Menu Close

Slulup lan Gogo-Gogo ing Suluk Surakartan

0Shares

Slulup Sajroning Kahanan

Sedari semalam sebelum rutinan sinau bareng di Suluk Surakartan, rintikkan hujan melengkapi dinginnya malam itu. Bahkan air dari lapisan tropospher mengalir ibarat keran yang dibuka dan ditutup hingga keberangkatanku ke rumah Maiyah Suluk Surakartan yang berada di jalan Tanjung Anom No 11,  Kwarasan, Grogol, Sukoharjo. Sebelum berangkat, terlintas dalam pemikiran saya untuk tidak berangkat, karena kondisi tersebut.

Namun, ketika saya rasa-rasakan sayang betul kalau meninggalkan atau absen di forum rutinan tersebut. Apalagi fasilitator pertemuan Suluk Surakartan yang ke 25 itu Mas Helmi dan Mas Jamal dari Caknun.Com.  Walaupun suasana sore itu sangat cocok untuk mlungker di atas kasur sambil menikmati siaran televisi. Lantaran teringatngendikane Simbah tentang keberkahan di balik turunnya hujan, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke rumah Maiyah. Selain itu juga, rasa kangen terhadap berbagai suasana-suasana yang ada di Maiyahan semakin menghapuskan sedikit demi sedikit kemalasan saya. Apalagi pas forum sinau bareng di Mocopat Syafaat bulan februari ini saya absen.

Di tengah-tengah perjalanan, terlintas pertanyaan di pikiran saya. Nanti jamaah yang hadir banyak nggak ya? Pertanyaan saya tersebut berkaca pada pertemuan sebelumnya. Karena cuaca sebelum pertemuan seperti bulan lalu, yang pada sore harinya rintkan hujan hampir membasahi semua benda-benda yang ada di atas bumi Solo dan sekitarnya. Pertanyaan yang muncul dalam benak pemikiran saya tadi, ketika ditinjau dengan ilmu Maiyah jelas kurang tepat dan bisa dikatakan salah. Pertama, orang-orang Maiyah sudah banyak dibekali berbagai macam ilmu dari Simbah dalam menghadapi suatu kondisi tertentu, terutama terkait hujan. Di dalam ilmu Maiyah, hujan dengan seberapapun intensitasnya selalu membawa keberkahan di setiap tetesan air yang membasahi kita atau benda-benda di atas bumiNya. Jikalau air keberkahan itu bisa menyebabkan banjir, longsor dan berbagai bencana lainnya, itu yang salah bukan air keberkahan tersebut, tapi yang salah kita sebagai ciptaaNya yang tak mampu menjaga keselarasan hidup dengan lingkungan sekitarnya.

Kesalahan yang kedua, ternyata jamaah yang hadir di majelis malam itu cukup banyak. Salah besar ketika meletakkan indikator keberlangsungan forum Maiyahan kalau masih terpengaruh oleh jumlah atau kuantitas dan bahkan kehadiran figur Simbah Nun ataupun yang lainnya di dalam setiap forum sinau bareng. Berapapun orang yang hadir, meski tanpa kehadiran Mbah Nun, di forum Maiyahan entah dimanapun tempatnya, yang namanya majelis Maiyahan harus tetap berjalan. Dan itu tadi bukan menjadi soal untuk melaksanakan maiyahan, walaupun itu hanya 4-5 orang saja. Karena di Maiyah kita dididik untuk sepandai-pandainya menjadikan setiap orang dan segala hal fenomena yang ada di sekitar kita untuk menjadi guru. Entah siapapun orangnya, bagaimanapun kondisinya dimanapun tempatnya. Karena setiap orang ataupun fenomena yang terjadi di sekitar kita memiliki fadilah yang tersembunyi dan tinggal sepandai-pandainya kita menyikapi dan memetik hikmahnya. Begitulah pelurusan logika berfikirku dalam bermaiyah yang saya dapatkan dari Kang Kenyot, Mas Helmi dan Mas Jamal di sesi satu dan dua.

Yakin Dulu Baru Slulup lan Gogo-Gogo

Salah satu kunci dalam bermaiyah ialah yakin. Atau dalam bahasa Al-Qurannya ialah iman. Dalam hal yakin, kita nampaknya bisa belajar dari Bambang Ekalaya, salah satu tokoh dalam dunia pewayangan, dalam mengapai cita-citanya untuk mahir berpanah. Dengan segala keterbatasan yang ia miiki tak membuatnya putus asa. Walaupun ia tak bisa secara langsung belajar panah kepada Guru Durna seperti Arjuna. Berbekal keteguhan yang ia miliki, akhirnya ia mentajalikan Guru Durna dengan patung. Dari mentajalikan patung  Guru Durna yang seolah-olah selalu mengawasi dan memberikan arahan dalam berlatih panah. Singkat cerita, akhirnya kemampuan berpanah Bambang Ekalaya lebih mahir daripada Arjuna yang nota bene yang didik langsung oleh Sang Guru.

Memang terasa sulit untuk menumbuhkan sebuah keyakinan dalam diri kita terhadap sesuatu. Apalagi di era modern saat ini, sebuah keyakinan harus dibuktikan secara ilmiah (bersifat rasional dan empiris). Ketika sesuatu hal yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka berarti sesuatu itu tak benar atau tak ada. Begitulah standar keilmiahan yang diterapkan di dalam dunia modern saat ini. Dengan standar-standar tersebut, kemungkinan besar bisa membuat kita ateis. Misalnya saja dalam pandangan yang paling ekstrim penganut faham atau ideologi ini, ada dan tiadanya Tuhan harus mampu dibuktikan melalui standar tadi. Kalau Tuhan tak dapat dibuktikan melalui standar tadi berarti Tuhan tiada. Tapi pandangan mereka tersebut mudah terpatahkan dari fenomena keseharian kita. Misalnya saja, kita setiap hari pasti mengalami atau melakukan “kentut”, lha terus apa standar keilmiahan saat ini mampu mengidentifikasi warna dan bentuk dari kentut?

Begitu pula kita dalam bermaiyah. Yang terpenting kita yakin terlebih dahulu, bahwa dengan bermaiyahan menjadi tempat kita untuk belajar menggembleng diri menjadi manusia yang seutuhnya.  Selain itu juga kita harus yakin bahwa maiyah merupakan salah satu wasilah kita untuk mengenali dan mendekatkan diri kita pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Menurut saya secara pribadi, untuk mengidentifikasi apa itu maiyah sangat sulit. Jujur setelah hampir dua tahun menceburkan diri dalam Maiyah, saya belum mampu mengidentifikasi maiyah secara utuh. Dan kalau tidak salah, maiyah juga tidak mewajibkan kita untuk mengenal apa itu maiyah seutuhnya. Yang terpenting ketika kita setelah maiyah kehidupan kita sehari-hari minimal tidak merugikan orang lain dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain. Mungkin begitu kalau tidak salah.

Menurut Mas Helmi, maiyah itu sebuah komunitas yang unik. Lha bagimana tidak unik, sebuah komunitas yang sudah berdiri sekian puluh tahun tanpa ada tujuan yang tertulis, AD/ART dan lain sebagainya seperti organisasi modern saat ini, tapi masih bisa bertahan hingga sampai saat ini.

Kalau di dalam organisasi sosial, politik ataupun keagamaan setiap anggota dari organisasi modern yang serba dituntut ini dan itu. Misalnya saja di organisasi saya dulu, setiap kader dari organisasi harus dicekoki dan harus hapal kapan tahun berdiri, siapa pendirinya, apa tujuan organisasinya dan bagi calon kader dari sebuah organiasi harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan.

Lantas bagaimana mengidentifikasi dirinya sebagai jamaah maiyah? Mas Helmi memberikan jawaban yang simpel terkait hal tersebut. Menurutnya, setiap orang yang pernah bersentuhan ataupun bersinggungan dengan Simbah atau maiyah ialah jamaah maiyah. Dari uraian tersebut bisa ditarik garis kesimpulannnya, bahwa jamaah maiyah ialah semua orang dari berbagai latar belakang. Entah itu yang beragama Islam, Katholik, Kristen, Hindhu, Budha, Konghucu, Kejawen, Kebatinan ataupun yang tak berTuhan sekalipun, merupakan jamaah maiyah. Karena  maiyah merupakan sebuah universitas kehidupan bagi setiap umat manusia yang ingin belajar menjadi manusia yang seutuhnya.

Menangapi uraian dari Mas Helmi tersebut, Mas Jamal, mencoba menanyai kepada semua jamaah bagimana bisa mengenal maiyah? Mas Jefri atau Bang Tato, salah satu jamaah dan Penggiat Suluk Surakartan yang hadir di majelis malam itu, maju kedepan menceritakan persinggungannya dengan maiyah. Bang Tato, sebutan dari sebagaian dulur-dulur Penggiat Suluk Surakartan padanya, ia merupakan salah satu mantan pemain sepakbola, mantan preman sekaligus mantan pebisnis obat terlarang yang cukup besar di Solo. Namun setelah ia menikah ia telah tobat.

Pada suatu tidurnya, ia bermimpi ketemu Almarhum Gus Dur dan Mbah Nun untuk antri untuk bersalaman, tapi sebelum giliran antriannya ia takut untuk bersalaman dan mundur ke baris belakang. Dan mimpi tersebut berlangsung berhari-hari. Padahal pada saat itu ia belum tau siapa Mbah Nun tersebut.  Dan selang beberapa hari setelah mimpinya yang berulang tersebut, ia kembali bermimpi ketemu Simbah lagi dan disuruh untuk bersyahadat ulang. Anjuran untuk syahadat tersebut di ucapkan simbah 3 kali sambil menepuk pundaknya. Seketika ia terbangun dengan penuh keheranan dan penasaran terhadap siapa Simbah? Akhirnya dari penasarannya tersebut, melalui internet ia mencoba mencari-cari siapa sebenarnya Simbah yang ia temui di mimpinya tersebut. Singkat cerita, akhirnya ia menemukan siapa sosok Mbah Nun yang menemui di mimpinya. Dan akhirnya dari hal tersebut ia putuskan untuk menghadiri Majelis sinau bareng Mocopat Syafaat dan forum-forum Simbah di Solo Raya. Malah sekarang ia menjadi salah satu penggiat Suluk Surakartan yang militansi dan totalitasnya top bangetzzz.

Salah satu berkah terbesar didalam hidupku bisa diberikan kesempatan bisa sinau bareng di Universitas Maiyah Nusantara. Bagaimana tidak, meminjam istilah yang dituturkan Pakdhe Herman di majelis malam itu, saya bisa Slulup Sajroning Uni, Slulup Sajroning Sesrawungan, Slulup Sajroning Dumadi, Slulup Sajroning Rasa, lan Slulup Sajroning Kahanan dll. Universitas Maiyah Nusantara ini memang luar biasa, tinggal bagaimana setiap jamaah memproses setiap ilmu yang ia dapatkan menjadi laku dari setiap sinaunya.

Ibarat sayur tanpa garam, tak lengkap kalau forum Sinau Bareng di Suluk Surakartan tak mendengarkan tembang dari  Pakdhe Herman. Karena setiap forum rutinan, Pakdhe Herman selalu membuatkan sebuah tembang dan dinyanyikan kepada kita. Hal tersebut lain dan tak bukan, agar generasi sekarang jangan sampai lupa dan terus nguri-nguri warisan leluhur. Karena menurutnya, salah satu ajaran Islam tinggalan Wali Sanga ialah berupa tembang dan tembung. Dan inilah tembang Dhandang Gula yang melengkapi suasana sinau bareng di Suluk Surakartan pada malam itu. Lelandhesan agama kang suci // Golang gilig ngumpul saben candra // Namung Hangajab berkahe // Ngudi ngelmu lan kaweruh // Kang rinenggo budaya jawi // Nyinau lakuning rasa // Hanguri uri budaya // Labuh labet tilarane para wali // Mugiyo hangeremboka //

 

Reportase Suluk Surakartan Edisi Ke 25, tanggal 23 Februari 2018

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait