Menu Close

Unlimited “N” dan Gaussian Curve

3Shares

Malam ini Februari jumat keempat, ketika hujan mulai reda, lalu lalang jalanan mulai nampak sibuk, beberapa pengendara sepeda motor mulai melepas mantel ponconya, lalu sebagian tancap gas mengejar angin menuju tujuan entah kemana.  Demikian pula laju motorku sedikit gusar aku mengejar waktu, seperti kejar-kejaran antara David Norris dan Tim Adjustment Bureau, banyak pintu-pintu tak terduga demikian pula perjalananku menuju Tanjunganom kali ini. Sedikit basah kena cipratan sana-sini, agak kebut-kebutan dan mendaratlah dengan selamat disambut baliho kotak berwarna putih dipasang ditugu seberang jalan.

Usai memarkirkan motor, satu-satu kaki berpijak pada tangga menuju tingkap dua, di belakang panggung Kang Ranto selaku jayeng mulai menyiapkan sajian dan kopi, di sudut lainnya logo apple memancar sedikit redup dari laptop anak pak Munir agak serius memandangi tombol-tombol virtual untuk menyiapkan sebuah harmoni suara yang akan meledakkan makna-makna. Di depan kawan-kawan musisi juga menyiapkan alat musik yang ditengah-tengah sinau bareng nanti akan mengendorkan urat syaraf mengimbangi beraneka ragamnya kawruh yang akan diwedar. Nyuluk dipun wiwiti.

Shalawat alfa salam dengan lembut memulai segala sesuatunya, kemudian bernyayi bersama-sama sebagai bentuk cinta juga penyerahan diri kepada Allah, juga kerinduan terus menerus pada kekasihNya.

Wajah-wajah baru memenuhi ruangan, sebagai perwakilan tuan rumah mas Wasis mengucapkan sugeng rawuh kepada mereka yang baru pertama kali datang di Suluk Surakartan. Seperti gayung bersambut wajah-wajah baru ini juga mengenalkan diri mereka didepan forum. Tak hanya wajah baru mungkin momentum keseimbangan juga langsung terjadi di suluk kali ini. Wajah-wajah lama juga datang di edisi 37 ini, seperti Kang Sholeh, Kang Bani dst. Keselerasan menjadi lengkap ketika ada pula sedulur Maiyah Maneges Qudroh juga ikut membersamai malam ini. Jauh-jauh dari Magelang, sempat kesasar-sasar akhirnya sampai juga ke tempat dimana kami berkumpul.

Entah apa magnet yang mendorong mereka, Maiyah seperti punya tempat dihati mereka. Maiyah menggerakkan, memperjalankan mereka untuk ikut nimbrung dalam rajutan persaudaraan. Tembang ‘Kangen’ melantun menyalurkan letupan mereka yang menahan rasa ingin jumpa..

Mbeber kloso

Yuli Ardika Pratama si peracik preambule duduk bersila di samping mas Wasis. Memegang mic bersama rambut digelung, kloso tema malam ini disampaikan perlahan. Mengamati berbagai fenomena negeri akhir-akhir ini yang hanya berkutat pada persoalan pemimpin. Dari guyonan, obrolan, debat di medsos, rasan-rasan ibu-ibu sampai di rumah-rumah diskusi semua seperti sibuk sesaat oleh sesuatu yang entah seberapa kadar urgensinya terhadap diri kita.

Racikan diperas menjadi sari-sari bunga yang siap dijejalkan ke alam berfikir. Mas Yuli mengintisarikannya sebenarnya jika kita bicara soal kepemimpinan sebenarnya tidak usah dulu muluk-muluk keranah kenegaraan yang akhirnya juga hanya menjadikan kita berkubu-kubu. Dengan lebih sederhana mas Yuli mewedar soal kepemimpinan dalam skup micro, yaitu keluarga. Bagaimana porsi Bapak, Ibu, anak dalam hirarki kepemimpinan keluarga, peran dan fungsinya dalam berkeluarga sebenarnya juga patut untuk direnungkan. Akhirnya progresi keseimbangan ini yang terus menerus diusahakan supaya tidak njomplang. Supaya anak-anak tidak bertengkar karena merasa tidak adil atas perlakuan orang tua mereka, juga tidak gampang keluarga hancur hanya karena omongan-omongan tetangga. Refleksinya tentu adalah dinamika kepemimpinan Indonesia sekarang, yang harus dicermati berbagai kemungkinan dan harapannya.

We were born and raised
In a summer haze bound by the surprise
Of our glory days

Demikian lirik lagu dari Adele, menambah kehangatan malam ini. Pak Munir dan Mas Arsanto duduk melengkapi irama pembicaraan. Seperti lagu diatas kita dilahirkan, dibesarkan oleh kejutan realitas masa kini juga kejayaan-kejayaan masa lalu.

The Adjustment Mind

Pak Munir mengurai pemikiran. Masa dimana tanah Arab masih jahilliyah, tribal-tribal berkuasa hanya demi memperebutkan lahan dan air. Namun  di bumi nusantara ini, di tanah yang kita cium aromanya ketika hujan tiba sudah berdiri candi-candi, dari era Kutai, Tarumanegara, sampai Kalingga. Namun pertanyaan besar yang menggumpal adalah dimana itu semua? Dimana peradaban besar itu? Kita seolah-olah terlalu mengglorifikasi masa lalu tapi sekaligus kehilangan keagungan yang kita glorifikasikan.

Berbagai pertanyaan tentu muncul, sejak kapan kita kehilangan adab, kehilangan akhlak, lalu kita terjangkiti penyakit instan yang dibawa oleh arus modern. Lebih lanjut diurai bagaimana moderisme juga membawa dampak-dampak besar dalam segala lini. Seperti banjir ditengah kota yang semakin bergeliat ‘membangun’, pengerasan tanah karena pestisida, polusi yang berdampak pada kesehatan, atau banjir informasi digital yang malah menaikkan suhu sinisme daripada memberikan khazanah pada penggunanya.

Bisa dikatakan mengapa justru muncul dampak negatif dari apa yang sering disebut usaha-usaha untuk kemajuan. Yang akhirnya hasilnya justru berkebalikan dengan apa yang dicita-citakan. Atau memang yang mereka sebut kemajuan itu justru dikendalikan oleh suatu kaum tertentu, atau sebuah tatanan tertentu? Yang mungkin kita kemudian diputus mata rantai sejarah dan tidak melanjutkan lagi apa yang sejatinya menjadi peradaban masa lalu, hingga kita tidak lagi menemui dimana keagungan Nusantara itu sekarang. Apakah tinggal mimpi? Atau kita yang tak berusaha lagi memimpikan untuk kemudian mewujudkan? Pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya terus mengganjal untuk dijawab.

Dalam sebuah selentingan Pak Munir memuji bagaimana film-film besar Hollywood terlahir dari mimpi dan imaginasi yang besar pula, kemudian diwujudkan dalam karya. The Adjustment Bureau adalah salah satu yang disebut. Film ini singkatnya bercerita tentang takdir seseorang yang dikendalikan oleh “tatanan” tertentu namun Norris pemeran utamanya berusaha terus menerus menjadi dirinya sendiri, kembali ke “rencana awal” atau personalitas dari pemeran tanpa mau diganggu oleh “tatanan takdir”. Konsep ini sebenarnya menarik sepanjang yang pernah saya tangkap film ini, berbicara tentang Kehendak Diri dan Kehendak Tuhan lewat staff-staffnya. Bagaimana kehidupan secara virtual diatur oleh ‘tatanan’ untuk keseimbangan realitas dunia manusia, namun manusia juga punya kehendak subjektif untuk menentukan dirinya sendiri. Ulak-alik kesadaran kehendak.

Hal demikian pula juga terjadi di ranah peradaban, mungkin juga proses diskontinuasi sejarah oleh datangnya peradaban baru kemudian menutup daya serap kita terhadap teknologi masa lalu. Di masa modern kita mungkin menganggap mantra-mantra itu seperti orang tak jelas, kuno dan gagal teknologi karena peradaban kita memang dijauhkan dari teknologi itu. Padahal bagi mereka yang bisa mengaplikasikan mantra-mantra memang seperti password untuk membuka sesuatu.

Seperti aplikasi Facebook, yang ketika ingin melihati isinya kita akan disuguhkan kolom username dan password. Mungkin jika kalian kembali ke masa lalu hal sama yang akan dituduhkan kepada kalian, karena bagi mereka dimasa lalu orang duduk diam memegang gadget, sibuk berselancar di internet, bisa video-call ke seseorang itu juga merupakan tindakan klenik yang sama seperti tuduhan ketika orang-orang tua kita mengutarakan mantra-mantra karena ketidaktahuan kita. Atau seperti Matahari yang sebetulnya terus bersinar tetapi keterbatasan kita mengejar rotasi bumi inilah yang menimbulkan konsep siang dan malam. Maka mengutip mas Sabrang penting bagi kita untuk selalu melakukan penyesuaian sudut, jarak, sisi, dimensi, perpektif pandang. Adjustment.

Unlimited “N” dan Gaussian Curve

Mas Arsanto melengkapi bagaimana petuah orang tuanya adalah wong jawa aja lali jawane. Disaat yang sama juga mempertanyakan dimana etos kerja orang Jawa dulu dalam membuat teknologi, dalam membuat susunan peradaban yang sangat kompleks dst. Geliat Moderisme yang erat dengan percepatan berujung pada budaya instan. Kita kemudian kehilangan kesetiaan pada proses, proses yang harus terus menerus dilakukan sampai mimpi-mimpi, harapan kita terwujud.

Selanjutnya mentadabburi Pemimpi-(n) Mas Arsanto mengutarakan soal dimensi dalam matematika bahwa titik netral bilangan bulat ada di angka 0. Sebelah kanannya adalah bilangan bulat positif, sebaliknya negatif. Begitu dari 1,2,3,4,5 …. dan -1,-2,-3, -4, -5 … dst tak terbatas. Dan simbol yang dipakai untuk ketidakterbatasan ini adalah “n”. Sementara secara substansi Yang Tak terbatas itu hanya Allah semata. Akhirnya seperti impian, harapan yang tak terbatas dalam hidup, bekerja, bersosial pun ujungnya harus pada Pemilik ketidakterbatasan itu sendiri. Niatkanlah segala sesuatu untuk Allah, libatkanlah Dia dalam segala sesuatunya.

Mas Wasis kemudian melempar ke jamaah untuk melengkapi perspektif. Ada mas Alif yang bercerita panjang lebar soal mimpi dari kitab Taurat seperti perjalanan Hijrah Musa ke Tanah Perjanjian, tanah yang diimpikan untuk dimiliki juga kisah mimpi Nabi Yusuf yang kemudian menjadi tokoh penting setelah menafsirkan mimpi tentang masa depan Mesir. Lalu ada Mas Hanif yang mengutarakan bahwa kualifikasi pemimpin harus jadi pemimpi dulu (punya visi yang jauh kedepan), juga impiannya sendiri yang kemudian menjadi pertanyaan “Kenapa manusia yang sekecil ini hidup di bumi yang juga kecil, sementara semesta begitu luas?” ya begitu luas dengan hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang di angkasa.

Lagu Padi ini kemudian dilantunkan mas Aziz sebagai jeda perbincangan. Kopi tersaji di belakang, juga beberapa camilan pengganjal perut menjadi teman mendengar Mahadewi. Setelah nembang mas Aziz ikut merespon dengan slenge’an ”jangan-jangan kita ini dikibuli oleh nenek moyang kita, yang kemudian terus menerus kita menglorifikasikan masa lalu”. Lalu komentar berikutnya soal etos kerja yang mencolot  dari mulutnya adalah orang Jawa sekarang cenderung mengandalkan jurus “Power of ngko sek” jurus ampuh untuk menggenapi kemalasan kita. Secara substansi kita menghianati tugas kita untuk mengkhalifahi bumi dengan kemalasan, dan kurang gigih dalam berproses.

Budaya mau-cepat, dan kemalasan berfikir ini yang dilanjutkan pak Munir sebagai sebuah kemunduran. Kemunduran yang berakibat pada hilangnya sebuah ilmu Jawa. Ilmu titen. Bagaimana niteni adalah proses panjang mengamati segala sesuatu dengan sangat serius dalam jangka waktu yang lama, kemudian menangkap pola-pola, baru menyimpulkan sebagai shortcut untuk menapaki masa depan agar lebih baik.

Sebagai seorang yang ekspert di dunia bisnis dan ekonomi pak Munir juga menceritakan bahwa sebuah produk pasti akan mengalami penurunan permintaan. Yang dalam waktu bersamaan sebelum permintaan menurun produsen harus menciptakan produk baru yang segar supaya diminati konsumen dengan kata lain harus selalu ada visi-visi besar selagi satu produk laku keras dipasaran, disitulah timing untuk bermimpi tentang masa depan perusahaan, menentukan arah, menangkap peluang juga mendesain produk-produk baru. Seperti siang-malam produk juga ada masa turun permintaan, jika titen pada waktu itulah produk harus segera diturunkan dari pasar. Menunggu mentari datang lagi. Teori ini kita kenal sebagai Gaussian Curve.

Pak Munir juga niteni soal kutub magnet, jika kutub U dan S yang ada penyatuan, namun jika kutub S dan S atau U dan U yang ada adalah penolakan. Jika diaplikasikan di dunia kerja bagaimana sebuah kerja berdasarkan jalinan persahabatan yang akrab seperti kutub U dan S terjadi penyatuan, muncul belief system yang jika diteruskan tanpa melambarinya dengan konsensus-konsensus yang jelas maka kita kehilangan kejernihan, kewaspadaan terhadap profesionalisme. Maka banyak orang akhirnya lebih enak bikin deal dengan orang yang tidak kenal sekalian, berlawanan kutub sekalian, karena belief system-nya lemah. Disitu sangat mudah untuk tetap waspada. Yang akhirnya jika profesionalisme tercapai target bisnis juga mudah tercapai. Dua ilmu titen yang menarik!.

Mas Bani yang hitam gagah seperti Werkudara, omongannya yang ceplas-ceplos melengkapi kejernihan berpikir. Yang tertangkap oleh saya adalah “aja senden wit gedhe” jangan terus menerus bersandar pada pohon besar, yang mengingatkan kita untuk agar tidak tergantung pada orang lain yang punya kekuatan besar mengayomi kita, sedikit demi sedikit kita harus mandiri, berdikari. Hidup petani!

Di penghujung Suluk beberapa jamaah dari UMS membedah istilah kepemimpinan dalam Islam, saya juga ikut nambahi soal cerita Kuasa Ramalan dari HB I ke Pangeran Diponegoro, dan ada juga ngudarasa jamaah yang disampaikan dan dijawab langsung oleh Mas Arsanto dan Pak Munir, sekilas terlihat ala-ala workshop ekonomi poin-poin dijawab cespleng, seperti lagu mas Sabrang yang belum direkam entah apa judulnya tapi liriknya bisa jadi rangkuman pertanyaaan. Temukan Aku di fatwa hatimu. Kembali keatas bahwa dalam kebimbangan selalu ingat Dia yang terus menerus bersemayam didalam kalbumu. Mari menjadi pelaku (pe-) yang terus menerus bermimpi, bervisi, mencoba menelisik mimpi, menangkap pendaran wahyu, terus menerus bersetia pada proses secara tidak terbatas (n) mengetuk pintu Pemilik Ketidakterbatasan.

Udara pagi kemudian masuk melalui jendela-jendela, memungkasi Suluk Surakartan kami berdiri merapatkan diri, langkah-langkah jamaah kudengar dari depan, kami semakin merapat. Hening sejenak. Merefleksikan diri dan mengucap syukur atas semua curahan ilmu. Lampu padam.

Shohibu baitiy…….

Shohibu baitiy…….

(Indra Agusta)

 

 

Tulisan terkait