku utama, kedua laku madya, yang ketiga adalah laku nista. Laku utama itu adalah lelakunya para ksatria, setiap hari berjalan di Margo Utama dan pantang melakukan sesuatu yang tidak utama. Subyek atau pelaku yang ndhedher kautaman itu otomatis juga harus manusia yang utama, sebab akan menjadi kontradiksi ketika kita ndhedher kautaman tetapi dengan memberi teladan dengan perilaku yang nista.

Sebelum Pakdhe Herman tadi ada Pak Silok yang juga bercerita tentang kahanansekarang yang semakin hari semakin kehilangan kautaman. Ada prinsip yang sangat dipegang Pak Silok yang bisa kita contoh, yaitu dalam kahanan apapun beliau percaya dan berpegang teguh sama Gusti Allah. Salah satu contohnya adalah beliau itu buta warna, tapi buktinya bisa menjadi TKI di Korea, dengan tehnik khusus  berkali-kali beliau lolos tes dari buta warna.

Lalu dua tamu dari luar yang dihadirkan, yaitu Agung Budiarto dan Dora. Agung Budiarto bercerita tentang perjalanan hidupnya berliku-liku, berawal dari masa remaja yang mengetahui permasalahan keluarga, permasalahan ekonomi keluarga, akhirnya sejak remaja bertekad untuk membantu mencari uang dalam rangka meringankan ekonomi keluarga dan membahagiakan ibunya.

Dari menjadi anak band di klub-klub malam dengan bayaran lumayan besar tapi anehnya selalu habis, yang dia sendiri juga merasa ini sesuatu yang tidak logis.

“Untuk mengatakan bahwa uang dari klub-klub malam tersebut berkah atau tidak berkah, saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan itu, tapi nalarnya uang yang besar tersebut dalam hitungan beberapa bulan tidak habis, ternyata selalu habis, itupun juga dialami teman-teman band saya” kata Agung Budiarto.

Setelah koreksi diri melalui peristiwa-peristiwa, akhirnya dia berani membuang gengsi dalam hidupnya dan mejalani laku sebagai wirausaha, walaupun awal-awalnya masih tidak fokus dan tidak lancar, tapi dari situ akhirnya mendapat pelajaran tentang ketekunan, yaitu setia terhadap apa yang dilakukannya.

Tamu satu lagi, Dora, bercerita tentang menemukan kemantaban dalam keyakinan  setelah melalui benturan peristiwa-peristiwa dalam proses-proses pencariannya. Yang  perlu saya garis bawahi dalam hal ini adalah proses terus mencarinya. Dan mbaknya ini suaranya asli keren banget lho, setelah selesai berbicara tadi dia diminta Pak Munir untuk menyanyi, dan dari dua lagu yang dibawakannya tersebut suaranya memang joss gandhos. Mungkin para Penggiat divisi Acara bisa mempertimbangkan mengundangnya lagi di edisi berikutnya, tapi untuk menyanyi saja.

Dari sesi pertama tentang para penulis, berbagi cerita tentang dunia tulis menulis yang juga dalam rangka ndhedher kautaman dalam bidang jurnalistik. Lalu kehadiran dua tamu yang ikut berbagi cerita, yang oleh Pak Munir ditadabburkan  dengan ketekunan dalam proses, bahasa kerennya itu istiqomah, yang mana itu juga bagian dari peristiwa Ndhedher Kautaman. Saya sendiri melihat malam tadi sebagai lukisan Mozaik, lukisan yang disusun dari berbagai material dan warna yang berbeda-beda dan bila digabungkan membentuk sebuah keindahan. Lukisan Mozaik yang apabila kita memandangnya secara parsial dari masing-masing yang berbicara tadi sepertinya tidak nyambung kalau kita melihatnya dari satu sudut pandang materialnya, atau warnanya, atau latar belakangnya, tapi akan bisa menemukan ketersambungan-ketersambungan yang melengkapi  dan utuh menjadi sebuah keindahan ketika ditata dan dilihat secara menyeluruh.

Dan ada kalimat dari Pakdhe Herman  tadi malam yang terngiang-ngiang ketika bangun siang tadi, tekun kang landesan teken bakale tekan, landesane teken iku agama. Naaahhh… itu sepertiya tamparan buat saya. (Agung Pranawa)

Tulisan terkait