Menu Close

Dari Suluk Surakartan Untuk Maiyah

0Shares

Reportase Suluk Surakartan, 26 Januari 2018

Pada zaman dahulu, masyarakat Nusantara memiliki kearifan dalam menyikapi atau menghadapi alam. Para leluhur kita dahulu paham betul hidup secara harmonis dengan alam. Pola kehidupan yang bersimbiosis muatualisme antara manusia dengan alam merupakan sebuah keselarasan hidup. Nampaknya para leluhur kita dulu paham betul tugasnya sebagai Khalifah fil ardl. Dengan kesadaran tersebut, mereka tau bagaimana cara memperlakukan alam yang menjadi salah satu sumber penopang keberlangsungan hidupnya. Para leluhur sadar kalau terlalu serakah mengeksploitasi alam, mereka akan ditegur oleh alam melalui bencana alam yang menimpanya.

Dari kesadaran persahabatan manusia dengan alam tersebut, telah banyak memberikan manfaat bagi manusia. Selain alam sebagai sumber penghidupannya, alam juga dijadikan tempat belajar oleh leluhur kita dulu. Misalnya didesa saya dulu, kalau tak salah dengar, ketika ada burung prenjak jantan atau betina yang berkicau di sekitar rumah kita katanya akan datang tamu. Atau misalnya saja ketika gareng pong atau cenggerek nong atau sejenisnya ketika bunyi di sore hari, itu merupakan pertanda akan terjadinya perubahan musim, dsb.

Sebagaimana dengan Maiyah, ibarat sebuah alam yang kita jadikan sebagai salah satu jalan atau pijakan untuk menuju Sang Cahaya Gusti Pangeran. Maka dari itu jamaah Maiyah dari setiap penjuru Nusantara atau bahkan yang berada di luar negeri harus menjagannya agar tetap lestari. Entah tak terhitung berapa banyak jamaah maupun bangsa ini menuai keberkahan demi keberkahan dari Maiyah.

Selain itu juga, dengan jamaah yang terbilang cukup banyak diseluruh penjuru Nusantara ataupun yang berada di luar negeri. Sampai saat ini saja, jumlah simpul yang teridentifikasi sudah mencapai 50 simpul di dalam maupun di luar negeri. Itu belum jamaah Maiyah yang belum tergabung dalam simpul, seperti lingkar maupun jamaah yang belum terhimpun dalam sebuah wadah komunitas Maiyah. Sehingga dengan hal tersebut membuat Maiyah cukup seksi untuk dimanfaatkan maupun didompengi oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Maka dari itu guna menjaga Maiyah agar tetap lestari, Kordinator simpul Maiyah mencoba menginisiasi perumusan piagam Maiyah.

Pementukan piagam Maiyah ini mengadopsi dari konsep piagam Madinah pada zaman Kanjeng Nabi Muhammad. Salah satu fungsi dari piagam tersebut sebagai pedoman keteraturan dan keselarasan hidup antara jamaah Maiyah satu dengan yang lain, maupun jamaah Maiyah dengan masyarakat secara umumnya, entah berada dimanapun tempatnya.

Mekanisme perumusan piagam tersebut diserahkan langsung oleh Koordinator Simpul Maiyah pusat kepada setiap jamaah Maiyah, baik yang tergabung maupun yang belum tergabung dalam simpul Maiyah. Mekanismenya bisa musyawarah di setiap simpul atau bisa mengusulkan secara personal.

Berkontribusi Semampu dan Sebisanya

Menyikapi hal tersebut, para penggiat Suluk Surakartan di rapat pawon bersepakat mengangkat Piagam Maiyah sebagai materi pertemuan yang ke-24. Hal tersebut agar setiap jamaah yang hadir di forum ikut andil dalam perumusan poin-poin Piagam Maiyah. Selain itu juga, karena keterbatasan pengalaman dan persinggungan setiap jamaah Maiyah berbeda-beda. Maka dirasa penting untuk menimba pengalaman dari setiap jamaah yang hadir.

Setiap kali pertemuan Suluk Surakartan selalu menawarkan sesuatu hal yang baru. Entah itu nuansa, jamaah maupun formulasi-formulasi materi. Perbedaan malam itu yang cukup terasa bagi saya, terutama formulasi materi dengan menerapkan metode FGD (Forum Grub Diskusi) dan kondisi stand laboratorium ekonomi Kartel Nusantara yang barang-barangnya mulai cemepak atau tambah banyak.  Biasanya produk yang tersedia hanya sabun cuci, kopi dan rokok. Namun di malam itu produk yang dijajakan di stand bertambah garam, minyak, gula, buku, kecap dll. Dengan perkembangan tim ekonomi yang dipandegani Mas Toni ini cukup membanggakan. Walaupun proses perkembangannya belum berjalan secara pesat. Namun setidaknya sedikit demi sedikit kesadaran para jamaah untuk berdikari dalam bidang ekonomi mulai tumbuh. Selain itu juga setelah forum selesai para jamaah banyak yang membeli barang-barang yang tersedia di stand. Dan semoga saja perkembangan tim kartel nusantara dapat mengepakkan sayapnya lebih luas. Aamiin.

Sedangkan formulasi pada sesi pertama masih mengunakan metode lama, yaitu mengunakan metode penggalian potensi dan pengakraban dengan jamaah yang baru hadir pertama kali di Suluk Surakartan. Di sesi yang kedua, Wasis, Pak As’ad dan Mas Angga (penggiat dari simpul Mocopat Syafaat Jogjakarta atau utusan perwakilan dari Koordinator Simpul Maiyah Pusat) memberikan stimulus terlebih dahulu sebelum jamaah disuruh untuk membentuk kelompok FGD. Pembentukan kelompok FGD tersebut tak lain dan tak bukan untuk gambaran dalam memusyawarahkan poin-poin yang akan diusulkan piagam Maiyah.

Dari setiap kelompok FGD tersebut, saya melihat keantusiasan dari setiap orang dalam memusyawarahkan poin-poin yang akan diusulkan. Dalam jalannya musyawarah tentunya setiap orang akan merasakan berbagai macam rasa, entah itu emosi, anyel, mengemaskan, lucu, seru dsb. Begitu pula yang saya alami di kelompak saya, semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Apalagi didalam kelompok saya terdapat Mas Yus yang menjadi salah satu jamaah Suluk Surakartan dengan terkenal “Subhanallahnya”.

Melalui musyawarah di kelompok kecil tersebut, saya dapat memetik beberapa ibroh yang tak ternilai hargannya. Salah satunya belajar bersikap bijaksana dalam menghadapi berbagai macam sikap dan karakter yang muncul di forum musyawarah tersebut. Terutama belajar untuk sabar dan bijaksana dalam menghadapi Mas Yus yang “Subhanallah sekali”. Dari situ ternyata ide dan gagasan yang dilontarkan beliau, ketika dirasa-rasakan cukup brilian. Dan usulan dari kelompok kami mayoritas terlahir dari buah pemikirannya.

Dengan adanya sebuah piagam Maiyah, merupakan pengikat bagi setiap masyarakat Maiyah secara keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari. Tentnya, Piagam Maiyah yang lahir dari setiap usulan jamaah Maiyah merupakan sebuah konsesus bersama. Seperti Dhe Herman sering tuturkan kepada kami, jamaah Maiyah Suluk Surakartan, bahwa sebuah kesepakatan yang sudah disepakati bersama harus dihormati, dihargai dan tentunya harus dijalankan bersama-sama. Karena salah satu sifat dan karakter yang dimiliki oleh seorang Ksatria ialah menghargai, menghormati dan menjalankan sebuah kesepakatan bersama. Ksatria menurut penilaian beliau, “yen teko ketok dadhane, yen mungkur ketok gegere”. begitulah pitutur yang sering beliau ucapkan pada kami. Hal tersebut lain tak bukan agar melalui Suluk Surakartan ataupun di simpul-simpul Maiyah lainnya terlahir Ksatria-ksatria kehidupan.

Maiyahan setelah Maiyahan

Sudah menjadi kebiasan bagi jamaah Maiyah di Suluk Surakartan setelah forum Maiyahan selesai, penggiat maupun jamaah masih mengadakan “maiyahan” lagi dengan membentuk beberapa kelompok-kelompok. Biasanya forum tersebut baru selesai ketika adzan subuh berkumandang atau setelah sholat subuh berjamaah di Rumah Maiyah Suluk Surakartan baru mereka pulang ketempat tinggalnya masing-masing atau langsung menjalankan rutinitas kesehariannya. Adapun topik obrolannya beraneka ragam, dari pengalaman spiritual, perekonomian, pendidikan hingga banyolan-banyolan yang mengocok perut.

Pada “maiyahan” yang menjelang fajar (yaitu sesi setelah bersih-bersih ruangan ketika maiyahan yang resmi sudah selesai, biasanya beberapa teman-teman penggiat yang masih ada disitu dilanjut dengan obrolan-obrolan ringan dan canda tawa pelepas penat – Red), Pak Bani menjadi fasilitator atau pendongeng utama. Dikalangan Jamaah Maiyah Suluk Surakartan, beliau terkenal dengan kekonyolannya. Semua jamaah yang ada di forum tersebut dari awal hingga akhir ia buatnya terbahak-bahak dengan ceritanya. Akan tetapi di lain sisi kekonyolannya tersebut, ternyata beliau menyimpan pengetahuan dan pengalaman laku hidup yang sungguh menajubkan. Dari penuturan cerita-cerita beliau, saya mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran hidup yang banyak dan tentunya itu tak saya dapatkan di pendidikan formal. Beragam pengetahuan yang saya dapatkan ketika berinteraksi dengan beliau, entah itu tentang  dunia pertanian, perhewanan bahkan hingga dunia mistikpun beliau juga menguasainya.

Menurut saya, pria yang pekerjaannya serabutan, kadang bertani, kuli bangunan dan penggali kubur tersebut, mungkin ketika didalam pendidikan formal dapat disandingkan sekelas Doktor atau bahkan Profesor. Sebab pengalaman dan pengetahuan hidup beliau sungguh menakjubkan dan bahkan terkadang bertolak belakang atau jarang disinggung di dunia pendidikan formal. Misalnya saja, beliau menuturkan bagaimana cara mendidik hewan agar nurut dengan pemiliknya, terutama hewan seperti anjing dan kucing. Menurutnya, semasa masih muda dulu, ia pernah mendidik anjing untuk diajari memburu ayam agar tidak mati ketika diserahkan pada beliau.

Selain cerita tentang dunia yang nampak, beliau memiliki pengalaman segudang tentang dunia astral. Salah satunya, pada saat ndhereke Kiai Muzzamil ziarah ke makam Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria, beliau bercerita bahwa ia berteman baik dengan “Genderuwo” yang menjadi peliharaan salah satu tetanggannya.  Dan beliau memperlakukan Genderuwo tersebut selayaknya seperti berkawan dengan manusia. Saking akrabnya beliau dengan makhluk astral tersebut, Genderuwo itu lebih nyaman berinteraksi dengan beliau daripada dengan pemeliharanya.

Menurut saya, ini merupakan salah satu potensi yang luar biasa dari sekian ribu atau bahkan juta yang dimiliki Maiyah. Tentunya masih banyak sekali potensi-potensi yang belum tergali di Maiyah. Dan tepat sekali kebijakan pembuatan piagam Maiyah malam ini yang diinisiasi oleh Koordinator Simpul Maiyah pusat, agar potensi-potensi seperti Pak Bani dan lainnya agar tetap jaga secara harmonis dan lestari.

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait