Menu Close

Sinau Bareng Cak Nun di Pamedan Mangkunegaran

0Shares

Bahagia Itu Tidak Diukur Dari Banyaknya Materi

“Bagi saya bahagia itu bukan diukur dari banyaknya materi yang saya peroleh, tetapi ketika saya bisa tidur nyenyak setelah seharian bekerja”

Itulah salah satu inspirasi yang diungkapkan Mas Silok dalam sesi pembukaan maiyah Suluk Surakartan edisi spesial Desember 2017. “Alumni” TKI Korea Selatan itu tampak berapi-api menjelaskan pengalamannya ketika menjadi TKI ilegal yang bermodal “visa-bilillah”.

Beliau berkisah tentang perjalanan hidupnya dari masa mudanya hingga akhirnya sekarang menjadi pemilik perusahaan kargo yang berkorespondensi dengan rekannya di Korea Selatan. Baginya hidup adalah tentang kerja keras dan pasrah pada pemberian Tuhan.

Ribuan jamaah yang telah memadati halaman Mangkunegaran sejak petang tampak antusias menyimak paparan beliau. Mas Fatoni, sang moderator sekaligus penggiat sel ekonomi maiyah Suluk Surakartan yang bernama Kartel Nusantara mengajak jamaah untuk kembali menggalakkan “beli produk tetangga sendiri”.

Maiyah Suluk Surakartan kali ini sangat spesial karena mendapat dukungan dari penguasa Pura Mangkunegaran sehingga acara dapat digelar di pamedan (lapangan), tidak seperti biasanya digelar di Rumah Maiyah. Cak Nun berkenan hadir dalam rangka menjenguk cucu-cucunya yang menjadi jamaah maiyah di kota Solo.

Meskipun suasana mendung, hawa dingin, dan guyuran hujan, hal itu tidak menghalangi masyarakat untuk berbondong-bondong hadir. Mereka semua menanti-nanti kehadiran sang guru bangsa seperti yang dikabarkan pada baliho sejak beberapa hari lalu. Iringan musik keroncong dan shalawatan yang dibawakan oleh Mas Plenthe beserta rekan-rekannya menyemarakkan suasana yang penuh persaudaraan itu.

Semua tetap antusias mengikuti rangkaian acara sambil menunggu-nunggu kapankan Cak Nun akan memasuki panggung yang sudah dikelilingi ribuan jamaah itu. Saya sendiri memilik ndhepipis di pojok belakang panggung.

Budaya dan Agama, Saling Berbenturankah?

Semakin malam, jamaah yang memadati pamedan (lapangan) di depan Pura Mangkunegara terus bertambah. Ribuan jamaah itu semua sama-sama ingin belajar bersama agar dapat menjalani hidup yang sejalan dengan “gravitasi” Allah. Berangkat dari tema “Ndhedher Kautaman”, mereka menanti-nanti apa yang akan dinasihatkan Cak Nun kemudian.

Setelah rangkaian acara pembukaan yang cukup panjang mulai dari ngaji al Quran hingga diskusi, tibalah saatnya Cak Nun hadir menyapa jamaah. Dengan dilatari oleh tembang-tembang Jawa dari kelompok santiswaran dari paguyuban MASAJI (Mardi Sastra Jawi) yang sangat bernuansa magis karena membawakan isi serat Wulang Reh, Cak Nun diiringi oleh Pak Bambang, Pak Munir Asad, Gusti Ratu Mangkunegara, Pak Didik, Ki Demang Mangkunegaran, dan Pakde Herman memasuki panggung dikawal oleh beberapa penggiat maiyah Suluk Surakartan.

Mengawali diskusi, Pak Didik selaku moderator mempersilahkan Pak Bambang yang merupakan sahabat Cak Nun yang pernah menjadi atase kebudayaan KBRI London. Beliau bercerita tentang pengalamannya ketika bekerja sama dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika melakukan counter atas isu terorisme global yang menyudutkan Islam. Melalui rangkaian tour Eropa Kiai Kanjeng, Cak Nun menjadi jembatan dialog bagi masyarakat Eropa yang sedang mengalami Islamofobia.

Kemudian Ki Demang menyambung dengan kegelisahan yang dihadapi para dalang di zaman sekarang. Wacana dikotomi antara agama dan budaya kian membuat para dalang dan pegiat budaya merasakan berbagai benturan yang keras di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, umat Islam mengalami gesekan satu sama lain akibat perbedaan-perbedaan semacam itu.

Merespon berbagai bahasan yang diungkapkan sebelumnya, Cak Nun mengajak para jamaah untuk bersyukur seraya memohon keampunan Allah. Allah menghadirkan dirinya sebagai pengampun dari Ghaffur hingga Wadud. Semua adalah bentuk kasih sayangnya sebagai Rabb bagi manusia. Dengan kesadaran itu, insya Allah kita akan hidup secara wajar, tidak berlebihan.

Kemudian Cak Nun mengangkat selirang pisang sambil bertanya,

“Iki jenenge apa?”

“Gedhang”, jamaah kompak menjawab.

“Lha nek wong Eskimo ditakoni, jawabe apa tetep Gedhang?”

“Boten”

“Lha terus janjane iki apa?”

Kemudian beliau menggarisbawahi betapa kita sering tidak bisa membedakan jarak antara benda yang kita sebut pisang itu dengan kata “pisang” itu sendiri. Kata “pisang” itu ibarat dalil yang disepakati oleh pihak-pihak yang memahami. Sementara benda yang disebut pisang itu sebenarnya bukanlah pisang itu sendiri.

Masih dengan peraga yang sama, Cak Nun kemudian mengajak jamaah melihat bedanya manusia dan kera dalam memakan pisang. Manusia mengambilnya dari pohon dalam bentuk tundhun, kemudian memotong-motongnya dalam bentuk lirang-nya, baru kemudian disajikan di dalam piring. Berbeda dengan kera yang langsung memanjat pohonnya langsung mengambil satu persatu untuk di makan. Nah, proses manusia mengambil pisang hingga menyajikan sebelum makan itulah yang disebut budaya. Dengan kebudayaan itulah, bangsa manusia berbeda dengan monyet.

Kesadaran untuk berbudaya itu tidak lepas dari tujuan penciptaan manusia agar senantiasa beribadah kepada Allah. Dalam aplikasinya, Allah menurunkan agama agar manusia mengerti perintah dan larangan-Nya. Tetapi Allah juga memberi ruang kepada manusia untuk menggunakan akalnya sehingga mampu mempersembahkan pengabdian.

Cak Nun memberikan gambaran proses perjalanan manusia menuju keutamaan berdasarkan nama jalan di kota Yogyakarta, yaitu Marga Utama, Malioboro, Marga Mulya, dan Pangurakan. Melalui empat fase itulah manusia berproses dari mengenal keutamaan-keutamaan hidup. Kemudia ia melakukan pengembaraan hidup. Hingga akhirnya mengerti tentang kemuliaan hidup. Ketika telah mencapai kemuliaan itu, maka setiap detik perjalanan hidupnya akan sejalan dengan kehendak-Nya, itulah makna dari pangurakan.

Jika setiap jamaah maiyah benar-benar menapaki jalan keutamaan, niscaya ia tidak akan begitu terpengaruh dengan berbagai godaan hidup. Tidak akan mudah putus asa melihat kerusakan yang ada. Ia akan sanggup untuk terus menertawakan hidup. Dalam beragama manusia juga tidak akan mudah bertengkar karena berbagai perbedaannya.

Bagi beliau agama di dunia ya hanya satu dan ia mengalami proses evolusi hingga akhirnya sempurna. Beliau mengibaratkan agama seperti kelapa, dari yang semula bluluk, berevolusi menjadi cengkir, kemudian menjadi degan, dan akhirnya sempurna menjadi kelapa. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak sabar untuk terus berproses, sehingga ada yang bertahan tetap menjadi bluluk, cengkir, dan degan. Bahkan yang sudah menjadi kelapa ternyata mengalami pemblulukan.

Senantiasa Bersama Rakyat

Ketika sesi diskusi digelar, banyak pertanyaan dilontarkan oleh para jamaah. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah terkait polemik pembangunan Bandara Kulon Progo dan bencana Lumpur Lapindo. Kasus-kasus tersebut termasuk jenis “zona merah” yang rawan digarap untuk menyulut api kemarahan dan kegaduhan nasional. Saya cukup kaget dengan munculnya pertanyaan itu, dan menjadi berdebar-debar menanti jawaban Cak Nun untuk mengklarifikasi masalah tersebut.

Maka Mas Helmi dipanggil ke depan untuk menemani beliau dalam memberikan paparan mengenai kedua kasus yang ditanyakan jamaah tersebut. Pertama-tama, Mas Helmi menekankan bahwa peran-peran sosial yang dilakukan Cak Nun selama ini hanya setelah menapat mandat rakyat. Artinya beliau tidak akan berperan dan tampil dalam upaya-upaya penyelesaian jika tidak ada permintaan resmi dari perwakilan rakyat yang terlibat. Jadi Cak Nun tidak mungkin berperan secara sosial dalam skala yang besar, jika tidak ada mandat yang diberikan kepada beliau. Itu adalah bagian dari cara Cak Nun untuk menjaga kredibilitas dan posisi beliau sebagai penengah, bukan demi kepentingan teretntu.

Terkait pembangunan bandara Kulon Progo, Cak Nun membuat perumpamaan bahwa situasinya sudah seperti anak gadis yang terlanjur dihamili. Meskipun sama-sama beratnya, pilihan untuk segera menikahkan adalah lebih baik dari pada membiarkan terjadi sengketa yang menimbulkan korban lebih banyak lagi. Itu pun proses menikahnya bukan atas inisiatif Cak Nun, melainkan pilihan sebagian besar masyarakat untuk merelakan tanahnya dijadikan lahan bandara itu dan menerima ganti rugi dari pihak BUMN.

Sedangkan terkait bencana Lumpur Lapindo, banyak tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada beliau sebagai orangnya Bakrie. Perlu diketahui bahwa berdasarkan keputusan resmi pengadilan, pihak perusahaan sebenarnya dinyatakan tidak bersalah dan tidak berkewajiban memberikan ganti rugi. Hal itu dikarenakan penyebab luapan lumpur tidak bisa dipastikan apakah karena kesalahan perusahaan atau karena pengaruh magma dari dasar bumi. Hasil konferensi internasional pun tidak bisa memberi rekomendasi yang pasti terkait hal itu.

Cak Nun sendiri terlibat dalam penyelesaian kasus itu setelah utusan masyarakat dengan membawa belasan ribu tanda tangan memberikan mandat kepada Cak Nun. Maka ketika perusahaan justru tetap memberi ganti rugi kepada masyarakat terdampak menandakan bahwa beliau mampu mengetuk pintu hati para elit perusahaan untuk mengeluarkan “shadaqah” kepada masyarakat yang berada di sekitarnya. Beliau berhasil mendorong keluarga Bakrie untuk turut bertanggung jawab secara moril kepada masyarakat meskipun secara hukum mereka tidak berkewajiban apa pun atas tragedi itu.

Saya yang tetap setia di belakang panggung itu merasakan energi yang besar terpancar ketika beliau menambahkan beberapa hal dari penjelasan Mas Helmi. Ada inspirasi yang selalu pantas untuk kita pegang, yaitu bahwa semua kerja-kerja sosial beliau tidak berlaku transaksi ekonomi. Itu menjadi pelajaran penting bagi kita generasi zaman now yang selalu memperlakukan apa pun sebagai jual beli yang berorientasi profit dan tujuan pragmatis tertentu.

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Pakde Herman kemudian menutup dengan membawakan Dhandhanggula untuk memberikan selamat kepada Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara IX  yang turut hadir pada malam hari itu karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Para jamaah pun secara tertib mencium tangan Cak Nun dan para sesepuh. Mereka pulang dengan membawa semangat baru, semangat untuk ndhedher kautaman agar setelah generasi kawak ini, lahir generasi-generasi baru Indonesia yang menegakkan keutamaan.

(Yuli Ardika Prihatama)

Tulisan terkait