Menu Close

Rahayu-Barokah

0Shares

Ada seorang Kiai yang mengasuh sebuah Majelis Ilmu. Dimana Majelis ilmu tersebut diikuti oleh ratusan hingga ribuan jamaah. Seminggu / sebulan sekali diselenggarakan kajian rutin di tempat Majelis tersebut. Jamaah berbondong-bondong hadir. Datang dari segala penjuru. Untuk menyimak dan menimba ilmu dari sang Guru.

Di tengah ribuan Jamaah, sang guru mulai sesorah. Menyampaikan ceramah agama. Menyitir ayat, mengutip hadits serta menyelipkan pesan-pesan bijak. Kadang juga diselingi tanya jawab. Sampai seluruh jamaah mafhum. Sendiko dawuh. Sami’na wa atho’na.

Di tempat yang lain, ada seorang ‘Kiai’ yang juga mengasuh forum Majelis ilmu. Bedanya ia tidak menetap. Tidak manggon pada satu tempat. Ia pencolotan kesana kemari. Mabur sana, menclok sini. Setiap hari dilakoni. Dari timur ke barat. Desa ke kota. Dalam dan luar negeri. Seluruh waktu dan hidupnya habis di gilir masyarakat yang tak henti mengundangnya.

Ia tidak menunggu jamaah datang menemuinya. Tetapi ia yang datang menemui jamaah. Ia tidak suka memberi dogma. Sukanya mengajak mengelaborasi bersama. Ia tidak minta dihormati apalagi di kultuskan. Tetapi ia sangat ditakdzimi banyak orang. Ia sama sekali tidak minta dipuji, diikuti dan dikagumi oleh siapa-siapa. Tetapi dimana pun berada, ia selalu dikrubungi, dinantikan kehadirannya, diciumi tangan-nya, di peluk tubuhnya dan orang-orang antre ngalap berkah darinya.

Manakah yang lebih berat dalam menjalaninya. Yang duduk santai menunggu jamaah datang kemudian ceramah. Atau yang harus cucul keringat serta menempuh jarak terlebih dahulu baru kemudian bisa menyapa dan mengajak jamaah sinau bersama.

Dan mana yang lebih tinggi derajatnya, apakah murid mendatangi guru atau guru yang mendatangi murid. Kalau murid mendatangi guru itu wajar. Biasa. Sudah seyogianya. Namun jika guru yang mendatangi murid, itu baru luar biasa. Bersebab idiom tidak ada murid, tidak ada guru teguh di pegangnya, maka ia tak pernah menganggap dirinya guru. Tak pernah mengaku dirinya hebat, benar, apalagi besar. Kadang bisa berlaku sebagai mursyid. Kadang juga sanggup memposisikan diri menjadi murid. Hidup itu dinamis. Luas. Luwes. Maka dari itu, sampai hari ini ia masih ON, terus pencolotan ke berjuta arah. Menemani umat. Melayani masyarakat. Setia menjalani peran-nya untuk men’cincin‘kan Nusantara. Tanpa keluh, nir-kesah.

Wahai lelaki tua, apa sejatinya yang kau cari selama ini? Bukankah separuh hidupmu lebih telah kau habiskan untuk mengelus-elus bumi pertiwi. Tidak cukupkah itu menjadi tiket VIP bagimu untuk masuk ke sorga jannati…

Tahukah engkau, 27 Mei ini usiamu menginjak 65 tahun. Usia senja. Sepuh. Menua ragamu. Memutih rambutmu. Mengeriput tulang pipimu. Toh, memang sudah wancinya engkau mengistirahatkan badan dan pikiran. Namun nyatanya itu sama sekali tak berlaku dihadapanmu.

Orang Jawa menyebut angka 60 itu bukan nempuluh, melainkan sewidak. Sewidak bermakna “sejatine wis wayahe tindak”. Tindak itu mati. Gugur. Pejah. Meninggalkan alam dunia, menuju ruang barzakh.

Sebuah hadist shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda ;

“Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi)

Secara tersirat itu menjadi ‘ancaman’ bagi kita yang mengaku santri sekaligus anak-cucunya. Sudah siapkah kita untuk berpisah dengannya. Sediakah kita untuk merawat kebun subur yang telah ia semai benih-bibit unggul. Juga mampukah kita untuk setia menempuh ‘Jalan Sunyi’ yang telah diajarkan-nya selama 65 tahun ini…

Maafkan, tidak ada yang dapat kami sembahkan di hari kelahiranmu wahai sang Begawan. Selain doa dan cinta. Dari hati, dengan hati, saya izin melantunkan syair lagu ini untukmu.

Akhirnya…kutempuh jalan sunyi / Mendendangkan lagu bisu / Sendiri di lubuk hati / Puisi yang ku sembunyikan dari kata-kata / Cinta yang takkan kutemukan bentuknya /

Setiap kali mendengar atau mendendangkan lagu ini, tumpah airmata. Seberat apapun penderitaan yang kau derita tak pernah kau ungkap. Kau tutup rapat-rapat. Bisu dalam kalbu. Dan sebesar apapun beban yang kau sangga nyatanya mampu kau sembunyikan. Sembunyikan dari kata-kata. Kau simpan sendiri jauh dilubuk hati.

Akhir kata, kepada Pak Munir Asad, SS, dan Simbah (EAN), kami haturkan sugeng tanggap warsa. Rahayu-Barokah.

Al fatihah.

 

Gemolong, 27 Mei 2018

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait