Menu Close

Mbah Nun, Maafkan Saya

0Shares

 

Siapa yang tak kenal dirimu, mungkin hampir seluruh Negeri ini terkena cipratan kebijaksanaanmu langsung atau tidak langsung.

5 tahun bermaiyah mungkin sangat muda dibanding para sesepuh, berkali-kali duduk-duduk melingkar, yang terbangnya arus berfikir kau ajak meliuk-liuk, meloncat tinggi, menghujam jatuh bahkan menikmati hal-hal yang biasa, memurnikannya untuk menjadi hal yang luar biasa.

Memandang dari jauh, sekali-dua kali mendekat akhirnya tak mengurangi kekagumanku padamu. Bagaimana kamu bisa dibilang manusia biasa, sementara apa yang Tuhan titipkan di setiap pendaran, jutaan gelombang ilmu dan dzat-dzat kebijaksanaan mampu kau tangkap dari udara, mensederhanakannya hingga kami yang timur ini mampu menikmatinya sebagai bubur sereal tempat kami mengunyahnya.

Memujamu mungkin tak pernah ada di kamus pikiranmu, tapi ini jalan peniadaanmu adalah pilar bagi keadaanmu. Seperti sang Isa bersabda

“Siapa yang mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya”

Negasi dari sabda ini adalah akibat dari peniadaan, yang merelakan nyawa dan hidupnya sesungguhnya ia yang benar-benar menikmati hidup, hidup yang sejati dan kau berposisi disini mbah. Lalu bagaimana aku tidak ingin mencium tanganmu, karena justru kau tak mengharapkannya, namun engkau layak.

Jutaan pemikiran, perbuatan, perlawanan atas berbagai ketidakadilan, pengayoman atas perseteruan, dan perdamaian dari yang berkonflik, maupun yang baru berpotensi konflik sudah kau contohkan. Keluasan kebijaksanaan, tradisi literasi dan budaya kepenulisan juga tak elak kau didepan sebagai imam. Setiap tahun terus saja mengalir esai dan wacanamu, selain sisi-sisi tandang yang  kau pernah upayakan.

Maafkan saya mbah, sebagai anak muda yang sangat terilhami oleh arus deras jalan sunyimu masih tak mampu berbuaf apapun. Masih sibuk bahkan hanya untuk menjadi diri sendiri perlawanan terhadap gelombang besar trend terus menerus diusahakan setiap hari.

Maafkan saya mbah yang di banyak tikungan jaman, masih sama sekali tak berkuasa atasnya. Semua masih dalam ikhtiar kami, yang entah kapan prosesnya akan menuju.

Maafkan saya mbah,  yang disepanjang perjalanan masih gagal mencerna semestamu, meski sudah bukan waktunya diloloh seperti anak burung.

Maafkan saya mbah,  yang dengan sepanjang umurmu mengejawantahkan keadilan, kemanfaatan tapi kami masih gagal mengusahakannya. Masih jauh langkah kami untuk memperbesar dampak dari luasnya lautan cintamu.

Maafkan saya mbah, yang dengan laku puasa dan tirakatmu setiap hari, prosesi meneguhkan cintamu pada Allah, Muhammad dan Semesta kami masih sama sekali gagal meng-copynya. Seringkali kami justru larut dalam ambisi, rekayasa, subversi, penelusupan pihak-pihak yang justru berlawanan dengan apa yang kau cita-citakan, meskipun tidak langsung ternyata ilmu kami masih dangkal dan kurang waskita menangkap jangka jaman seperti bebal telinga ketika berkali-kali kau ingatkan.

Maafkan kami mbah, ketika kau menyuruh untuk pelajari dan menjadi manusia kami seringkali belum lulus, masih saja dalam kesempitan dan keadaan, kami (terpaksa) harus menjadi macan, harus membunuh untuk perut kami terisi, harus menjadi buaya yang membunuh ikan-ikan tak berdaya.

Atau justru kami mendekat kepada kesombongan, saking besarnya cintamu justru membuat kami lupa, bahwa sebenarnya sama sekali tidak ada yang harus disombongkan.

Segala sesuatunya menuju waktu Mbah, semoga karena cintaku padamu, tak menutupi cinta utamaku pada Gustiku justru semakin merekatkan tresnaku. Yang dimana ada dan peniadaanmu adalah jalan yang sangat khusyuk menuju apa yang ditebarkan Gusti.

Maafkan saya, yang belum memberi arti apa-apa. Dibalik semua yang kau berikan dan kau menetapkan kemerdekaannya atas segala benih yang tertanam dalam fikiran.. Semoga segera menjadi upaya aplikatif dan reflektif, seperti ketakukanku agar kau tak merasa sendiri Mbah. Kami cucu-cucu mu membersamaimu menyorong rembulan, meski peredaran jinantra alamnya Jenengan dan saya tak punya kuasa atasnya.

Selamat 65 tahun, Mbah Nun.

Rahayu, rahayu ingkang sami pinanggih..

Kleco Wetan, 28 Mei 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait